Chapter #1 : Dialah Orangnya
Genre : Action, School, Romance, Thriller, (17++)
.
HAPPY READING
.
.
.
~~~Author PoV~~~
.
Seorang lelaki memegang sebuah pistol jenis FN-57 di
tangan kanannya, dan sebuah mawar putih yang terkena noda darah. Dia menunduk
melihat ke bawah, tepatnya pada seorang lelaki tua yang tubuhnya terkena banyak
luka tembak. Dia tergeletak tak berdaya karena luka fatal itu dan kehilangan
banyak darah. Di bawah hujan yang cukup deras, air yang jatuh mengenai tubuh
lelaki tua itu otomatis membersihkan tubuh itu dari darah yang mengalir terus
menerus sama seperti air hujan. Bangunan yang terbakar hebat meski diguyur
hujan disertai suara tembakan, ledakan, dan teriakan. Suasana itu cukup untuk
menggambarkan jika keadaan sekitar sedang berada dalam masalah yang sangat
besar. Lelaki yang tertunduk itu, dia hanya diam saja sambil menggretakan
giginya pertanda kekesalannya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga mawar
itu pun rusak..
.
“UHUK!! UHUK!!” Lelaki tua itu ternyata masih hidup,
meski mungkin dia tau jika hidupnya tidak akan lama lagi..
.
“TUAN!! TUAN!! BERTAHANLAH!!” Pemuda berumur 16 tahun
itu langsung beringsut mencoba memangku lelaki tua itu, namun lelaki tua itu
menolaknya..
.
“Ambil cip ini…!! Cepat temukan… dia… dan lindungi…
dia…!! Dia adalah… anakku...!!” Ucap lelaki itu yang langsung meninggal setelah
menunjukan sebuah foto..
.
Fotonya bersama keluarganya yang sebenarnya. Pemuda
itu mengambil cip yang diberikan bersamaan dengan foto itu kemudian melihat
foto itu, ada seorang wanita yang cantik namun tidak asing baginya. Dia sudah
bekerja bersama tuannya sejak kecil. Tuannya mengadopsinya karena dia hanyalah
seorang anak yatim piatu sejak berumur tiga tahun, tidak tau siapa namanya dan
siapa orang tuanya. Beberapa tahun menjadi pengawal rahasia tuannya, dia sangat
tau kehidupan tuannya itu. Tapi selama 13 tahun ini, dia tidak pernah tau jika
tuannya itu memiliki putri lainnya. Yang dia tau saat ini putri tuannya itu hanya
satu dan sudah meninggal satu tahun yang lalu karena kecelakaan..
.
“Dia… Dia mirip sekali dengannya. Dengan---”
.
‘DUAR.. DUAR..’ Ledakan terjadi didekat pemuda itu.
Pemuda itu langsung bangkit dan melihat pada sumber ledakan, sebuah restoran
hancur karena ledakan itu. Dia segera pergi meninggalkan tuannya itu, dia pun
harus kembali melawan semua musuh yang menghadangnya dan mengalahkannya..
.
***
.
.
~~~Author PoV : School~~~
.
Di suatu pagi, ada tiga siswi cantik yang sedang
berkumpul sebelum pelajaran dimulai. Semua guru dan murid di sekolah itu tau
siapa mereka, termasuk para penjaga kantin. Bahkan beberapa penjual di luar
sekolah pun tau siapa mereka. Sudah jadi kebiasaan mereka jika sebelum
pelajaran dimulai, mereka selalu mengobrol bertiga. Tidak ada yang mau dan
berani mendekati mereka. Bukan karena sifat mereka yang sombong dan pemarah,
tapi karena mereka sendiri yang terlalu takut untuk mendekati ‘Three Angels’
itu. Meski ada beberapa yang terkadang ikut dalam obrolan mereka, tapi mereka
benar-benar ‘membuka tangan’ mereka selebar-lebarnya..
.
“Hei hei hei!! Kalian tau? Di kelas kita, nanti
bakalan ada murid baru” Heboh seorang wanita cantik..
.
“Ya, terus? Kok lu heboh gitu sih, Bil?”
.
“Ya pastinya!! Kenapa? Soalnya murid baru itu cowok, dan
banyak yang bilang ganteng. Tapi bukan itu masalahnya, banyak juga yang bilang
kalau warna rambut cowok itu seputih salju, lho!!” Jawab Nabilah..
.
