Coretan Fans 48 Family: White Rose and The Big Ten

Saturday, July 2, 2016

White Rose and The Big Ten

Chapter #1 : Dialah Orangnya
Genre : Action, School, Romance, Thriller, (17++)

.
HAPPY READING
.
.
.
~~~Author PoV~~~
.
Seorang lelaki memegang sebuah pistol jenis FN-57 di tangan kanannya, dan sebuah mawar putih yang terkena noda darah. Dia menunduk melihat ke bawah, tepatnya pada seorang lelaki tua yang tubuhnya terkena banyak luka tembak. Dia tergeletak tak berdaya karena luka fatal itu dan kehilangan banyak darah. Di bawah hujan yang cukup deras, air yang jatuh mengenai tubuh lelaki tua itu otomatis membersihkan tubuh itu dari darah yang mengalir terus menerus sama seperti air hujan. Bangunan yang terbakar hebat meski diguyur hujan disertai suara tembakan, ledakan, dan teriakan. Suasana itu cukup untuk menggambarkan jika keadaan sekitar sedang berada dalam masalah yang sangat besar. Lelaki yang tertunduk itu, dia hanya diam saja sambil menggretakan giginya pertanda kekesalannya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga mawar itu pun rusak..
.
“UHUK!! UHUK!!” Lelaki tua itu ternyata masih hidup, meski mungkin dia tau jika hidupnya tidak akan lama lagi..
.
“TUAN!! TUAN!! BERTAHANLAH!!” Pemuda berumur 16 tahun itu langsung beringsut mencoba memangku lelaki tua itu, namun lelaki tua itu menolaknya..
.
“Ambil cip ini…!! Cepat temukan… dia… dan lindungi… dia…!! Dia adalah… anakku...!!” Ucap lelaki itu yang langsung meninggal setelah menunjukan sebuah foto..
.
Fotonya bersama keluarganya yang sebenarnya. Pemuda itu mengambil cip yang diberikan bersamaan dengan foto itu kemudian melihat foto itu, ada seorang wanita yang cantik namun tidak asing baginya. Dia sudah bekerja bersama tuannya sejak kecil. Tuannya mengadopsinya karena dia hanyalah seorang anak yatim piatu sejak berumur tiga tahun, tidak tau siapa namanya dan siapa orang tuanya. Beberapa tahun menjadi pengawal rahasia tuannya, dia sangat tau kehidupan tuannya itu. Tapi selama 13 tahun ini, dia tidak pernah tau jika tuannya itu memiliki putri lainnya. Yang dia tau saat ini putri tuannya itu hanya satu dan sudah meninggal satu tahun yang lalu karena kecelakaan..
.
“Dia… Dia mirip sekali dengannya. Dengan---”
.
‘DUAR.. DUAR..’ Ledakan terjadi didekat pemuda itu. Pemuda itu langsung bangkit dan melihat pada sumber ledakan, sebuah restoran hancur karena ledakan itu. Dia segera pergi meninggalkan tuannya itu, dia pun harus kembali melawan semua musuh yang menghadangnya dan mengalahkannya..
.
***
.
.
~~~Author PoV : School~~~
.
Di suatu pagi, ada tiga siswi cantik yang sedang berkumpul sebelum pelajaran dimulai. Semua guru dan murid di sekolah itu tau siapa mereka, termasuk para penjaga kantin. Bahkan beberapa penjual di luar sekolah pun tau siapa mereka. Sudah jadi kebiasaan mereka jika sebelum pelajaran dimulai, mereka selalu mengobrol bertiga. Tidak ada yang mau dan berani mendekati mereka. Bukan karena sifat mereka yang sombong dan pemarah, tapi karena mereka sendiri yang terlalu takut untuk mendekati ‘Three Angels’ itu. Meski ada beberapa yang terkadang ikut dalam obrolan mereka, tapi mereka benar-benar ‘membuka tangan’ mereka selebar-lebarnya..
.
“Hei hei hei!! Kalian tau? Di kelas kita, nanti bakalan ada murid baru” Heboh seorang wanita cantik..
.
“Ya, terus? Kok lu heboh gitu sih, Bil?”
.
“Ya pastinya!! Kenapa? Soalnya murid baru itu cowok, dan banyak yang bilang ganteng. Tapi bukan itu masalahnya, banyak juga yang bilang kalau warna rambut cowok itu seputih salju, lho!!” Jawab Nabilah..
