ß Sebelumnya di Chapter 3 : Tragedi Ketiga
.
“Gani?
Tadi kau berpikir untuk berbuat mesum pada adikmu, bukan?”
.
“HAH?!!”
.
“LAPORAN,
PAK!! JASAD MUTILASI KEMBALI DITEMUKAN DI TAMAN KOTA!!”
.
“APA?!!”
.
“BA-BAGAIMANA…
BISA..?!!”
.
“Hmm?
Kenapa, kak?”
.
“Ke-kepala
kakak pusing!! Seperti mau… meledak…!! Aaaahh!!”
.
“KAK
MELODY!!”
.
à
.
Chapter 4 : Korban Keempat
.
.
~~~Author PoV : City~~~
.
“Pa-paman
bercanda, ‘kan?!! Gani mohon paman tidak berbohong!!” Ucap Gani ketakutan
ketika selesai mendengar laporan dari ayah Cindy itu..
.
“Paman tidak sedang
bercanda dan berbohong, lokasi terduga terjadinya pembunuhan berada di dekat
rumahmu. Sebaiknya kamu segera pulang ke rumah, paman dan bawahan paman pun
sedang menuju kesana. Semoga saja tidak terjadi hal buruk terhadap Anin!!” Ucap
Arie berharap yang kemudian mengakhiri panggilannya..
.
Tanpa pikir
panjang, Gani pun langsung berlari keluar rumah sakit dan menuju parkiran, dia
nyalakan motor dan tancap gas pulang ke rumahnya untuk melihat keadaan Anin dan
Melody sambil berdo’a jika korban yang diduga pembunuhan itu bukan salah satu
dari mereka..
.
~
.
Saat sampai di
dekat rumahnya, dia memang melihat keramaian dan cukup banyak polisi. Dia
segera mengambil jalan memutar untuk sampai rumahnya..
.
‘BRAK..’
.
“ANIN!! MELODY!!
DIMANA KALIAN?!!” Teriak Gani setelah menggebrak pintu rumahnya. Dia langsung
pergi ke ruang keluarga, mereka tidak ada, di kamar mereka pun tidak ada.
“ANIN!! MELODY!!”
.
“Hmm? Kak?”
.
“?????”
.
“Kakak kenapa
teriak-teriak? Kita lagi di dapur, kak. Lagi masak” Jawab Anin yang tiba-tiba
datang dari dapur yang disusul Melody. Sepertinya mereka memang sedang memasak,
terlihat dari mereka yang memakai celemek dan sedang memegang sayuran..
.
“Ehh?” Gani
kebingungan, tapi dia langsung berlari pada mereka berdua. “Kalian nggak
apa-apa, ‘kan? Nggak ada yang berdarah, ‘kan? Tubuh kalian masih utuh, ‘kan?”
Tanya Gani histeris sambil memeriksa anggota tubuh mereka satu persatu..
.
“Ihhh!! Kakak
kenapa? Kita nggak apa-apa, kak. Kakak kayak yang mau merkosa kita aja!!”
Protes Anin..
.
‘HUG..’ Gani
langsung memeluk mereka berdua. Perasaanya sangat lega ketika melihat mereka
berdua baik-baik saja, beruntung bukan salah satu dari mereka yang menjadi
korban..
.
“Kak? Kakak
kenapa?” Tanya Anin yang melunak. Dia merasakan ketakutan dalam diri kakaknya,
ketakutan yang sangat besar. Kembali Anin tidak pernah melihat kakaknya seperti
ini..
.
“Syukurlah
kalian selamat!! Kakak dapet berita kalau di deket rumah ada kematian aneh
lagi, kakak pikir itu salah satu dari kalian, tapi ternyata bukan!!” Jelas Gani
ketakutan. Dia pererat pelukannya..
.
“Hmm… Kami tidak
apa-apa, Gani. Lagipula, aku akan melindungi adikmu juga. Kau sudah
menyelamatkanku, aku berhutang nyawa padamu” Jawab Melody sambil menenangkan
Gani. Tapi kali ini Anin yang ketakutan ketika mendengar ada lagi koban yang
mati secara tidak wajar..
.
Gani meminta
mereka untuk diam di rumah, Gani berniat untuk melihat sendiri siapa yang
menjadi korbannya. Dia segera keluar rumah dan pergi menuju keramaian, dia
sedikit memaksakan diri untuk sampai di yang paling depan hingga dia sampai di
garis polisi. Jasad sedang ditutupi oleh kain, tetapi area sekitarnya dipenuhi
oleh darah dan ada semacam daging cincang. Sepertinya mereka menunggu Arie yang
mereupakan atasan mereka yang memang belum datang..
