Coretan Fans 48 Family: Alunan Melody

Monday, January 30, 2017

Alunan Melody

ß Sebelumnya di Chapter 3 : Tragedi Ketiga
.
“Gani? Tadi kau berpikir untuk berbuat mesum pada adikmu, bukan?”
.
“HAH?!!”
.
“LAPORAN, PAK!! JASAD MUTILASI KEMBALI DITEMUKAN DI TAMAN KOTA!!”
.
“APA?!!”
.
“BA-BAGAIMANA… BISA..?!!”
.
“Hmm? Kenapa, kak?”
.
“Ke-kepala kakak pusing!! Seperti mau… meledak…!! Aaaahh!!”
.
“KAK MELODY!!”
.
à
.
Chapter 4 : Korban Keempat

.
.
~~~Author PoV : City~~~
.
“Pa-paman bercanda, ‘kan?!! Gani mohon paman tidak berbohong!!” Ucap Gani ketakutan ketika selesai mendengar laporan dari ayah Cindy itu..
.
“Paman tidak sedang bercanda dan berbohong, lokasi terduga terjadinya pembunuhan berada di dekat rumahmu. Sebaiknya kamu segera pulang ke rumah, paman dan bawahan paman pun sedang menuju kesana. Semoga saja tidak terjadi hal buruk terhadap Anin!!” Ucap Arie berharap yang kemudian mengakhiri panggilannya..
.
Tanpa pikir panjang, Gani pun langsung berlari keluar rumah sakit dan menuju parkiran, dia nyalakan motor dan tancap gas pulang ke rumahnya untuk melihat keadaan Anin dan Melody sambil berdo’a jika korban yang diduga pembunuhan itu bukan salah satu dari mereka..
.
~
.
Saat sampai di dekat rumahnya, dia memang melihat keramaian dan cukup banyak polisi. Dia segera mengambil jalan memutar untuk sampai rumahnya..
.
‘BRAK..’
.
“ANIN!! MELODY!! DIMANA KALIAN?!!” Teriak Gani setelah menggebrak pintu rumahnya. Dia langsung pergi ke ruang keluarga, mereka tidak ada, di kamar mereka pun tidak ada. “ANIN!! MELODY!!”
.
“Hmm? Kak?”
.
“?????”
.
“Kakak kenapa teriak-teriak? Kita lagi di dapur, kak. Lagi masak” Jawab Anin yang tiba-tiba datang dari dapur yang disusul Melody. Sepertinya mereka memang sedang memasak, terlihat dari mereka yang memakai celemek dan sedang memegang sayuran..
.
“Ehh?” Gani kebingungan, tapi dia langsung berlari pada mereka berdua. “Kalian nggak apa-apa, ‘kan? Nggak ada yang berdarah, ‘kan? Tubuh kalian masih utuh, ‘kan?” Tanya Gani histeris sambil memeriksa anggota tubuh mereka satu persatu..
.
“Ihhh!! Kakak kenapa? Kita nggak apa-apa, kak. Kakak kayak yang mau merkosa kita aja!!” Protes Anin..
.
‘HUG..’ Gani langsung memeluk mereka berdua. Perasaanya sangat lega ketika melihat mereka berdua baik-baik saja, beruntung bukan salah satu dari mereka yang menjadi korban..
.
“Kak? Kakak kenapa?” Tanya Anin yang melunak. Dia merasakan ketakutan dalam diri kakaknya, ketakutan yang sangat besar. Kembali Anin tidak pernah melihat kakaknya seperti ini..
.
“Syukurlah kalian selamat!! Kakak dapet berita kalau di deket rumah ada kematian aneh lagi, kakak pikir itu salah satu dari kalian, tapi ternyata bukan!!” Jelas Gani ketakutan. Dia pererat pelukannya..
.
“Hmm… Kami tidak apa-apa, Gani. Lagipula, aku akan melindungi adikmu juga. Kau sudah menyelamatkanku, aku berhutang nyawa padamu” Jawab Melody sambil menenangkan Gani. Tapi kali ini Anin yang ketakutan ketika mendengar ada lagi koban yang mati secara tidak wajar..
.