.
“Rambut warna putih? Pake pewarna kali, yak? HAHAHA!!”
.
“HAHAHA!! Lu bener banget, Mel!!”
.
“Ya kalau itu sih gue gak tau asli atau enggaknya, tapi masa ada murid yang masuk sekolah ini rambutnya putih? Kan dilarang tuh?”
.
“Ya itu sih urusan sekolah, gue sih ikut-ikut aja selama itu gak buat gue rugi atau semacamnya”
.
“Gue setuju sama Melody. Toh kita bertiga juga emang udah cantik ‘kan?”
.
“PASTINYA!! HAHAHA!!”
.
Ketiga siswi cantik itu sedang mengobrol senang bersama, tidak ada yang tidak mengenal mereka di sekolah itu. Kecantikan, kepintaran, dan kehebatan mereka benar-benar mengagumkan sekaligus menakutkan. Mereka duduk di bangku kelas 11 saat ini, dan berumur 16 tahun. Meskipun mereka baru berteman sejak awal masuk di sekolah itu, tapi mereka seolah sudah bertemu lama sekali..
.
Nabilah Ratna Ayu Azalia, peringkat ketiga di angkatannya ketika kenaikan kelas. Postur tubuhnya pendek, namun memiliki tubuh yang berisi. Dia adalah orang yang paling cerewet dan yang paling tidak bisa diam. Bahkan mereka berdua berpikir jika tidak ada Nabilah, suasana hati mereka selama ini mungkin akan hambar..
.
Melody Nurramdhani Laksani, peringkat kedua di angkatannya. Sama seperti Nabilah yang memiliki postur tubuh yang pendek, namun dia ‘kurang berisi’ jika dibandingkan Nabilah. Meski baru duduk di bangku kelas 11, tapi dia adalah orang yang memiliki pikiran yang terbuka dan dewasa. Dia juga bisa dikatakan orang yang bertanggung jawab, sosok keibuannya benar-benar membuat dirinya seakan ibu dari Nabilah karena dia yang lebih sering menasehati Nabilah yang cerewet..
.
Dan yang menduduki peringkat pertama di angkatannya, bisa dikatakan kalau dia adalah sosok yang dianggap ‘bidadari’. Jessica Veranda Tanumihardja. Banyak murid yang menganggap jika murid dengan panggilan ‘Ve’ itu adalah yang paling sempurna. Tubuhnya lebih tinggi dibandingkan dua sahabatnya itu, namun dia sangat pemalu dan pendiam meski sedang bersama kedua sahabatnya itu. Dia seorang yang sangat mengerti dan menyukai desain, dia juga memiliki tutur bahasa yang lembut dan halus..
.
~
.
Bel pun berdering, tanda pelajaran sekolah pun dimulai. Semua murid masuk ke kelasnya masing-masing..
.
“Berdiri!!” Teriak ketua kelas. “Salam!!” Lanjutnya. “Selamat pagi, ibu guru!!” Semua murid berucap bersamaan ketika sang guru pun masuk ke kelas. Tepatnya wali kelas..
.
“Baiklah, semuanya duduk!!” Perintah guru itu, dan semuanya pun duduk. “Ya, mungkin beberapa dari kalian sudah ada yang berpikir jika ada murid pindahan yang masuk di kelas kita. Itu memang benar”
.
“WOAAAAHH!!” Teriak riuh seluruh murid di kelas itu..
.
“Cowok atau cewek, bu?!!”
.
“Baiklah, semuanya tenang. Jangan ribut. Dasar kalian ini, selalu saja ingin yang tampan atau cantik!! HAHAHA!!”
.
“HAHAHA!!”
.
“Baiklah. Nak? Ayo masuk!!”
.
“Baik, bu” Jawab sebuah suara asing dari luar kelas. Dia pun berjalan masuk ke dalam kelas, dan semua mata pun langsung tertuju pada murid itu..
.
“!!!??”
.
“Selamat pagi, semuanya. Nama saya Galus Gani Pratamayudha, panggil saja Gani. Mulai sekarang, saya akan menjadi teman kalian semua. Mohon kerja samanya” Ujar Gani sambil membungkukan badannya..
.
“KYAAAA!!” Teriak para murid perempuan heboh, terlebih lagi Nabilah yang tipikal orang yang mudah heboh..