“Rambut warna putih? Pake pewarna kali, yak? HAHAHA!!”
.
“HAHAHA!! Lu bener banget, Mel!!”
.
“Ya kalau itu sih gue gak tau asli atau enggaknya,
tapi masa ada murid yang masuk sekolah ini rambutnya putih? Kan dilarang tuh?”
.
“Ya itu sih urusan sekolah, gue sih ikut-ikut aja
selama itu gak buat gue rugi atau semacamnya”
.
“Gue setuju sama Melody. Toh kita bertiga juga emang
udah cantik ‘kan?”
.
“PASTINYA!! HAHAHA!!”
.
Ketiga siswi cantik itu sedang mengobrol senang
bersama, tidak ada yang tidak mengenal mereka di sekolah itu. Kecantikan,
kepintaran, dan kehebatan mereka benar-benar mengagumkan sekaligus menakutkan.
Mereka duduk di bangku kelas 11 saat ini, dan berumur 16 tahun. Meskipun mereka
baru berteman sejak awal masuk di sekolah itu, tapi mereka seolah sudah bertemu
lama sekali..
.
Nabilah Ratna Ayu Azalia, peringkat ketiga di
angkatannya ketika kenaikan kelas. Postur tubuhnya pendek, namun memiliki tubuh
yang berisi. Dia adalah orang yang paling cerewet dan yang paling tidak bisa
diam. Bahkan mereka berdua berpikir jika tidak ada Nabilah, suasana hati mereka
selama ini mungkin akan hambar..
.
Melody Nurramdhani Laksani, peringkat kedua di
angkatannya. Sama seperti Nabilah yang memiliki postur tubuh yang pendek, namun
dia ‘kurang berisi’ jika dibandingkan Nabilah. Meski baru duduk di bangku kelas
11, tapi dia adalah orang yang memiliki pikiran yang terbuka dan dewasa. Dia
juga bisa dikatakan orang yang bertanggung jawab, sosok keibuannya benar-benar
membuat dirinya seakan ibu dari Nabilah karena dia yang lebih sering menasehati
Nabilah yang cerewet..
.
Dan yang menduduki peringkat pertama di angkatannya,
bisa dikatakan kalau dia adalah sosok yang dianggap ‘bidadari’. Jessica Veranda
Tanumihardja. Banyak murid yang menganggap jika murid dengan panggilan ‘Ve’ itu
adalah yang paling sempurna. Tubuhnya lebih tinggi dibandingkan dua sahabatnya
itu, namun dia sangat pemalu dan pendiam meski sedang bersama kedua sahabatnya
itu. Dia seorang yang sangat mengerti dan menyukai desain, dia juga memiliki
tutur bahasa yang lembut dan halus..
.
~
.
Bel pun berdering, tanda pelajaran sekolah pun
dimulai. Semua murid masuk ke kelasnya masing-masing..
.
“Berdiri!!” Teriak ketua kelas. “Salam!!” Lanjutnya.
“Selamat pagi, ibu guru!!” Semua murid berucap bersamaan ketika sang guru pun
masuk ke kelas. Tepatnya wali kelas..
.
“Baiklah, semuanya duduk!!” Perintah guru itu, dan
semuanya pun duduk. “Ya, mungkin beberapa dari kalian sudah ada yang berpikir
jika ada murid pindahan yang masuk di kelas kita. Itu memang benar”
.
“WOAAAAHH!!” Teriak riuh seluruh murid di kelas itu..
.
“Cowok atau cewek, bu?!!”
.
“Baiklah, semuanya tenang. Jangan ribut. Dasar kalian
ini, selalu saja ingin yang tampan atau cantik!! HAHAHA!!”
.
“HAHAHA!!”
.
“Baiklah. Nak? Ayo masuk!!”
.
“Baik, bu” Jawab sebuah suara asing dari luar kelas.
Dia pun berjalan masuk ke dalam kelas, dan semua mata pun langsung tertuju pada
murid itu..
.
“!!!??”
.
“Selamat pagi, semuanya. Nama saya Galus Gani
Pratamayudha, panggil saja Gani. Mulai sekarang, saya akan menjadi teman kalian
semua. Mohon kerja samanya” Ujar Gani sambil membungkukan badannya..
.
“KYAAAA!!” Teriak para murid perempuan heboh, terlebih
lagi Nabilah yang tipikal orang yang mudah heboh..
.
“Woaaaahh!! Rambutnya… putih…”
.