Gani meminta mereka untuk diam di rumah, Gani berniat untuk melihat sendiri siapa yang menjadi korbannya. Dia segera keluar rumah dan pergi menuju keramaian, dia sedikit memaksakan diri untuk sampai di yang paling depan hingga dia sampai di garis polisi. Jasad sedang ditutupi oleh kain, tetapi area sekitarnya dipenuhi oleh darah dan ada semacam daging cincang. Sepertinya mereka menunggu Arie yang mereupakan atasan mereka yang memang belum datang..
.
“Siapa lagi yang- EHK!!? I-ITU…” Ujar Gani yang tiba-tiba terkejut ketika melihat sebuah kalung yang sangat dia kenal berada di atas kain itu. Gani tau betul kalung itu milik siapa. Ya, kalung itu milik Shania dan dia yakini..
.
Dia segera melewati garis polisi, beberapa polisi langsung menahan dan mendorong Gani kembali ke belakang garis, tetapi Gani berontak dan terus memaksakan diri untuk sampai pada jasad itu..
.
“LEPAS!! LEPAAAASS!! SAYA TAU SIAPA DIA!!” Teriak Gani berontak. Polisi tidak mau mendengarkan alasan Gani dan terus menahan Gani, tetapi pada akhirnya Gani berhasil lolos dan langsung membuka kain yang menutupi kepala korban..
.
“!!!??” Tubuhnya serasa ditinju oleh benda keras ketika melihat Shania yang sudah terbujur kaku dengan kulit putih pucat seperti kehabisan darah. Ternyata benar perkiraannya jika kalung itu milik Shania, dan korban itu adalah Shania..
.
“Hei… Shania…?” Seru Gani pada Shania, tentu saja Shania tidak akan pernah bisa menjawab lagi. Polisi segera menarik kembali Gani menuju batas, kembali Gani berontak tidak mau menjauh dari jasad Shania. “SHANIA!! HUAAAA!!” Teriak Gani lantang. Hatinya hancur ketika melihat wanita yang dicintainya menjadi korban kematian tidak wajar. Dia angkat tubuh Shania, dan memeluknya sambil menangis keras. Semuanya hanya terdiam melihat Gani yang menangis memeluk jasad kekasihnya..
.
Tidak lama kemudian, Arie pun datang. Dan dia terkejut melihat Gani yang memeluk korban yang mati secara tidak wajar itu. Dia dekati Gani dan melihat wajah korban itu..
.
“Shania?!!” Gumam Arie terkejut. Ya, Arie tau siapa orang yang sedang dipeluk Gani. Dia tau dari anaknya yang memang sering curhat padanya tentang kehidupannya dan sahabatnya..
.
Arie segera menenangkan Gani, tetapi Gani tidak mau mendengarkan perkataan Arie. Ketika Arie mencoba memisahkan Gani dari Shania, Gani malah semakin mempererat pelukannya pada Shania. Dia bukan tipe orang pemaksa, melihat hati orang yang sedang hancur kemudian dipaksa melakukan sesuatu tidak dapat dia lakukan. Dia meminta obat bius pada anak buahnya untuk menenangkan Gani. Beruntung Gani tidak berontak dan obat bius sukses disuntikan pada Gani. Beberapa saat kemudian Gani pun melemas dan akhirnya tidak sadarkan diri..
.
“Segera amankan jasad dan TKP!! Rian? Aku ingin kau membawa anak muda ini ke rumah sakit yang sama dimana Ferdi dan Nabilah berada!! Beritahu apa yang terjadi pada mereka dan minta mereka untuk mengurus terlebih dulu adik Gani!! Setelah itu, cepat segera kembali ke sini!!”
.
“SIAP, LAKSANAKAN!!”
.
Arie segera memerintahkan anak buahnya untuk mengamankan TKP dan membawa jasad itu ke rumah sakit, lagi. Ya, untuk beberapa alasan, Arie sudah mulai lelah dan kesal memerintah perintah yang sama dalam waktu yang sangat dekat. Saat sedang bersiap, salah satu anak buahnya datang dan melaporkan apa yang berhasil ditemukan..
.
Menurut para saksi yang sedang bersantai di depan rumahnya, saat itu jalanan memang sedang kosong dari yang berlalu lalang. Kemudian korban datang dari arah kanan, dan ada seorang lagi yang datang dari arah berlawanan. Ketika mereka berpapasan, saksi melihat orang asing yang datang dari arah berlawanan menyentuh pundak korban. Setelah mereka saling melewati, tiba-tiba korban darah yang sangat banyak keluar dari mulut korban, seperti seorang yang muntah. Darah itu bercampur dengan daging dan semacamnya yang kemudian korban meninggal di tempat..