.
“Woaaaahh!! Rambutnya… putih…”
.
“Liat? Gue gak bohong!!” Ujar Nabilah bangga pada dua sahabatnya. Sedangkan Melody dan Ve masih terpaku saja dengan sosok murid baru dihadapannya..
.
“Baiklah, Gani? Kamu bisa duduk di paling belakang dekat jendela”
.
“Baik, bu. Terima kasih”
.
“Untuk semuanya, ibu ingin kalian berteman baik dengan Gani”
.
“BAIK, BU!!” Teriak mereka semua semangat. Setelah perkenalan murid baru, mereka pun mulai masuk ke dalam pelajaran. Jam sekarang adalah matematika, pelajaran favorit Melody karena dia mendapatkan nilai sempurna saat ujian kenaikan kelas..
.
~
.
Istirahat tiba, beberapa murid langsung saja mendekati Gani dan berkenalan, terlebih lagi para murid perempuan. Sepertinya mereka tertarik dengan keunikan Gani pada rambutnya..
.
“Hei hei hei. Rambutmu itu warna asli?”
.
“Ya, ini adalah asli” Balas Gani seadaanya dan terkesan dingin. Dan pertanyaan pun terus dilontarkan para murid itu, tapi Gani menjawab seadanya dan dengan dingin. Meski begitu, dia tetap tidak sombong dengan tidak menjawab pertanyaan. Yang mereka pikir tentang Gani adalah orang yang cuek dan dingin terhadap lingkungan, namun tetap peduli..
.
Saat ketiga murid papan atas bangkit dan pergi, Gani pun ikut bangkit..
.
“Permisi, saya ada urusan”
.
“Ehh? Emangnya kamu udah tau isi sekolah ini?”
.
“Beberapa, saya akan mencaritahu sendiri. Terima kasih atas perhatiannya” Ujar Gani yang berlalu meninggalkan mereka..
.
“Dialah orangnya. Melody Nurramdhani Laksani, anak pertama dari tuan Laksani. Dia benar-benar cantik sama seperti yang ada di foto. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan dia mati di tangan orang lain!!” Pikir Gani. Dia ikuti ketiga perempuan cantik itu dengan sangat ketat..
.
“Hmm?” Nabilah merasa ada yang janggal. Dia berbalik ke belakang, dan mendapati Gani sedang berada di belakangnya sambil menatapnya..
.
“Loh? Gani?” Tanya Nabilah, dan seketika Melody dan Ve pun berbalik..
.
“Kamu ternyata, ada apa?” Tanya Ve..
.
“Tidak, saya hanya ada urusan sedikit. Bisakah kalian menunjukan dimana letak kantin?”
.
“Melody, benar dia orangnya!!” Pikir Gani senang..
.
“Kantin? Kebetulan kami akan pergi ke kantin, kau mau ikut?” Ajak Melody ramah..
.
“Oh ya? Baiklah, terima kasih. Maaf merepotkan. Tapi, apa tidak apa berjalan bersama kalian?” Tanya Gani khawatir..
.
“Tidak apa, kita itu teman sekelas” Jawab Melody..
.
~
.
Mereka pun sampai di kantin. Dan saat di kantin, mereka pun menjadi pembicaraan ‘bisik-bisik’ para murid. Tentu saja, tiga murid pemegang posisi puncak, dengan seorang murid pindahan yang unik dan tampan pasti akan menarik perhatian siapapun. Terlebih lagi sosok lelaki itu berwajah kalem namun dingin..
.
Mereka duduk dibangku yang kosong bersama dan memesan makanan. Sambil menunggu mereka pun sedikit bertanya tentang Gani, dia menjawab namun masih tetap dengan seadanya dan dingin..
.
“Kau ini, dasar cowok dingin!! Kebanyakan minum air es, yah?” Tanya Nabilah gemas..
.
“Tidak, saya dilarang untuk minum air es terlalu banyak” Jawab Gani serius..
.
“Yaelah, dijawab serius pula” Ucap Nabilah..
.
“Makanya kalau jadi anak tuh yang normal aja, jangan kebanyakan mau tau”
.
“Ahhh!! Dasar lu, Ve. Ya biarin dah, terserah gue. Lagian lu berdua juga pasti terhibur kalau ada gue, bener ‘kan?” Tanya Nabilah. Dan mereka pun hanya mengangguk sambil terseyum kecut..