“Liat? Gue gak bohong!!” Ujar Nabilah bangga pada dua
sahabatnya. Sedangkan Melody dan Ve masih terpaku saja dengan sosok murid baru
dihadapannya..
.
“Baiklah, Gani? Kamu bisa duduk di paling belakang
dekat jendela”
.
“Baik, bu. Terima kasih”
.
“Untuk semuanya, ibu ingin kalian berteman baik dengan
Gani”
.
“BAIK, BU!!” Teriak mereka semua semangat. Setelah
perkenalan murid baru, mereka pun mulai masuk ke dalam pelajaran. Jam sekarang
adalah matematika, pelajaran favorit Melody karena dia mendapatkan nilai
sempurna saat ujian kenaikan kelas..
.
~
.
Istirahat tiba, beberapa murid langsung saja mendekati
Gani dan berkenalan, terlebih lagi para murid perempuan. Sepertinya mereka
tertarik dengan keunikan Gani pada rambutnya..
.
“Hei hei hei. Rambutmu itu warna asli?”
.
“Ya, ini adalah asli” Balas Gani seadaanya dan
terkesan dingin. Dan pertanyaan pun terus dilontarkan para murid itu, tapi Gani
menjawab seadanya dan dengan dingin. Meski begitu, dia tetap tidak sombong
dengan tidak menjawab pertanyaan. Yang mereka pikir tentang Gani adalah orang
yang cuek dan dingin terhadap lingkungan, namun tetap peduli..
.
Saat ketiga murid papan atas bangkit dan pergi, Gani
pun ikut bangkit..
.
“Permisi, saya ada urusan”
.
“Ehh? Emangnya kamu udah tau isi sekolah ini?”
.
“Beberapa, saya akan mencaritahu sendiri. Terima kasih
atas perhatiannya” Ujar Gani yang berlalu meninggalkan mereka..
.
“Dialah orangnya. Melody Nurramdhani Laksani, anak
pertama dari tuan Laksani. Dia benar-benar cantik sama seperti yang ada di
foto. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan dia mati di tangan orang lain!!”
Pikir Gani. Dia ikuti ketiga perempuan cantik itu dengan sangat ketat..
.
“Hmm?” Nabilah merasa ada yang janggal. Dia berbalik
ke belakang, dan mendapati Gani sedang berada di belakangnya sambil
menatapnya..
.
“Loh? Gani?” Tanya Nabilah, dan seketika Melody dan Ve
pun berbalik..
.
“Kamu ternyata, ada apa?” Tanya Ve..
.
“Tidak, saya hanya ada urusan sedikit. Bisakah kalian
menunjukan dimana letak kantin?”
.
“Melody, benar dia orangnya!!” Pikir Gani senang..
.
“Kantin? Kebetulan kami akan pergi ke kantin, kau mau
ikut?” Ajak Melody ramah..
.
“Oh ya? Baiklah, terima kasih. Maaf merepotkan. Tapi,
apa tidak apa berjalan bersama kalian?” Tanya Gani khawatir..
.
“Tidak apa, kita itu teman sekelas” Jawab Melody..
.
~
.
Mereka pun sampai di kantin. Dan saat di kantin,
mereka pun menjadi pembicaraan ‘bisik-bisik’ para murid. Tentu saja, tiga murid
pemegang posisi puncak, dengan seorang murid pindahan yang unik dan tampan
pasti akan menarik perhatian siapapun. Terlebih lagi sosok lelaki itu berwajah
kalem namun dingin..
.
Mereka duduk dibangku yang kosong bersama dan memesan
makanan. Sambil menunggu mereka pun sedikit bertanya tentang Gani, dia menjawab
namun masih tetap dengan seadanya dan dingin..
.
“Kau ini, dasar cowok dingin!! Kebanyakan minum air
es, yah?” Tanya Nabilah gemas..
.
“Tidak, saya dilarang untuk minum air es terlalu
banyak” Jawab Gani serius..
.
“Yaelah, dijawab serius pula” Ucap Nabilah..
.
“Makanya kalau jadi anak tuh yang normal aja, jangan
kebanyakan mau tau”
.
“Ahhh!! Dasar lu, Ve. Ya biarin dah, terserah gue.
Lagian lu berdua juga pasti terhibur kalau ada gue, bener ‘kan?” Tanya Nabilah.
Dan mereka pun hanya mengangguk sambil terseyum kecut..
.
