Coretan Fans 48 Family: Alunan Melody

Wednesday, January 11, 2017

Alunan Melody

ß Sebelumnya di Chapter 2 : Kematian Kedua
.
“Sialan!! Ini semua tidak masuk akal!! Bagaimana kau bisa membaca pikiranku? Kenapa kau hanya memiliki ingatan selama 15 jam saja? Kenapa kau tidak terluka setelah hanyut oleh sungai yang deras? Kenapa kau takut dengan polisi? AAAAHH!!”
.
“Sepertinya aku memang harus mengantarmu ke kantor polisi…”
.
“JANGAN!! AKU MOHON JANGAN BAWA AKU KE KANTOR POLISI!! HIKS…!! HIKS…!!”
.
“Pak Arie? Kami kembali mendapatkan kabar telah ditemukannya dua mayat akibat pembunuhan pada lokasi yang berbeda!!”
.
“Apa?!! Pembunuhan lagi?!! Kasus kemarin pun belum selesai dan tidak ada kemajuan, tetapi sudah ada lagi pembunuhan. Kita menuju TKP terdekat dahulu!!”
.
“Gue juga dengernya samar-samar dari anak kampus, gue nggak tau pastinya gimana. Tapi, kemarin ‘kan emang ada kabar mutilasi di Bandung? Nah, dia itu anak rekam medis. Dan gue denger lagi kalau ada korban lagi, kejadiannya tadi malem, korbannya anak hukum sama dosen inggris!! Dan Gani, anak hukum itu meninggal nggak jauh dari rumah lu!!”
.
“Bagaimana bisa?!! Apa yang sebenarnya terjadi?!! Siapa sebenarnya pelaku pembunuhan itu?!!”
.
à
.
Chapter 3 : Tragedi Ketiga

.
.
~~~Author PoV : City~~~
.
Sudah dua hari semenjak terakhir kali kasus pembunuhan sadis terjadi, polisi hanya mendapatkan sedikit petunjuk. Meskipun ada kamera cctv, pelaku itu seolah pintar dalam menyamarkan diri dengan orang di sekitarnya, kemudian memilih korban yang sepertinya sudah ditargetkan sebelumnya. Itu karena ketiga kasus itu benar-benar terjadi di tempat sepi, dan Arie serta anak buahnya sangat yakin jika pelaku sudah menandai dan memperhatikan gerak-geriknya..
.
Sedangkan keadaan kampus Gani mulai tenang kembali setelah tidak ada lagi korban jatuh yang berasal dari kampusnya entah itu dosen atau mahasiswa. Aktifitas kembali normal seperti biasa dan kembali bisa dilakukan hingga malam hari karena ada beberapa polisi yang berjaga..
.
~
.
“Kamu nggak takut?” Tanya Gani pada adiknya..
.
“Ngapain harus takut? ‘Kan ada kakak sama kak Melody yang lindungi Anin, jadi nggak perlu takut”
.
“Woah!! Iya deh iya, kakak lindungi kamu, deh!! Dasar!!” Gemas Gani sambil menggelitik pinggang Anin..
.
“Geli, kak!!”
.
“Gani? Tadi kau berpikir untuk berbuat mesum pada adikmu, bukan?” Celetuk Melody tiba-tiba. Tentu saja dia tau karena bisa membaca pikiran seseorang..
.
“HAH?!!”
.
“Woah!! Aku bilang jangan membeberkan pikiran seseorang, terlebih lagi seorang lelaki!!” Teriak Gani kesal..
.
“Kakak!! Dasar!! Masa adik kandung sendiri mau dimesumi, sih?!! Jahat!! Bejat!!”
.
“Sialan!! MELODYYY!!” Teriak Gani kesal..
.
.
~~~Author PoV : Police~~~
.
Selama dua hari itu, Arie disibukan oleh kasus mutilasi itu, dia sedikit mengenyampingkan masalah sepele seperti pencurian atau tawuran dan menyerahkannya pada bawahannya. Dia memang sedang memprioritaskan masalah itu, tentu saja, dia tidak ingin kejadian itu kembali lagi terjadi. Walau dia sangat yakin jika korban mutilasi akan kembali bertambah. Tapi, dia menyesali dirinya yang tidak bisa bertindak cepat. Umumnya polisi akan langsung menemukan petunjuk atau pelaku, tetapi tidak kali ini. Tidak ada petunjuk lagi yang berhasil dia atau anak buahnya dapatkan..