.
“Ngomong-ngomong, kamu dari sekolah mana?” Tanya Melody penasaran..
.
“Sekolah? SMAN 1 Semarang” Jawab Gani berbohong tentunya. Itu karena dia tidak pernah sekolah sekali pun, meski begitu, dia adalah anak yang pintar dan cekatan. Namun maksudnya disini adalah dalam perkelahian atau sejenisnya..
.
“Hmm... Cukup jauh juga. Kamu sekarang tinggal dimana?”
.
“Apartemen”
.
“Wah!! Ternyata kamu orang yang cukup berada juga”
.
“Tidak juga”
.
“Haaahh...” Mereka menghela nafas ketika mengobrol dengan Gani. Dia orangnya seadanya, dingin, dan cenderung pendiam. Sama seperti Ve..
.
“Ve?” Nabilah menyikut Ve. “Cocok tuh sama lu. Sifat lu berdua bener-bener sama. Jodoh kali, yak? Hehehe” Goda Nabilah..
.
“Uuuhh!! Apa-apaan sih? Dasar lu!!” Ujar Ve malu..
.
.
~~~Author PoV : Apartment~~~
.
Gani saat ini sedang berbaring di kamar apartemennya, pikirannya kosong entah kemana, dia bingung ingin melangkah. Dia lihat cip yang diberikan tuannya dengan teliti, mencoba untuk mengetahui kenapa tuannya itu memberikan cip berharga itu padanya..
.
“Cip ini sangat berharga untuk tuan, aku tidak pantas memegangnya. Dan lagi, apa yang ada di dalam cip ini sehingga keluarga tuan di incar oleh orang-orang jahat?!! Bajingan kalian semua!! Saat ini mungkin hanya Melody yang tau maksud dari semua ini. Jika dia tau apa yang harus dilakukan terhadap cip ini, tentu itu akan membuat keadaan lebih jelas lagi, tapi mungkin juga akan menghancurkan masa remaja Melody” Pikirnya. Dia bolak balik cip itu, namun tetap tidak ada 1 petunjuk yang dia dapatkan..
.
“Berpikir!! Berpikir berpikir berpikiiir!! Sial!! Aku tidak bisa memikirkan apapun tentang semua ini!!” Teriaknya kemudian dengan kesal. Dia mencoba menenangkan tubuhnya, dia ambil setangkai mawar putih dan menghirup aromanya dalam-dalam..
.
“Huuuuhh...” Dia menghela nafas panjang. “Mawar memang bisa membuatku jauh lebih tenang. Mungkin kali ini aku akan selalu membawa setangkai mawar setiap pergi ke sekolah itu, ya meski tidak akan bertahan lama. Setidaknya hanya bagian kelopaknya saja, tidak dengan batangnya yang berduri menggemaskan ini” Ujarnya sambil menatap mawar putih itu..
.
~
.
Malam hari tiba, saat ini Gani sedang merangkai kembali pistolnya yang baru selesai dia bersihkan di ruang tamu. Sambil menonton acara televisi yang baginya membosankan, tapi beruntung apartemennya memiliki interior yang cukup baik baginya. Satu ruang tamu yang cukup besar, satu kamar mandi lengkap dengan isinya, satu kamar tidur, satu dapur, dan satu ruang kosong yang memang sengaja diberikan oleh pemilik gedung, dan satu balkon kecil untuk dia melihat keluar apartemen. Beruntung juga untuk Gani ketika mengetahui hal itu, jadi dia bisa menyimpan beberapa barang di ruangan kosong itu. Dia sendiri berada di lantai ketiga dari total sepuluh lantai..
.
‘CKLEK.. CKLEK..’
.
“Hmm... Sepertinya aku harus membeli senjata baru. Lagipula senjata ini sudah cukup lama bersamaku, apalagi kali ini aku harus melindungi Melody. Aku harus mengeluarkan semua yang aku miliki untuk melindungi harta terakhir tuan Laksani!! Jika aku gagal, maka---”
.
‘PRANK.. BRAK..’ Tiba-tiba ada yang datang ke dalam apartemen Gani melalui kaca jendela dengan memecahkannya. Gani segera pergi ke kamarnya karena memang kebetulan kamarnya itu memiliki jendela yang menghadap keluar. Saat dia sampai di kamarnya, dua orang asing yang bertopeng pun sudah berada di atas kasurnya sambil memegang senjata..