“Ngomong-ngomong, kamu dari sekolah mana?” Tanya
Melody penasaran..
.
“Sekolah? SMAN 1 Semarang” Jawab Gani berbohong
tentunya. Itu karena dia tidak pernah sekolah sekali pun, meski begitu, dia
adalah anak yang pintar dan cekatan. Namun maksudnya disini adalah dalam
perkelahian atau sejenisnya..
.
“Hmm... Cukup jauh juga. Kamu sekarang tinggal
dimana?”
.
“Apartemen”
.
“Wah!! Ternyata kamu orang yang cukup berada juga”
.
“Tidak juga”
.
“Haaahh...” Mereka menghela nafas ketika mengobrol
dengan Gani. Dia orangnya seadanya, dingin, dan cenderung pendiam. Sama seperti
Ve..
.
“Ve?” Nabilah menyikut Ve. “Cocok tuh sama lu. Sifat lu
berdua bener-bener sama. Jodoh kali, yak? Hehehe” Goda Nabilah..
.
“Uuuhh!! Apa-apaan sih? Dasar lu!!” Ujar Ve malu..
.
.
~~~Author PoV : Apartment~~~
.
Gani saat ini sedang berbaring di kamar apartemennya,
pikirannya kosong entah kemana, dia bingung ingin melangkah. Dia lihat cip yang
diberikan tuannya dengan teliti, mencoba untuk mengetahui kenapa tuannya itu
memberikan cip berharga itu padanya..
.
“Cip ini sangat berharga untuk tuan, aku tidak pantas
memegangnya. Dan lagi, apa yang ada di dalam cip ini sehingga keluarga tuan di
incar oleh orang-orang jahat?!! Bajingan kalian semua!! Saat ini mungkin hanya
Melody yang tau maksud dari semua ini. Jika dia tau apa yang harus dilakukan
terhadap cip ini, tentu itu akan membuat keadaan lebih jelas lagi, tapi mungkin
juga akan menghancurkan masa remaja Melody” Pikirnya. Dia bolak balik cip itu,
namun tetap tidak ada 1 petunjuk yang dia dapatkan..
.
“Berpikir!! Berpikir berpikir berpikiiir!! Sial!! Aku tidak bisa memikirkan apapun
tentang semua ini!!” Teriaknya kemudian dengan kesal. Dia mencoba
menenangkan tubuhnya, dia ambil setangkai mawar putih dan menghirup aromanya
dalam-dalam..
.
“Huuuuhh...” Dia menghela nafas panjang. “Mawar memang
bisa membuatku jauh lebih tenang. Mungkin kali ini aku akan selalu membawa setangkai
mawar setiap pergi ke sekolah itu, ya meski tidak akan bertahan lama.
Setidaknya hanya bagian kelopaknya saja, tidak dengan batangnya yang berduri
menggemaskan ini” Ujarnya sambil menatap mawar putih itu..
.
~
.
Malam hari tiba, saat ini Gani sedang merangkai
kembali pistolnya yang baru selesai dia bersihkan di ruang tamu. Sambil
menonton acara televisi yang baginya membosankan, tapi beruntung apartemennya
memiliki interior yang cukup baik baginya. Satu ruang tamu yang cukup besar, satu
kamar mandi lengkap dengan isinya, satu kamar tidur, satu dapur, dan satu ruang
kosong yang memang sengaja diberikan oleh pemilik gedung, dan satu balkon kecil
untuk dia melihat keluar apartemen. Beruntung juga untuk Gani ketika mengetahui
hal itu, jadi dia bisa menyimpan beberapa barang di ruangan kosong itu. Dia
sendiri berada di lantai ketiga dari total sepuluh lantai..
.
‘CKLEK.. CKLEK..’
.
“Hmm... Sepertinya aku harus membeli senjata baru.
Lagipula senjata ini sudah cukup lama bersamaku, apalagi kali ini aku harus
melindungi Melody. Aku harus mengeluarkan semua yang aku miliki untuk
melindungi harta terakhir tuan Laksani!! Jika aku gagal, maka---”
.
‘PRANK.. BRAK..’ Tiba-tiba ada yang datang ke dalam
apartemen Gani melalui kaca jendela dengan memecahkannya. Gani segera pergi ke
kamarnya karena memang kebetulan kamarnya itu memiliki jendela yang menghadap
keluar. Saat dia sampai di kamarnya, dua orang asing yang bertopeng pun sudah
berada di atas kasurnya sambil memegang senjata..