.
“Siapa lagi
yang- EHK!!? I-ITU…” Ujar Gani yang tiba-tiba terkejut ketika melihat sebuah
kalung yang sangat dia kenal berada di atas kain itu. Gani tau betul kalung itu
milik siapa. Ya, kalung itu milik Shania dan dia yakini..
.
Dia segera melewati
garis polisi, beberapa polisi langsung menahan dan mendorong Gani kembali ke
belakang garis, tetapi Gani berontak dan terus memaksakan diri untuk sampai
pada jasad itu..
.
“LEPAS!!
LEPAAAASS!! SAYA TAU SIAPA DIA!!” Teriak Gani berontak. Polisi tidak mau
mendengarkan alasan Gani dan terus menahan Gani, tetapi pada akhirnya Gani
berhasil lolos dan langsung membuka kain yang menutupi kepala korban..
.
“!!!??” Tubuhnya
serasa ditinju oleh benda keras ketika melihat Shania yang sudah terbujur kaku
dengan kulit putih pucat seperti kehabisan darah. Ternyata benar perkiraannya
jika kalung itu milik Shania, dan korban itu adalah Shania..
.
“Hei… Shania…?”
Seru Gani pada Shania, tentu saja Shania tidak akan pernah bisa menjawab lagi.
Polisi segera menarik kembali Gani menuju batas, kembali Gani berontak tidak
mau menjauh dari jasad Shania. “SHANIA!! HUAAAA!!” Teriak Gani lantang. Hatinya
hancur ketika melihat wanita yang dicintainya menjadi korban kematian tidak
wajar. Dia angkat tubuh Shania, dan memeluknya sambil menangis keras. Semuanya
hanya terdiam melihat Gani yang menangis memeluk jasad kekasihnya..
.
Tidak lama
kemudian, Arie pun datang. Dan dia terkejut melihat Gani yang memeluk korban yang
mati secara tidak wajar itu. Dia dekati Gani dan melihat wajah korban itu..
.
“Shania?!!”
Gumam Arie terkejut. Ya, Arie tau siapa orang yang sedang dipeluk Gani. Dia tau
dari anaknya yang memang sering curhat padanya tentang kehidupannya dan
sahabatnya..
.
Arie segera
menenangkan Gani, tetapi Gani tidak mau mendengarkan perkataan Arie. Ketika
Arie mencoba memisahkan Gani dari Shania, Gani malah semakin mempererat
pelukannya pada Shania. Dia bukan tipe orang pemaksa, melihat hati orang yang
sedang hancur kemudian dipaksa melakukan sesuatu tidak dapat dia lakukan. Dia
meminta obat bius pada anak buahnya untuk menenangkan Gani. Beruntung Gani
tidak berontak dan obat bius sukses disuntikan pada Gani. Beberapa saat
kemudian Gani pun melemas dan akhirnya tidak sadarkan diri..
.
“Segera amankan
jasad dan TKP!! Rian? Aku ingin kau membawa anak muda ini ke rumah sakit yang
sama dimana Ferdi dan Nabilah berada!! Beritahu apa yang terjadi pada mereka
dan minta mereka untuk mengurus terlebih dulu adik Gani!! Setelah itu, cepat
segera kembali ke sini!!”
.
“SIAP, LAKSANAKAN!!”
.
Arie segera
memerintahkan anak buahnya untuk mengamankan TKP dan membawa jasad itu ke rumah
sakit, lagi. Ya, untuk beberapa alasan, Arie sudah mulai lelah dan kesal
memerintah perintah yang sama dalam waktu yang sangat dekat. Saat sedang bersiap,
salah satu anak buahnya datang dan melaporkan apa yang berhasil ditemukan..
.
Menurut para
saksi yang sedang bersantai di depan rumahnya, saat itu jalanan memang sedang
kosong dari yang berlalu lalang. Kemudian korban datang dari arah kanan, dan
ada seorang lagi yang datang dari arah berlawanan. Ketika mereka berpapasan,
saksi melihat orang asing yang datang dari arah berlawanan menyentuh pundak
korban. Setelah mereka saling melewati, tiba-tiba korban darah yang sangat
banyak keluar dari mulut korban, seperti seorang yang muntah. Darah itu
bercampur dengan daging dan semacamnya yang kemudian korban meninggal di
tempat..