.
Petunjuk seluruh korban berasal dari kampus yang sama benar-benar kurang, Arie tidak tau motif pembunuhan itu apa, semua korban pun tidak ada yang memiliki masalah kehidupan yang berhubungan selain dosen dan mahasiswa dari kampus yang sama, dan Arie masih tidak mengetahui apakah pelaku pembunuhan ada dua orang atau satu..
.
Untuk mencari petunjuk lebih, Arie memerintahkan anak buahnya untuk bekerja 24 jam sekarang, termasuk dirinya tentunya. Mereka kali ini akan bekerja secara bergantian, tapi tidak untuk Arie yang sejak kasus terakhir tidak tidur, dan terus berkeliling kota setiap malam hari hingga fajar tiba untuk melakukan patroli. Dan semenjak itu memang pembunuhan tidak terjadi lagi, ada kemungkinan jika pelaku takut dengan kehadiran polisi. Meski begitu, mereka tidak mengendurkan pertahanan mereka sedikit pun..
.
“Tapi, aku dan anak buahku tidak bisa melakukan itu selamanya. Justru jika seperti itu, kemungkinan besar pelaku akan menyerang polisi. Aku masih belum apakah pelaku memang takut polisi atau sedang merencanakan hal baru” Gumam Arie yang kembali membuka dan membaca berkas berharap ada petunjuk  yang terselip..
.
‘BRAK..’
.
“!!!??”
.
“LAPORAN, PAK!! JASAD MUTILASI KEMBALI DITEMUKAN DI TAMAN KOTA!!” Teriak Rian setelah membuka pintu secara keras..
.
“APA?!!” Balas Arie dengan teriakan yang lebih keras. Tentu saja itu hal yang tidak terduga, korban kembali bertambah setelah dua hari berhenti. Arie segera menyiapkan diri dan pergi ke lokasi kejadian..
.
Setelah sampai di sana, dia langsung menghampiri jasad korban itu dan memeriksa. Dan dia terkejut setelah memeriksa korban. “DARAH DAN TUBUH INI… MASIH… HANGAT…?!!” Pikir Arie tak percaya. Dengan kata lain, korban baru saja dibunuh beberapa menit yang lalu. Itu berarti pelaku tidak berada jauh dari sekitar taman..
.
“BAWA AKU KE RUANGAN CCTV!!” Perintah Arie..
.
Mereka pun langsung mengantar Arie ke ruang cctv taman. Arie langsung mengecek sendiri tayangan satu jam yang lalu satu persatu. Lalu tiba-tiba cctv 2 rusak selama 4 detik, lalu kembali berfungsi dan tayangan menunjukan orang-orang yang berlarian berhamburan seperti diserang teroris. Saat Arie mengecek cctv lain, tidak ada orang yang memainkan cctv sehingga menjadi rusak, semuanya normal. Tapi ketika waktu tayangan cctv lain sama dengan waktu tayangan cctv 2, sebuah tayangan tak terduga ditampilkan dari cctv lain. Sebuah tayangan yang tidak dapat diterima logika..
.
“BA-BAGAIMANA… BISA...?!!” Itulah yang mereka pikirkan ketika melihat korban yang tiba-tiba termutilasi dengan sendirinya. Meskipun jauh dari TKP, tapi adegan itu cukup jelas dilihat oleh orang yang berada di ruangan. Seperti ada benang tajam dan kuat tidak terlihat yang mengiris langsung korban, tapi anehnya hanya satu saja yang terkena. Orang sekitar pun langsung berlarian ketakutan, tapi ada dua orang yang jatuh pingsan di dekat korban..
.
“Tunggu, hentikan!!” Perintah Arie yang kemudian teknisi menghentikan tayangan, “Perbesar bagian ini!!” Ujar Arie sambil menunjuk dua orang yang tergeletak di dekat korban..
.
“Nabilah…?!! Ferdi…?!! Kenapa bisa ada di sana?!!” Pikir Arie bingung yang melihat mereka berdua tergeletak tak sadarkan diri. Ya, tentu Arie mengenal mereka berdua karena mereka adalah teman anaknya dari kampus yang sama. “Kesampingkan mereka berdua!! Yang lebih penting, bagaimana bisa korban terpotong begitu saja?!! SIALAN!! APA-APAAN ITU?!! APA YANG SEBENARNYA TERJADI?!!”