.
“Jadi, apa yang dimaksud mereka adalah bagian dalam tubuh korban diledakan sesuatu setelah korban disentuh orang asing?!! Apa maksudnya itu?!! Sungguh tidak masuk akal sekali!!”
.
“Siap!! Menurut kami, korban seperti diledakan dari dalam. Daging yang keluar bersamaan dengan darah memang merupakan organ dalam. Dari yang berhasil kami selediki, ada lambung, jantung, paru-paru, dan hati”
.
“Baiklah, segera lakukan otopsi pada korban. Lalu, bagaimana dengan ciri-ciri orang asing itu?”
.
“Siap!! Menurut para saksi, orang asing itu seorang wanita cantik, tubuhnya setinggi bahu korban ketika mereka berpapasan, kulit putih, rambut hitam pekat panjang, memakai baju merah dan jeans sampai paha, tanpa alas kaki, dan terlihat samar-samar cincin biru di ibu jari tangan kirinya”
.
“Hmm? Cincin biru di ibu jari tangan kirinya?” Gumam Arie sambil mengeryitkan dahinya. “Cincin biru di ibu jari tangan kiri… rasanya aku pernah mendengar hal itu sebelumnya” Pikir Arie penasaran..
.
“Baiklah, apa ada lagi?”
.
“Siap!! Sampai saat ini kami sedang mencari petunjuk kemana perginya orang misterius itu, tetapi kami sedang kebingungan karena semua saksi yang kami tanyai memiliki jawaban yang berbeda”
.
“Apa maksudmu?”
.
“Siap!! Begini, pak. Ketika kami bertanya pada saksi, mereka semua menjawab tau dan pernah melihatnya. Tapi ketika kami menanyakan arah pergi, mereka pasti menjawab berbeda. Kami juga tidak tau apakah itu kebetulan atau tidak, tapi semua yang kami tanyai pernah melihatnya, tidak ada yang tidak pernah melihatnya”
.
“…..” Arie terdiam mendengar penjelasan anak buahnya. Jika seperti itu jadinya, pelaku akan sulit ditemukan. “Apa kalian berpikir jika mereka semua bersekongkol?”
.
“Siap!! Saya rasa tidak, pak. Mereka hanya warga biasa, pak. Tidak ada yang mencurigakan dari mereka”
.
“Hmm, aku harap perkataanmu memang benar” Balas Arie. Kemudian setelah semuanya beres, dia langsung pergi ke kantornya. Laporan dari anak buahnya benar-benar membuatnya penasaran, yaitu tetang cincin biru di ibu jari tangan kiri. Dia seperti pernah mendengar hal itu, tetapi dia tidak tau kapan dan dimana dia mendengar. Sebelum berpikir tentang petunjuk itu, dia ingin menonton kembali video pembunuhan tidak wajar yang berada di taman..
.
.
~~~Author PoV : Hospital~~~
.
“Kau bercanda, ‘kan?!!”
.
“Tidak, Cindy. Aku tidak tau siapa wanita itu, tetapi Gani memang menangis memeluknya sambil meneriakan nama Shania”
.
“!!!!!” Mereka langsung melihat kearah Gani yang tertunduk diam, ternyat dia sudah sadar, padahal baru saja dia diberi obat bius. Bahkan ketika Alfi memanggil namanya dan menggerakan tubuhnya, Gani tetap diam. Merasa tidak ada yang perlu dilakukan lagi, Rian pun pamit pulang karena masih ada tugas lagi di kantor..
.
“Oh ya, hampir saja aku lupa memberitahu pada kalian. Pak Arie meminta pada kalian untuk mengurus Anin yang sedang berada di rumah”
.
“Ya, baiklah. Kami mengerti apa yang harus kami lakukan, terima kasih banyak karena sudah mengantar Gani ke rumah sakit. Mungkin sebentar lagi kami akan menjemput Anin” Ucap Cindy..
.
Ketika Rian pergi, tidak berselang lama Gani pun mulai mengankat kepalanya..
.
“Gani…”
.
“Gue pulang dulu, lu semua hati-hati di rumah sakit”
.