.
“ITU DIA!!”
.
“EHK!! SIAL!! KENAPA HARUS SEKARANG?!!” Pikir Gani
kesal. Dia belum selesai merakit pistolnya, dan sudah dipastikan dia berlari.
Saat dua orang asing itu mengejarnya, dia tendang pintu itu dengan kuat hingga
menghantam dan menjatuhkan salah satu penjahat itu..
.
Dia raih selongsong pelurunya, kemudian dia lempar
untuk menarik perhatian penjahat itu sebelum menembak Gani. Gani pun langsung
menerjang ketika musuhnya reflek menghindar, dia tendang menggunakan lututnya
tepat pada wajahnya, kemudian dia hantam kepala orang itu menggunakan
pistolnya..
.
Saat dia mengetahui jika satu teman musuhnya sadar,
dia langsung meraih pistol musuhnya yang sudah memakai peredam..
.
‘CYUT.. CYUT..’ dua tembakan cukup untuk membunuh
orang itu. Kemudian dia tembak kedua kaki dan tangan orang kedua. Gani segera
bangkit menuju kamarnya lalu dia melihat keluar jendela. Tidak ada yang aneh,
tidak ada sesuatu yang berhubungan dengan kedua orang itu..
.
“Mereka pasti menunggu di suatu tempat. Tidak ada
tanda-tanda rekan mereka. Dan lagi, bagaimana mereka bisa sampai di lantai ini?
Keparat!! Sepertinya mereka sudah tau jika aku tinggal disini, aku harus pindah
besok. Padahal baru saja beberapa minggu aku menetap disini, tapi mereka yang
mengincar cip itu sudah tau keberadaanku. Semoga saja mereka tidak mengetahui
keberadaan Melody atau mengetahui siapa Melody yang sebenarnya” Pikir Gani
kesal..
.
“Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Dia tidak
sadarkan diri, tidak ada waktu untuk menunggunya sadar dan menanyakan siapa
yang memerintahnya. Aku harus segera membersihkan kekacauan ini dan mencari
tempat tinggal baru” Pikir Gani kesal..
.
.
~~~Author PoV : School~~~
.
Ini adalah hari kedua untuk Gani bersekolah, dia masih
belum membiasakan diri dengan lingkungan sekitar..
.
“Hei, kalian. Nabilah, Melody, dan Ve. Saya ingin
meminta bantuan pada kalian”
.
“Ehh? Formal banget bahasanya. Biasa aja, Gan. Jangan
formal gitu, kayak prajurit aja” Canda Nabilah sambil menepuk-nepuk pundak
Gani..
.
“Saya memang prajurit”
.
“Ehh?” Mereka terkejut antara percaya dan tidak dengan
ucapan Gani itu, mereka terdiam. Tapi dilihat dari tingkahnya sampai sekarang,
Gani memang memakai bahasa yang formal, dan terkadang dia menjawab semua
pertanyaan dengan serius meski itu hanya untuk candaan. Seperti apa yang baru saja
mereka alami..
.
“Kesampingkan hal itu, kamu butuh bantuan apa?” Tanya
Ve penasaran..
.
“Tempat tinggal, apartemen yang saya tinggali sudah
tidak aman lagi untuk saya”
.
“Hah? Tidak aman? Maksudmu, tidak terawat, kurang
penjagaan, dan kurang fasilitas?”
.
“Ya”
.
“Heeee? Mana ada apartemen kayak gitu?” Tanya Melody
bingung. “Dimana-mana apartemen itu ya fasilitasnya terjamin”
.
“Apartemen Melody, tepat di samping apartemen Melody.
Kamu mau?” Tawar Nabilah tiba-tiba..
.
“???!!”
.
“Baiklah, dimana---”
.
“Kenapa harus di apartemen gue?!!” Potong Melody
memprotes usulan Nabilah..
.
“Udahlah, biar lu bisa lebih deket sama Gani. Lagian
lu sendiri yang pingin apartemen di samping lu ada yang ngisi. Hehehe…” Tawa
Nabilah dengan penuh kemenangan..
.
“Udahlah, Mel. Terima aja, sekaligus bantu Gani. Ya
kalau dia pingin nanya sesuatu, lu ‘kan yang paling tau?”
.
“Haaaahh... Apa boleh buat? Ya udah, lagian gak ada
ruginya kalau Gani jadi tetangga gue” Pasrah Melody. Melody segera memberikan
nomor teleponnya dan alamat apartemennya pada Gani..