.
“ITU DIA!!”
.
“EHK!! SIAL!! KENAPA HARUS SEKARANG?!!” Pikir Gani kesal. Dia belum selesai merakit pistolnya, dan sudah dipastikan dia berlari. Saat dua orang asing itu mengejarnya, dia tendang pintu itu dengan kuat hingga menghantam dan menjatuhkan salah satu penjahat itu..
.
Dia raih selongsong pelurunya, kemudian dia lempar untuk menarik perhatian penjahat itu sebelum menembak Gani. Gani pun langsung menerjang ketika musuhnya reflek menghindar, dia tendang menggunakan lututnya tepat pada wajahnya, kemudian dia hantam kepala orang itu menggunakan pistolnya..
.
Saat dia mengetahui jika satu teman musuhnya sadar, dia langsung meraih pistol musuhnya yang sudah memakai peredam..
.
‘CYUT.. CYUT..’ dua tembakan cukup untuk membunuh orang itu. Kemudian dia tembak kedua kaki dan tangan orang kedua. Gani segera bangkit menuju kamarnya lalu dia melihat keluar jendela. Tidak ada yang aneh, tidak ada sesuatu yang berhubungan dengan kedua orang itu..
.
“Mereka pasti menunggu di suatu tempat. Tidak ada tanda-tanda rekan mereka. Dan lagi, bagaimana mereka bisa sampai di lantai ini? Keparat!! Sepertinya mereka sudah tau jika aku tinggal disini, aku harus pindah besok. Padahal baru saja beberapa minggu aku menetap disini, tapi mereka yang mengincar cip itu sudah tau keberadaanku. Semoga saja mereka tidak mengetahui keberadaan Melody atau mengetahui siapa Melody yang sebenarnya” Pikir Gani kesal..
.
“Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Dia tidak sadarkan diri, tidak ada waktu untuk menunggunya sadar dan menanyakan siapa yang memerintahnya. Aku harus segera membersihkan kekacauan ini dan mencari tempat tinggal baru” Pikir Gani kesal..
.
.
~~~Author PoV : School~~~
.
Ini adalah hari kedua untuk Gani bersekolah, dia masih belum membiasakan diri dengan lingkungan sekitar..
.
“Hei, kalian. Nabilah, Melody, dan Ve. Saya ingin meminta bantuan pada kalian”
.
“Ehh? Formal banget bahasanya. Biasa aja, Gan. Jangan formal gitu, kayak prajurit aja” Canda Nabilah sambil menepuk-nepuk pundak Gani..
.
“Saya memang prajurit”
.
“Ehh?” Mereka terkejut antara percaya dan tidak dengan ucapan Gani itu, mereka terdiam. Tapi dilihat dari tingkahnya sampai sekarang, Gani memang memakai bahasa yang formal, dan terkadang dia menjawab semua pertanyaan dengan serius meski itu hanya untuk candaan. Seperti apa yang baru saja mereka alami..
.
“Kesampingkan hal itu, kamu butuh bantuan apa?” Tanya Ve penasaran..
.
“Tempat tinggal, apartemen yang saya tinggali sudah tidak aman lagi untuk saya”
.
“Hah? Tidak aman? Maksudmu, tidak terawat, kurang penjagaan, dan kurang fasilitas?”
.
“Ya”
.
“Heeee? Mana ada apartemen kayak gitu?” Tanya Melody bingung. “Dimana-mana apartemen itu ya fasilitasnya terjamin”
.
“Apartemen Melody, tepat di samping apartemen Melody. Kamu mau?” Tawar Nabilah tiba-tiba..
.
“???!!”
.
“Baiklah, dimana---”
.
“Kenapa harus di apartemen gue?!!” Potong Melody memprotes usulan Nabilah..
.
“Udahlah, biar lu bisa lebih deket sama Gani. Lagian lu sendiri yang pingin apartemen di samping lu ada yang ngisi. Hehehe…” Tawa Nabilah dengan penuh kemenangan..
.
“Udahlah, Mel. Terima aja, sekaligus bantu Gani. Ya kalau dia pingin nanya sesuatu, lu ‘kan yang paling tau?”
.