.
“Jadi, apa yang
dimaksud mereka adalah bagian dalam tubuh korban diledakan sesuatu setelah
korban disentuh orang asing?!! Apa maksudnya itu?!! Sungguh tidak masuk akal
sekali!!”
.
“Siap!! Menurut
kami, korban seperti diledakan dari dalam. Daging yang keluar bersamaan dengan
darah memang merupakan organ dalam. Dari yang berhasil kami selediki, ada
lambung, jantung, paru-paru, dan hati”
.
“Baiklah, segera
lakukan otopsi pada korban. Lalu, bagaimana dengan ciri-ciri orang asing itu?”
.
“Siap!! Menurut
para saksi, orang asing itu seorang wanita cantik, tubuhnya setinggi bahu
korban ketika mereka berpapasan, kulit putih, rambut hitam pekat panjang,
memakai baju merah dan jeans sampai paha, tanpa alas kaki, dan terlihat
samar-samar cincin biru di ibu jari tangan kirinya”
.
“Hmm? Cincin
biru di ibu jari tangan kirinya?” Gumam Arie sambil mengeryitkan dahinya. “Cincin biru di ibu jari tangan kiri… rasanya
aku pernah mendengar hal itu sebelumnya” Pikir Arie penasaran..
.
“Baiklah, apa
ada lagi?”
.
“Siap!! Sampai
saat ini kami sedang mencari petunjuk kemana perginya orang misterius itu,
tetapi kami sedang kebingungan karena semua saksi yang kami tanyai memiliki
jawaban yang berbeda”
.
“Apa maksudmu?”
.
“Siap!! Begini,
pak. Ketika kami bertanya pada saksi, mereka semua menjawab tau dan pernah
melihatnya. Tapi ketika kami menanyakan arah pergi, mereka pasti menjawab
berbeda. Kami juga tidak tau apakah itu kebetulan atau tidak, tapi semua yang
kami tanyai pernah melihatnya, tidak ada yang tidak pernah melihatnya”
.
“…..” Arie
terdiam mendengar penjelasan anak buahnya. Jika seperti itu jadinya, pelaku
akan sulit ditemukan. “Apa kalian berpikir jika mereka semua bersekongkol?”
.
“Siap!! Saya
rasa tidak, pak. Mereka hanya warga biasa, pak. Tidak ada yang mencurigakan
dari mereka”
.
“Hmm, aku harap
perkataanmu memang benar” Balas Arie. Kemudian setelah semuanya beres, dia
langsung pergi ke kantornya. Laporan dari anak buahnya benar-benar membuatnya
penasaran, yaitu tetang cincin biru di ibu jari tangan kiri. Dia seperti pernah
mendengar hal itu, tetapi dia tidak tau kapan dan dimana dia mendengar. Sebelum
berpikir tentang petunjuk itu, dia ingin menonton kembali video pembunuhan
tidak wajar yang berada di taman..
.
.
~~~Author PoV :
Hospital~~~
.
“Kau bercanda,
‘kan?!!”
.
“Tidak, Cindy.
Aku tidak tau siapa wanita itu, tetapi Gani memang menangis memeluknya sambil
meneriakan nama Shania”
.
“!!!!!” Mereka
langsung melihat kearah Gani yang tertunduk diam, ternyat dia sudah sadar,
padahal baru saja dia diberi obat bius. Bahkan ketika Alfi memanggil namanya
dan menggerakan tubuhnya, Gani tetap diam. Merasa tidak ada yang perlu
dilakukan lagi, Rian pun pamit pulang karena masih ada tugas lagi di kantor..
.
“Oh ya, hampir
saja aku lupa memberitahu pada kalian. Pak Arie meminta pada kalian untuk
mengurus Anin yang sedang berada di rumah”
.
“Ya, baiklah.
Kami mengerti apa yang harus kami lakukan, terima kasih banyak karena sudah
mengantar Gani ke rumah sakit. Mungkin sebentar lagi kami akan menjemput Anin”
Ucap Cindy..
.
Ketika Rian
pergi, tidak berselang lama Gani pun mulai mengankat kepalanya..
.
“Gani…”
.
“Gue pulang
dulu, lu semua hati-hati di rumah sakit”
.
“GANI…!!”
.