.
“Terima kasih bantuannya”
.
“Ya, sama-sama”
.
Pelajaran pun dimulai, tapi Gani tidak bisa fokus pada
pelajaran sejarah itu. Yang dia pikirkan adalah masalah pribadinya dan masalah
yang mungkin akan dihadapi oleh Melody ke depannya..
.
“Jika aku dekat dengan Melody, itu sama halnya aku
membawa bahaya padanya. Tapi jika aku jauh darinya, cepat atau lambat, mereka
yang mengincar cip ini pasti akan mengetahui juga identitas Melody yang
sebenarnya. Semua ini hanyalah masalah waktu saja!! Dan Melody belum tau
tentang kematian tuan Laksani, ayah kandungnya. Apa yang harus aku katakan
nanti?”
.
“Tidak berguna!! Sebelum aku memikirkan kata yang akan
aku ucapkan pada Melody nanti, lebih baik aku dekat dengannya saja. Entah ada
bahaya atau tidak, aku akan lebih mudah untuk menjaganya. Toh kalau pun Melody
terkena masalah ketika di apartemen, aku akan segera datang menolongnya”
.
“Gani? Coba jawab pertanyaan bapak!! Apa kamu bisa
menjelaskan yang dimaksud tragedi Trisakti?”
.
“Baik pak!! Tragedi Trisakti adalah
peristiwa penembakan, pada tanggal 12 Mei 1998, terhadap mahasiswa pada saat
demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Kejadian ini menewaskan
empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta, Indonesia serta puluhan
lainnya luka.”
.
“…..” Mereka semua terdiam dengan
penjelasan Gani. Dia menjelaskan dengan bertatap langsung pada guru, tidak
melihat buku sedikit pun. Bahkan bukunya tidak membuka materi itu..
.
“Latar belakang kejadian ini adalah karena ekonomi
Indonesia mulai goyah
pada awal 1998, yang terpengaruh
oleh krisis finansial Asia sepanjang 1997 - 1999. Mahasiswa pun
melakukan aksi demonstrasi besar-besaran ke gedung
DPR/MPR, termasuk mahasiswa Universitas Trisakti”
.
“Mereka melakukan aksi damai dari kampus Trisakti
menuju Gedung
Nusantara pada pukul
12.30. Namun aksi mereka dihambat oleh blokade dari Polri dan
militer datang kemudian. Beberapa mahasiswa mencoba bernegosiasi dengan pihak
Polri”
.
“Baik, cukup. Kau pintar ternyata. Kamu boleh duduk”
Ujar sang guru cepat..
.
Gani duduk di bangkunya, “Terima kasih, pak”
.
Dan seketika suasana pun kembali riuh dengan
penjelasan Gani yang sempurna itu, bahkan The Three Angels pun tidak seperti
Gani dan harus melihat buku terlebih dulu..
.
~
.
Akhirnya Gani selesai mengurus kepindahan
apartemennya. Gedung yang baru menurutnya jauh lebih baik dalam banyak aspek,
terlebih lagi keamanannya yang jauh lebih ketat baginya. Dia hanya membawa
sedikit barang pribadi agar lebih mudah jika dia harus kembali pindah secara
mendadak..
.
“Baiklah, ini apartemen milikmu. Biar aku bantu kau
membereskannya”
.
“Ah!! Tidak perlu, biar saya sendiri” Ujar Gani panik.
Tentu saja, beberapa tas miliknya berisi senjata pribadinya. Dia tidak akan
membiarkan orang lain tau hal itu, termasuk anak tuannya itu, Melody..
.
“Kau yakin?”
.
“Ya. Terima kasih tawarannya, tapi biarkan saya
sendiri. Nona Laksani lebih baik beristirahat saja, jangan memaksakan diri”
.
“Ehh?!! No-Nona Lak-Laksani... kau bilang?”
.
“Ehh? Maaf lancang” Gani meminta maaf pada Melody..
.
“Tidak tidak tidak. Itu tidak apa-apa. Tapi panggil
saja aku Melody atau Imel, jangan seperti itu. Aku merasa jadi seorang putri...
Hehehe...” Ujar Melody tersipu. “Kalau begitu aku masuk dulu. Bila ada perlu,
kau bisa mengetuk pintu apartemenku atau menghubungiku. Bye”
.