“GANI…!!”
.
“Tenang, lu semua nggak perlu khawatir. Mungkin ini sedikit kasar, tapi sekarang gue lagi nggak butuh kalian, gue sekarang lagi butuh orang di rumah doang, adik gue”
.
“…..” Mereka terdiam. Tentu saja mereka tidak bisa memaksakan Gani untuk tetap berada di rumah sakit walau mereka berniat membawa Anin ke rumah sakit. Tapi Gani sedang terguncang, mereka tau itu. Jadi mereka menyerahkan semuanya pada Gani, mereka tidak akan ikut campur kecuali Gani menjadi gila atau diluar kendali..
.
.
~~~Author PoV : City~~~
.
Gani sampai di rumah, adiknya menyambutnya dengan biasa. Tapi dia langsung saja panik ketika melihat kakaknya yang pulang dengan aura yang berbeda. Dan Gani langsung memeluk Anin dengan erat, adiknya kebingungan dengan tingkah kakaknya yang sangat aneh hari ini..
.
“Kakak kenapa?”
.
“Korban yang di deket rumah itu Shania, kamu harus sabar” Jelas Gani tanpa basa basi dan langsung pada intinya..
.
“Ehh?!! Ka-kakak bohong… ‘kan?!!”
.
“Nggak, Anin. Fakta itu. Kalau masih nggak percaya, kamu bisa tanya kak Cindy sama yang lainnya atau paman Arie”
.
“???!!” Dan Anin langsung menangis keras. Shania memang teman kelas Anin, mereka berteman sejak awal SMP dan selalu satu kelas hingga saat ini. Gani tau perasaan adiknya bagaimana, perasaan adiknya jauh lebih hancur daripada perasaannya karena Anin jauh lebih mengenal Shania dari pada dirinya..
.
Melody datang dan kemudian memasang wajah sedih, sepertinya dia membaca pikiran Anin dan Gani. Dia mendekat pada mereka dan memeluk mereka berdua. Tangisan Anin semakin meledak ketika Melody memeluknya dari belakang. Sekarang bukan lagi tentang kehilangan Shania yang gadis cantik itu pikirkan, tetapi bagaimana jika dia kehilangan kakaknya dan Melody. Sebuah mimpi paling buruk baginya jika melihat mereka berdua meninggal lebih dulu..
.
‘Tenang, kakak pasti jaga kalian berdua!! Kakak janji!! Nggak bakalan kakak biarin hal buruk nimpa kalian berdua!!” Pikiran Gani terbaca tidak sengaja oleh Melody. Wanita cantik itu tersenyum mengetahui Gani yang akan melindungi dirinya dan Anin apapun yang terjadi..
.
“Terima kasih banyak” Ucap Melody dalam hati dengan sungguh-sungguh. Ya, dia bersyukur bisa bertemu dengan Gani yang penuh kasih sayang terhadap keluarganya..
.
.
~~~Author PoV : Police~~~
.
Arie yang berada di ruangannya sedang menunduk, dia tidak percaya apa yang dia lihat setelah melihat tayangan kasus di taman. Setelah mengulangnya beberapa kali ketika adegan mengerikan itu, akhirnya dia menemukan petunjuk. Orang dengan cincin biru di ibu jari tangan kirinya, dia benar-benar ada di sekitar korban meski tidak terlalu jelas, tapi dengan penampilan yang berbeda. Pada tayangan cctv 2, wanita itu terlihat berjalan tepat di belakang korban sebelum cctv rusak, tapi setelah rusak, wanita itu tiba-tiba menghilang. Arie melihat pada cctv lainnya, memang wanita itu terlihat walau tidak jelas, tetapi sama seperti cctv 2, wanita itu menghilang ketika kekacauan terjadi. Dan itu terjadi pada semua cctv yang dia miliki, juga tidak ada tanda-tanda dia terlihat lagi setelah kekacauan..
.
Arie mengambil kemungkinan terburuk, yaitu adanya dua pelaku. Itu karena dia memperkirakan dari banyak hal. Pertama, tinggi yang dia kira sangat berbeda. Pelaku di taman terlihat lebih tinggi jika dibandingkan bayangan Arie tentang pelaku di dekat rumah Gani. Kemudian rambutnya, pelaku di taman memiliki rambut sedikit kecoklatan jika dibandingkan laporan saksi yang melihat pelaku memiliki rambut hitam pekat. Kemudian bentuk tubuhnya yang jauh lebih berisi dibandingkan ciri-ciri pelaku di dekat rumah Gani..