.
Sungguh sebuah tayangan yang tidak dapat dipercaya, tidak ada orang yang bisa memutilasi di tengah keramaian tanpa menyentuh korbannya. Kecuali seperti pikiran Arie tadi, yaitu menggunakan benang kuat dan tajam yang sudah dipersiapkan, tapi dampaknya pasti akan mengenai orang di sekitarnya. Orang-orang di sekitarnya pun tidak ada yang melakukan gerakan mencurigakan, mereka sibuk dengan urusannya masing-masing..
.
“Aku ingin tayangan cctv itu!! Sekarang, dimana dua orang yang pingsan di dekat korban?”
.
“Mereka sudah di bawa ke rumah sakit terdekat untuk dilakukan perawatan”
.
“Baiklah, aku akan pergi ke rumah sakit. Rian? Kau ikut bersamaku!! Sisanya cepat urus dan amankan TKP, kumpulkan semua barang bukti dan petunjuk termasuk semua tayangan cctv itu dalam jangka waktu satu jam, dan aku ingin beberapa saksi!!”
.
“SIAP, PAK!!” Jawab anak buahnya tegas tegas..
.
~
.
Arie dan Rian sampai di rumah sakit, mereka langsung mencari Ferdi dan Nabilah melalui perawat. Setelah menemukannya, mereka segera pergi ke ruangan Ferdi dan Nabilah. Lalu mereka melihat ada beberapa anak buahnya yang menunggu. Melihat kedatangan atasannya, mereka langsung memberi hormat dan memberikan laporan pada Arie. Setelah mendapatkan laporan anak buahnya, Arie dan Rian langsung masuk ke ruangan dimana Ferdi dan Nabilah beristirahat..
.
Saat mereka masuk, tatapan kosong langsung terlihat dari mata mereka berdua. Tentu saja, mereka terkejut dan terguncang karena melihat seseorang yang terpotong begitu saja di hadapan mereka, bagaimana mereka tidak terkejut dan terguncang? Arie langsung menyentuh pundak Ferdi, sedangkan dia langsung melihat siapa yang menyentuh pundaknya. Sorot matanya sedikit berubah karena dia tau siapa yang datang..
.
“Pa-paman…?” Gumam Ferdi..
.
“Paman melihat semuanya di cctv, sekarang kamu beristirahatlah dengan tenang bersama Nabilah, kamu aman sekarang. Paman akan mengirimkan penjaga untuk kalian berdua”
.
“Tapi… paman… dihadapan kami...” Ujar Ferdi terguncang..
.
“Ya, paman mengerti apa yang kamu rasakan, tapi maafkan paman karena tidak bisa tau apa yang kamu rasakan. Kalau begitu paman akan memanggil Cindy, Alfi, dan Gani kemari. Tunggulah sebentar” Ujar Arie..
.
Arie langsung menelepon tiga orang yang dia sebut, setengah jam kemudian, mereka datang satu persatu. Setelah itu, Arie langsung menceritakan semuanya pada mereka. Bukan maksud membeberkan, tapi lelaki paruh baya itu sudah sangat mempercayai mereka berlima seperti anaknya sendiri, tapi untuk saat tertentu. Tentu saja, itu karena mereka juga bergaul dengan anaknya, yaitu Cindy. Bahkan mereka hampir mengetahui semua kasus penting yang menimpa kota Bandung. Itu agar mereka lebih waspada sehingga kemungkinan menjadi korban sangatlah kecil..
.
“Ayah…”
.
“Ya, ayah tau, Cindy. Ayah sudah berjanji. Untuk saat ini, temani mereka untuk sementara waktu sampai mereka pulih. Jika kalian perlu bolos, ayah yang akan berbicara dengan dosen kampus”
.
“Baiklah, kami mengerti”
.
“Gani? Dimana Anin? Kenapa kamu tidak mengajak Anin?”
.