“Haaaahh... Apa boleh buat? Ya udah, lagian gak ada ruginya kalau Gani jadi tetangga gue” Pasrah Melody. Melody segera memberikan nomor teleponnya dan alamat apartemennya pada Gani..
.
“Terima kasih bantuannya”
.
“Ya, sama-sama”
.
Pelajaran pun dimulai, tapi Gani tidak bisa fokus pada pelajaran sejarah itu. Yang dia pikirkan adalah masalah pribadinya dan masalah yang mungkin akan dihadapi oleh Melody ke depannya..
.
“Jika aku dekat dengan Melody, itu sama halnya aku membawa bahaya padanya. Tapi jika aku jauh darinya, cepat atau lambat, mereka yang mengincar cip ini pasti akan mengetahui juga identitas Melody yang sebenarnya. Semua ini hanyalah masalah waktu saja!! Dan Melody belum tau tentang kematian tuan Laksani, ayah kandungnya. Apa yang harus aku katakan nanti?”
.
“Tidak berguna!! Sebelum aku memikirkan kata yang akan aku ucapkan pada Melody nanti, lebih baik aku dekat dengannya saja. Entah ada bahaya atau tidak, aku akan lebih mudah untuk menjaganya. Toh kalau pun Melody terkena masalah ketika di apartemen, aku akan segera datang menolongnya”
.
“Gani? Coba jawab pertanyaan bapak!! Apa kamu bisa menjelaskan yang dimaksud tragedi Trisakti?”
.
“Baik pak!! Tragedi Trisakti adalah peristiwa penembakan, pada tanggal 12 Mei 1998, terhadap mahasiswa pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Kejadian ini menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta, Indonesia serta puluhan lainnya luka.”
.
“…..” Mereka semua terdiam dengan penjelasan Gani. Dia menjelaskan dengan bertatap langsung pada guru, tidak melihat buku sedikit pun. Bahkan bukunya tidak membuka materi itu..
.
“Latar belakang kejadian ini adalah karena ekonomi Indonesia mulai goyah pada awal 1998, yang terpengaruh oleh krisis finansial Asia sepanjang 1997 - 1999. Mahasiswa pun melakukan aksi demonstrasi besar-besaran ke gedung DPR/MPR, termasuk mahasiswa Universitas Trisakti”
.
“Mereka melakukan aksi damai dari kampus Trisakti menuju Gedung Nusantara pada pukul 12.30. Namun aksi mereka dihambat oleh blokade dari Polri dan militer datang kemudian. Beberapa mahasiswa mencoba bernegosiasi dengan pihak Polri”
.
“Baik, cukup. Kau pintar ternyata. Kamu boleh duduk” Ujar sang guru cepat..
.
Gani duduk di bangkunya, “Terima kasih, pak”
.
Dan seketika suasana pun kembali riuh dengan penjelasan Gani yang sempurna itu, bahkan The Three Angels pun tidak seperti Gani dan harus melihat buku terlebih dulu..
.
~
.
Akhirnya Gani selesai mengurus kepindahan apartemennya. Gedung yang baru menurutnya jauh lebih baik dalam banyak aspek, terlebih lagi keamanannya yang jauh lebih ketat baginya. Dia hanya membawa sedikit barang pribadi agar lebih mudah jika dia harus kembali pindah secara mendadak..
.
“Baiklah, ini apartemen milikmu. Biar aku bantu kau membereskannya”
.
“Ah!! Tidak perlu, biar saya sendiri” Ujar Gani panik. Tentu saja, beberapa tas miliknya berisi senjata pribadinya. Dia tidak akan membiarkan orang lain tau hal itu, termasuk anak tuannya itu, Melody..
.
“Kau yakin?”
.
“Ya. Terima kasih tawarannya, tapi biarkan saya sendiri. Nona Laksani lebih baik beristirahat saja, jangan memaksakan diri”
.
“Ehh?!! No-Nona Lak-Laksani... kau bilang?”
.
“Ehh? Maaf lancang” Gani meminta maaf pada Melody..
.
“Tidak tidak tidak. Itu tidak apa-apa. Tapi panggil saja aku Melody atau Imel, jangan seperti itu. Aku merasa jadi seorang putri... Hehehe...” Ujar Melody tersipu. “Kalau begitu aku masuk dulu. Bila ada perlu, kau bisa mengetuk pintu apartemenku atau menghubungiku. Bye”
.