.
“Kembali tentang ciri-ciri pelaku. Cincin biru… aku yakin pernah mendengar hal itu. Sebuah tanda yang sangat unik namun terselip sesuatu yang menakutkan” Pikirnya keras. Dia segera mencari data di komputer, tapi tidak ada. Hendak dia mencari di dokumen, tetapi itu membutuhkan waktu yang sangat lama jika harus membacanya satu persatu. Di komputer pun tidak dapat dia temukan karena banyaknya data..
.
Dia beristirahat sejenak untuk memulihkan otaknya, sudah beberapa hari ini dia tidak tidur karena kasus misterius ini. Hingga akhirnya dia tertidur di atas kursinya. Dan dia kembali di bangunkan oleh Rian, setelah melihat jam, ternyata dia tidur selama 2 jam..
.
“Pak? Kami mendapatkan laporan baru”
.
“Apa itu?”
.
“Menurut hasil otopsi pada jasad Shania, tidak ditemukan benda asing. Dokter mengatakan terjadinya ledakan diduga karena adanya tekanan besar yang menekan organ dalam sehingga membuat organ dalam meledak”
.
“Tekanan pada organ dalam? Bagaimana bisa?”
.
“Untuk itu, para dokter juga masih kebingungan karena hal seperti itu pasti mustahil terjadi jika hanya terjadi pada organ dalamnya saja. Karena jika hal itu terjadi, seharusnya tubuh bagian luar juga mengalami tekanan yang besar sehingga membuat tubuh korban pun ikut hancur. Sementara ini dokter menduga itu terjadi karena darah yang mengalir cepat serta udara yang masuk yang membuat tekanan semakin tinggi”
.
“Apa semua organ dalamnya hancur?”
.
“Tidak, hasil otopsi mengatakan hanya jantung, paru-paru, lambung, dan hati saja yang hancur”
.
“Sungguh penjelasan yang tidak masuk akal!! Bagaimana bisa hanya organ tertentu saja yang hancur karena tekanan?!!” Kesal Arie. “Rian? Kau pernah mendengar sesuatu tentang cincin biru?” Tanya Arie tiba-tiba..
.
“Hmm? Cincin biru? Maksud anda, pak?”
.
“Itu adalah ciri-ciri pelakunya”
.
“Jadi, selama ini memang ada dalangnya?”
.
“Tentu saja ada, hanya saja dalangnya masih sangat misterius dan tidak bisa diterima logika begitu saja. Dan salah satu ciri-cirinya adalah memakai cincin biru di ibu jari tangan kirinya. Kau pernah mendengar itu?”
.
“Hmm… Cincin biru di ibu jari tangan kiri… yah?” Gumam Rian sambil berpikir. “Untuk hal itu… saya rasa pernah mendengarnya dan sepertinya saya tau maksud dari cincin biru itu”
.
“APA?!!” Teriak Arie tiba-tiba. Sebuah petunjuk baru sepertinya akan diberikan oleh Rian, dilihat dari ekspresi wajahnya pun sudah dipastikan dia tau sesuatu tentang cincin biru itu. “CEPAT BERITAHU AKU APA YANG KAU KETAHUI TENTANG CINCIN BIRU ITU!!”
.
“SIAP, PAK!!”~~~~~
.
à
.
“Menggunakan kemampuan otak secara maksimal?!! Penelitian macam apa itu?!!”
.
“Itulah yang sekarang masih menjadi pertanyaan”
.
“Itu adalah pelaku pertama”
.
“Pertama?!! Maksud paman, pelaku itu ada dua orang?!!”
.
“KAKAK!!?”
.
“LEPASKAN AKU, GANI!! APA YANG AKAN KAU LAKUKAN PADAKU?!!”
.
“UGH!! SAKIT!! LEPASKAN AKU!!”
 .
‘PLAK..’
.
Selanjutnya di Chapter 5 : Kabar Buruk Kelima à
.
.
Author by : Galus Gani Pratamayudha a.k.a Silent Rose

Sunday, December 25, 2016
-

Sunday, December 25, 2016

No comments:

Post a Comment