“Baiklah, terima kasih bantuannya. Bye”
.
~
.
Gani pun selesai membereskan seluruh barangnya. Tapi
dia juga sebenarnya tau jika semua ini tidak akan bertahan lama. Cepat atau
lambat, apartemen Gani akan kembali di serang orang yang mengincar cip itu, dan
mungkin akan mengincar Melody jika mereka tau siapa Melody sebearnya. Sedangkan
Gani masih belum tau kejelasan tentang cip itu. Ingin dia tanyakan pada Melody,
itu terlalu berbahaya untuk saat ini. Melody pun akan terkejut jika Gani
akhirnya memberitahu tentang kematian tuannya itu..
.
“Cip ini… Ada apa dengan cip ini? Sebenarnya apa
isinya? Kenapa mereka semua mengejarku untuk mendapatkan cip ini? Tuan?
Sebenarnya apa yang tuan simpan dalam cip ini?”
.
“Aku juga tidak bisa menunggu lagi. Semakin lama waktu
berjalan, maka ancaman semakin datang silih berganti, atau mungkin bersamaan.
Mau tidak mau, aku harus menanyakan ini pada Melody”
.
“Akan aku tanyakan hari ini saja, aku juga tidak bisa
merahasiakan identitas dan kabar kematian ayah Melody lebih lama lagi” Dia
segera bangkit. Dia siapkan pistol dan pisau untuk berjaga-jaga dari serangan
mendadak. Saat dia membuka pintu, kembali ada orang asing memakai topeng yang
menunggu dihadapannya..
.
“!!!??”
.
‘BUK.. GRAP..’ Orang asing itu langsung menangkap Gani
dan menguncinya, tapi Gani yang sudah terlatih untuk hal seperti ini, dengan
mudahnya melepaskan diri..
.
‘BUK.. BUK..’ Dia pukul menggunakan sikutnya, kemudian
dia tendang dengan kuat. Dia pun membunuhnya dengan mematahkan lehernya,
kemudian dia menggusur musuhnya itu ke dalam apartemen miliknya..
.
‘TOK.. TOK..’ Gani pun akhirnya selesai dengan urusannya,
dia ketuk pintu apartemen Melody, dan Melody pun membuka pintunya..
.
“Masuklah” Ajak Melody. Gani segera masuk dan duduk di
sofa. “Kamu butuh bantuan?”
.
“Tidak, saya kemari hanya ingin menyampaikan pesan dan
sesuatu”
.
“Pesan?”
.
“Keluarga anda, semuanya sudah meninggal. Tuan Mika
Laksani, nyonya Tasya Ayu Laksani, dan adik anda nona Frieska Anastasia
Laksani”
.
“!!!!!”
.
“TUNGGU!! BAGAIMANA KAU TAU NAMA KELUARGAKU?!! SIAPA
KAU SEBENARNYA?!!”
.
“Nama saya memang asli. Tapi satu hal yang pasti, saya
adalah pengawal pribadi tuan Mika Laksani”
.
“TUNGGU TUNGGU TUNGGU!! KAU... KAU... TAMA...!!?”
.
“!!!??’ Tentu Gani juga terkejut dengan ucapan Melody.
Tama, itu adalah nama panggilan Gani oleh Frieska dan hanya dia saja yang
memanggilnya seperti itu..
.
“Ba-Bagaimana anda tau nama itu?!! Hanya nona Frieska
saja yang memanggil saya dengan panggilan itu”
.
“Benarkah itu?!! Dulu kita sering bermain bersama
ketika kita berumur empat tahun, dan akulah orang yang memanggilmu seperti itu.
Saat itu umur Frieska baru dua tahun. Dia memang mirip denganku, sangat teramat
mirip meski berbeda dua tahun”
.
“Benarkah itu?!!”
.
“Ya, kau pernah terjatuh dari pohon jambu dan mendapat
luka sobek di punggungmu saat bermain denganku. Di punggungmu ada luka, ‘kan?”
.
“Be-Benar, nona” Sekarang justru Gani yang terkejut
dengan penjelasan Melody. Ternyata Melody mengenali dirinya meski baru saat
ini. Nama ‘Tama’ itu adalah pemberian Melody, sedangkan Melody sudah tidak
tinggal bersama keluarganya sejak umur lima tahun, dan saat itu Gani tidak tau
apa-apa. Yang dia tau selama ini adalah Frieska dan Melody yang dia anggap sama
saja..
.