“Baiklah, terima kasih bantuannya. Bye”
.
~
.
Gani pun selesai membereskan seluruh barangnya. Tapi dia juga sebenarnya tau jika semua ini tidak akan bertahan lama. Cepat atau lambat, apartemen Gani akan kembali di serang orang yang mengincar cip itu, dan mungkin akan mengincar Melody jika mereka tau siapa Melody sebearnya. Sedangkan Gani masih belum tau kejelasan tentang cip itu. Ingin dia tanyakan pada Melody, itu terlalu berbahaya untuk saat ini. Melody pun akan terkejut jika Gani akhirnya memberitahu tentang kematian tuannya itu..
.
“Cip ini… Ada apa dengan cip ini? Sebenarnya apa isinya? Kenapa mereka semua mengejarku untuk mendapatkan cip ini? Tuan? Sebenarnya apa yang tuan simpan dalam cip ini?”
.
“Aku juga tidak bisa menunggu lagi. Semakin lama waktu berjalan, maka ancaman semakin datang silih berganti, atau mungkin bersamaan. Mau tidak mau, aku harus menanyakan ini pada Melody”
.
“Akan aku tanyakan hari ini saja, aku juga tidak bisa merahasiakan identitas dan kabar kematian ayah Melody lebih lama lagi” Dia segera bangkit. Dia siapkan pistol dan pisau untuk berjaga-jaga dari serangan mendadak. Saat dia membuka pintu, kembali ada orang asing memakai topeng yang menunggu dihadapannya..
.
“!!!??”
.
‘BUK.. GRAP..’ Orang asing itu langsung menangkap Gani dan menguncinya, tapi Gani yang sudah terlatih untuk hal seperti ini, dengan mudahnya melepaskan diri..
.
‘BUK.. BUK..’ Dia pukul menggunakan sikutnya, kemudian dia tendang dengan kuat. Dia pun membunuhnya dengan mematahkan lehernya, kemudian dia menggusur musuhnya itu ke dalam apartemen miliknya..
.
‘TOK.. TOK..’ Gani pun akhirnya selesai dengan urusannya, dia ketuk pintu apartemen Melody, dan Melody pun membuka pintunya..
.
“Masuklah” Ajak Melody. Gani segera masuk dan duduk di sofa. “Kamu butuh bantuan?”
.
“Tidak, saya kemari hanya ingin menyampaikan pesan dan sesuatu”
.
“Pesan?”
.
“Keluarga anda, semuanya sudah meninggal. Tuan Mika Laksani, nyonya Tasya Ayu Laksani, dan adik anda nona Frieska Anastasia Laksani”
.
“!!!!!”
.
“TUNGGU!! BAGAIMANA KAU TAU NAMA KELUARGAKU?!! SIAPA KAU SEBENARNYA?!!”
.
“Nama saya memang asli. Tapi satu hal yang pasti, saya adalah pengawal pribadi tuan Mika Laksani”
.
“TUNGGU TUNGGU TUNGGU!! KAU... KAU... TAMA...!!?”
.
“!!!??’ Tentu Gani juga terkejut dengan ucapan Melody. Tama, itu adalah nama panggilan Gani oleh Frieska dan hanya dia saja yang memanggilnya seperti itu..
.
“Ba-Bagaimana anda tau nama itu?!! Hanya nona Frieska saja yang memanggil saya dengan panggilan itu”
.
“Benarkah itu?!! Dulu kita sering bermain bersama ketika kita berumur empat tahun, dan akulah orang yang memanggilmu seperti itu. Saat itu umur Frieska baru dua tahun. Dia memang mirip denganku, sangat teramat mirip meski berbeda dua tahun”
.
“Benarkah itu?!!”
.
“Ya, kau pernah terjatuh dari pohon jambu dan mendapat luka sobek di punggungmu saat bermain denganku. Di punggungmu ada luka, ‘kan?”
.
“Be-Benar, nona” Sekarang justru Gani yang terkejut dengan penjelasan Melody. Ternyata Melody mengenali dirinya meski baru saat ini. Nama ‘Tama’ itu adalah pemberian Melody, sedangkan Melody sudah tidak tinggal bersama keluarganya sejak umur lima tahun, dan saat itu Gani tidak tau apa-apa. Yang dia tau selama ini adalah Frieska dan Melody yang dia anggap sama saja..
.