“Tenang, lu
semua nggak perlu khawatir. Mungkin ini sedikit kasar, tapi sekarang gue lagi
nggak butuh kalian, gue sekarang lagi butuh orang di rumah doang, adik gue”
.
“…..” Mereka
terdiam. Tentu saja mereka tidak bisa memaksakan Gani untuk tetap berada di
rumah sakit walau mereka berniat membawa Anin ke rumah sakit. Tapi Gani sedang
terguncang, mereka tau itu. Jadi mereka menyerahkan semuanya pada Gani, mereka
tidak akan ikut campur kecuali Gani menjadi gila atau diluar kendali..
.
.
~~~Author PoV :
City~~~
.
Gani sampai di
rumah, adiknya menyambutnya dengan biasa. Tapi dia langsung saja panik ketika
melihat kakaknya yang pulang dengan aura yang berbeda. Dan Gani langsung
memeluk Anin dengan erat, adiknya kebingungan dengan tingkah kakaknya yang
sangat aneh hari ini..
.
“Kakak kenapa?”
.
“Korban yang di
deket rumah itu Shania, kamu harus sabar” Jelas Gani tanpa basa basi dan langsung
pada intinya..
.
“Ehh?!! Ka-kakak
bohong… ‘kan?!!”
.
“Nggak, Anin.
Fakta itu. Kalau masih nggak percaya, kamu bisa tanya kak Cindy sama yang
lainnya atau paman Arie”
.
“???!!” Dan Anin
langsung menangis keras. Shania memang teman kelas Anin, mereka berteman sejak
awal SMP dan selalu satu kelas hingga saat ini. Gani tau perasaan adiknya
bagaimana, perasaan adiknya jauh lebih hancur daripada perasaannya karena Anin
jauh lebih mengenal Shania dari pada dirinya..
.
Melody datang
dan kemudian memasang wajah sedih, sepertinya dia membaca pikiran Anin dan
Gani. Dia mendekat pada mereka dan memeluk mereka berdua. Tangisan Anin semakin
meledak ketika Melody memeluknya dari belakang. Sekarang bukan lagi tentang
kehilangan Shania yang gadis cantik itu pikirkan, tetapi bagaimana jika dia
kehilangan kakaknya dan Melody. Sebuah mimpi paling buruk baginya jika melihat
mereka berdua meninggal lebih dulu..
.
‘Tenang,
kakak pasti jaga kalian berdua!! Kakak janji!! Nggak bakalan kakak biarin hal
buruk nimpa kalian berdua!!” Pikiran Gani terbaca tidak sengaja oleh
Melody. Wanita cantik itu tersenyum mengetahui Gani yang akan melindungi
dirinya dan Anin apapun yang terjadi..
.
“Terima
kasih banyak” Ucap Melody dalam hati dengan sungguh-sungguh. Ya,
dia bersyukur bisa bertemu dengan Gani yang penuh kasih sayang terhadap
keluarganya..
.
.
~~~Author PoV :
Police~~~
.
Arie yang berada
di ruangannya sedang menunduk, dia tidak percaya apa yang dia lihat setelah
melihat tayangan kasus di taman. Setelah mengulangnya beberapa kali ketika
adegan mengerikan itu, akhirnya dia menemukan petunjuk. Orang dengan cincin
biru di ibu jari tangan kirinya, dia benar-benar ada di sekitar korban meski
tidak terlalu jelas, tapi dengan penampilan yang berbeda. Pada tayangan cctv 2,
wanita itu terlihat berjalan tepat di belakang korban sebelum cctv rusak, tapi
setelah rusak, wanita itu tiba-tiba menghilang. Arie melihat pada cctv lainnya,
memang wanita itu terlihat walau tidak jelas, tetapi sama seperti cctv 2,
wanita itu menghilang ketika kekacauan terjadi. Dan itu terjadi pada semua cctv
yang dia miliki, juga tidak ada tanda-tanda dia terlihat lagi setelah
kekacauan..
.
Arie mengambil
kemungkinan terburuk, yaitu adanya dua pelaku. Itu karena dia memperkirakan
dari banyak hal. Pertama, tinggi yang dia kira sangat berbeda. Pelaku di taman
terlihat lebih tinggi jika dibandingkan bayangan Arie tentang pelaku di dekat
rumah Gani. Kemudian rambutnya, pelaku di taman memiliki rambut sedikit
kecoklatan jika dibandingkan laporan saksi yang melihat pelaku memiliki rambut
hitam pekat. Kemudian bentuk tubuhnya yang jauh lebih berisi dibandingkan ciri-ciri
pelaku di dekat rumah Gani..