“Tapi, memang seperti itu. Saat pertama kali melihat
foto anda, saya juga merasa tidak asing dengan wajah anda”
.
“Kau benar-benar polos saat itu, tidak peduli siapa
yang bermain denganmu antara kami berdua meski umur kami berbeda dua tahun, ditambah
Frieska yang belum lancar berbicara”
.
“Ya, cukup sulit saat itu untuk mengingat dan
membedakan wajah cantik kalian berdua. Lalu jika tau, kenapa anda tidak menegur
saya saat perkenalan kemarin?”
.
“Sebenarnya wajahmu tidak asing bagiku, apalagi
namamu. Tapi di sisi lain aku juga lupa denganmu, yang aku ingat hanya ‘Tama’
saja. Dan jika kau saat itu berkata nama panggilanmu ‘Tama’, mungkin aku akan
langsung tau jika itu adalah kau”
.
“Lalu yang tadi?”
.
“Itu karena kau menyebutkan semua nama anggota keluargaku
dengan tepat, ditambah kau yang mengaku sebagai pengawal pribadi ayahku. Aku
memang tau kalau ayahku memiliki seorang pengawal pribadi yang seumuran
denganku, tapi aku tidak tau bagaimana wajahnya atau siapa namanya. Aku hanya
berpikir tentang sekolah sekolah dan sekolah selama ini. Dan aku juga tidak
pernah tau jika kau akan menjadi pengawal pribadi ayahku. Kau pasti sudah
berlatih dengan sangat keras, ‘kan?”
.
“Ya, semenjak berumur enam tahun, saya sudah memegang
senjata”
.
“Woaaaahh!! Aku baru tau itu!!”
.
“Baiklah, sepertinya sudah ada kesalah pahaman saat
ini. Kita berdua sama-sama lupa tentang hal itu. Dan kembali ke topik
sebelumnya, keluarga---”
.
“Ya, aku sudah tau itu” Potong Melody cepat. “Itu
sudah diberitakan dimana-mana, bahkan kedua sahabatku sudah tau. Mungkin
beberapa ada yang ganjil dengan nama belakangku ini, tapi sepertinya mereka
tidak peduli. Guru pun tidak ada yang komplain karena selama ini aku selalu
memakai nama wali, bukan nama orang tua kandung” Lanjut Melody menjelaskan..
.
“Jadi, itu sebabnya selama seminggu ini anda tidak
dikejar?”
.
“Dikejar? Maksudmu?”
.
“Ya, pasti banyak yang mengejar anda dan juga cip yang
dititipkan ayah anda pada saya”
.
“Mungkin saja. Dan… cip? Cip apa?” Tanya Melody
penasaran. Gani pun menunjukan cip yang dia maksud pada Melody..
.
“Entahlah, saya tidak tau. Apa anda tau sesuatu
tentang benda ini? Saya berpikir ini adalah cip komputer, mungkin sebuah data
rahasia tentang tuan Laksani”
.
“Ya, sepertinya begitu. Kalau begitu aku titipkan
padamu, Tama. Aku akan meminta bantuan pada temanku yang hebat dalam IT.
Lagipula aku sama sekali tidak tau tentang cip itu, aku juga tidak terlalu
tertarik untuk mengikuti jejak ayahku”
.
“Baiklah, laksanakan, nona”
.
“Imel saja untukmu”
.
“I-Imel?”
.
“Apa kau lupa?” Melody tersenyum. “Itu adalah nama
panggilan darimu untukku, lho” Lanjutnya lagi..
.
“Ehh? Dulu saya memanggil anda seperti itu?” Tanya
Gani terkejut..
.
“Tentu saja. Bahkan hanya kau saja yang memanggilku
dengan panggilan seperti itu” Jelas Melody senang..~~~~~
.
.
.
Cast :
-Galus Gani Pratamayudha as Gani / Tama
-Jessica Veranda Tanumihardja as Ve / Peringkat 1 ’90
-Melody Nurramdhani Laksani as Melody / Imel / Peringkat 2 ’90
-Nabilah Ratna Ayu Azalia as Nabilah / Peringkat 3 ‘90
.
Author :
-Galus Gani Pratamayudha a.k.a Silent Rose
.
Picture :
-Rizky Bayu Oktavian
.
.
.
Thank you for reading the story, see you in the next chapter
Sunday, May 15, 2016
-
Tuesday, May 17, 2016

No comments:
Post a Comment