“Tapi, memang seperti itu. Saat pertama kali melihat foto anda, saya juga merasa tidak asing dengan wajah anda”
.
“Kau benar-benar polos saat itu, tidak peduli siapa yang bermain denganmu antara kami berdua meski umur kami berbeda dua tahun, ditambah Frieska yang belum lancar berbicara”
.
“Ya, cukup sulit saat itu untuk mengingat dan membedakan wajah cantik kalian berdua. Lalu jika tau, kenapa anda tidak menegur saya saat perkenalan kemarin?”
.
“Sebenarnya wajahmu tidak asing bagiku, apalagi namamu. Tapi di sisi lain aku juga lupa denganmu, yang aku ingat hanya ‘Tama’ saja. Dan jika kau saat itu berkata nama panggilanmu ‘Tama’, mungkin aku akan langsung tau jika itu adalah kau”
.
“Lalu yang tadi?”
.
“Itu karena kau menyebutkan semua nama anggota keluargaku dengan tepat, ditambah kau yang mengaku sebagai pengawal pribadi ayahku. Aku memang tau kalau ayahku memiliki seorang pengawal pribadi yang seumuran denganku, tapi aku tidak tau bagaimana wajahnya atau siapa namanya. Aku hanya berpikir tentang sekolah sekolah dan sekolah selama ini. Dan aku juga tidak pernah tau jika kau akan menjadi pengawal pribadi ayahku. Kau pasti sudah berlatih dengan sangat keras, ‘kan?”
.
“Ya, semenjak berumur enam tahun, saya sudah memegang senjata”
.
“Woaaaahh!! Aku baru tau itu!!”
.
“Baiklah, sepertinya sudah ada kesalah pahaman saat ini. Kita berdua sama-sama lupa tentang hal itu. Dan kembali ke topik sebelumnya, keluarga---”
.
“Ya, aku sudah tau itu” Potong Melody cepat. “Itu sudah diberitakan dimana-mana, bahkan kedua sahabatku sudah tau. Mungkin beberapa ada yang ganjil dengan nama belakangku ini, tapi sepertinya mereka tidak peduli. Guru pun tidak ada yang komplain karena selama ini aku selalu memakai nama wali, bukan nama orang tua kandung” Lanjut Melody menjelaskan..
.
“Jadi, itu sebabnya selama seminggu ini anda tidak dikejar?”
.
“Dikejar? Maksudmu?”
.
“Ya, pasti banyak yang mengejar anda dan juga cip yang dititipkan ayah anda pada saya”
.
“Mungkin saja. Dan… cip? Cip apa?” Tanya Melody penasaran. Gani pun menunjukan cip yang dia maksud pada Melody..
.
“Entahlah, saya tidak tau. Apa anda tau sesuatu tentang benda ini? Saya berpikir ini adalah cip komputer, mungkin sebuah data rahasia tentang tuan Laksani”
.
“Ya, sepertinya begitu. Kalau begitu aku titipkan padamu, Tama. Aku akan meminta bantuan pada temanku yang hebat dalam IT. Lagipula aku sama sekali tidak tau tentang cip itu, aku juga tidak terlalu tertarik untuk mengikuti jejak ayahku”
.
“Baiklah, laksanakan, nona”
.
“Imel saja untukmu”
.
“I-Imel?”
.
“Apa kau lupa?” Melody tersenyum. “Itu adalah nama panggilan darimu untukku, lho” Lanjutnya lagi..
.
“Ehh? Dulu saya memanggil anda seperti itu?” Tanya Gani terkejut..
.
“Tentu saja. Bahkan hanya kau saja yang memanggilku dengan panggilan seperti itu” Jelas Melody senang..~~~~~
.
.
.
Cast :
-Galus Gani Pratamayudha as Gani / Tama
-Jessica Veranda Tanumihardja as Ve / Peringkat 1 ’90
-Melody Nurramdhani Laksani as Melody / Imel / Peringkat 2 ’90
-Nabilah Ratna Ayu Azalia as Nabilah / Peringkat 3 ‘90
.
Author :
-Galus Gani Pratamayudha a.k.a Silent Rose
.
Picture :
-Rizky Bayu Oktavian
.
.
.
Thank you for reading the story, see you in the next chapter

Sunday, May 15, 2016
-

Tuesday, May 17, 2016

No comments:

Post a Comment