.
“Kembali
tentang ciri-ciri pelaku. Cincin biru… aku yakin pernah mendengar hal itu.
Sebuah tanda yang sangat unik namun terselip sesuatu yang menakutkan”
Pikirnya keras. Dia segera mencari data di komputer, tapi tidak ada. Hendak dia
mencari di dokumen, tetapi itu membutuhkan waktu yang sangat lama jika harus
membacanya satu persatu. Di komputer pun tidak dapat dia temukan karena banyaknya
data..
.
Dia beristirahat
sejenak untuk memulihkan otaknya, sudah beberapa hari ini dia tidak tidur
karena kasus misterius ini. Hingga akhirnya dia tertidur di atas kursinya. Dan
dia kembali di bangunkan oleh Rian, setelah melihat jam, ternyata dia tidur
selama 2 jam..
.
“Pak? Kami
mendapatkan laporan baru”
.
“Apa itu?”
.
“Menurut hasil
otopsi pada jasad Shania, tidak ditemukan benda asing. Dokter mengatakan
terjadinya ledakan diduga karena adanya tekanan besar yang menekan organ dalam
sehingga membuat organ dalam meledak”
.
“Tekanan pada
organ dalam? Bagaimana bisa?”
.
“Untuk itu, para
dokter juga masih kebingungan karena hal seperti itu pasti mustahil terjadi
jika hanya terjadi pada organ dalamnya saja. Karena jika hal itu terjadi,
seharusnya tubuh bagian luar juga mengalami tekanan yang besar sehingga membuat
tubuh korban pun ikut hancur. Sementara ini dokter menduga itu terjadi karena
darah yang mengalir cepat serta udara yang masuk yang membuat tekanan semakin
tinggi”
.
“Apa semua organ
dalamnya hancur?”
.
“Tidak, hasil
otopsi mengatakan hanya jantung, paru-paru, lambung, dan hati saja yang hancur”
.
“Sungguh
penjelasan yang tidak masuk akal!! Bagaimana bisa hanya organ tertentu saja
yang hancur karena tekanan?!!” Kesal Arie. “Rian? Kau pernah mendengar sesuatu tentang
cincin biru?” Tanya Arie tiba-tiba..
.
“Hmm? Cincin
biru? Maksud anda, pak?”
.
“Itu adalah
ciri-ciri pelakunya”
.
“Jadi, selama
ini memang ada dalangnya?”
.
“Tentu saja ada,
hanya saja dalangnya masih sangat misterius dan tidak bisa diterima logika
begitu saja. Dan salah satu ciri-cirinya adalah memakai cincin biru di ibu jari
tangan kirinya. Kau pernah mendengar itu?”
.
“Hmm… Cincin
biru di ibu jari tangan kiri… yah?” Gumam Rian sambil berpikir. “Untuk hal itu…
saya rasa pernah mendengarnya dan sepertinya saya tau maksud dari cincin biru
itu”
.
“APA?!!” Teriak
Arie tiba-tiba. Sebuah petunjuk baru sepertinya akan diberikan oleh Rian,
dilihat dari ekspresi wajahnya pun sudah dipastikan dia tau sesuatu tentang
cincin biru itu. “CEPAT BERITAHU AKU APA YANG KAU KETAHUI TENTANG CINCIN BIRU
ITU!!”
.
“SIAP,
PAK!!”~~~~~
.
à
.
“Menggunakan
kemampuan otak secara maksimal?!! Penelitian macam apa itu?!!”
.
“Itulah
yang sekarang masih menjadi pertanyaan”
.
“Itu
adalah pelaku pertama”
.
“Pertama?!!
Maksud paman, pelaku itu ada dua orang?!!”
.
“KAKAK!!?”
.
“LEPASKAN
AKU, GANI!! APA YANG AKAN KAU LAKUKAN PADAKU?!!”
.
“UGH!!
SAKIT!! LEPASKAN AKU!!”
.
‘PLAK..’
.
Selanjutnya di Chapter 5 : Kabar Buruk Kelima à
.
.
Author by :
Galus Gani Pratamayudha a.k.a Silent Rose
Sunday, December 25, 2016
-
Sunday, December 25, 2016

No comments:
Post a Comment