“Dia ada di rumah, paman. Gani pikir di rumah akan jauh lebih aman ketimbang membawanya keluar, dan sepertinya memang benar. Saat ini diluar rumah sangatlah berbahaya, entah itu siang atau malam. Apalagi cerita yang paman ceritakan benar-benar tidak masuk akal, tetapi kami percaya itu nyata karena bapak sendiri yang menceritakannya”
.
Setelah itu, Arie dan Rian pun pamit pergi untuk kembali mengurus masalah di taman itu. Arie meminta pada anak dan temannya untuk menjaga dan mencoba mencari tau apa yang Ferdi dan Nabilah lihat, dia akan kembali lagi nanti setelah suasana sedikit tenang..
.
.
~~~Author PoV : Home~~~
.
Anin sedang terdiam, dia sedikit curiga sekaligus ketakutan melihat reaksi kakaknya yang tiba-tiba pergi begitu saja dengan aura yang menakutkan..
.
“Hei, kak? Ini sedikit kejam, tapi… kak Melody tau ‘kan apa yang dipikirin kak Gani?”
.
“Kamu yakin, Anin?”
.
“Yakin, kak. Kasih tau Anin, Anin janji nggak bakalan bocorin ke orang lain”
.
“Hmm… Baiklah, kakakmu tadi memikirkan tentang dua sahabatnya yang bernama Ferdi dan Cindy yang masuk rumah sakit karena terkejut”
.
“Rumah sakit? Terkejut? Terkejut kenapa?”
.
“Kakak tidak tau, itu yang kakak tau tentang pikiran kakakmu itu”
.
“Makasih, kak. Anin jaga rahasia sampe kakak yang jelasin sendiri ke kita. Kak Melody juga jaga rahasia”
.
‘KRING.. KRING..’ Panggilan pada ponsel Anin, dilihat dan ternyata kakaknya yang menelepon. Anin langsung menjawabnya dengan nada biasa agar kakaknya tidak curiga. Tapi ternyata kakaknya saat ini sedang jujur, kakaknya memberitahu pada Anin agar dia dan Melody tidak keluar rumah kecuali dengan dirinya. Gani pun menjelaskan apa yang terjadi pada Ferdi dan Nabilah yang memang sedang dirawat di rumah sakit, sesuai dengan ucapan Melody..
.
“Dengerin kakak!! Apapun yang terjadi, kamu sama Melody jangan keluar rumah kecuali sama kakak!! Mulai sekarang, kakak bakalan anter kamu sekolah sama jemput kamu. Kasih tau Shania juga, kakak lagi sibuk sekarang!!”
.
“Iya, kak” Seru Anin pelan. Panggilan pun selesai, Anin langsung murung mendengar penjelasan dari kakaknya itu. Baru pertama kali dia melihat kakaknya begitu ketakutan seperti itu, tentu saja, itu karena pembunuhan berantai sedang terjadi di kota Bandung, dan beberapa lokasinya tidak jauh dari rumah mereka..
.
“Kenapa tidak memanggil orang tua kalian? Kakak yakin mereka akan pulang jika kalian menjelaskannya dengan sungguh-sungguh”
.
“Mustahil!! Ayah sama ibu selalu sibuk sama pekerjaannya, mereka cuman ngirim uang doang dari luar negeri. Malahan waktu kakak kecelakaan, ayah sama ibu nggak pulang ke sini. Mereka malah ngirim uang banyak buat biaya pengobatan. Yah, walau kecelakaan kecil yang bikin tulang kering kanan kakak retak parah, beruntung nggak patah. Tapi tetep aja mereka kayak yang nggak peduli sama kondisi kita di sini, seolah-olah semuanya bisa selesai pake uang doang!!”
.
“Ya, kalau tidak di...” Ujar Melody yang tiba-tiba terhenti..
.
“Hmm? Kenapa, kak?”
.
“Ke-kepala kakak pusing!! Seperti mau… meledak…!! Aaaahh!!” Ujar Melody lemas sambil memegang kepalanya, tubuhnya pun sempoyongan..
.
‘BUG..’ Dan Melody pun langsung pingsan begitu saja..
.
“KAK MELODY!!” Anin mencoba untuk membangunkan Melody, tetapi tidak berhasil tentunya. Anin cek suhu badan Melody, normal. Anin langsung mengeluarkan ponselnya, tetapi dia juga mengalami hal yang sama. Rasa pusing yang berat tiba-tiba menyerang kepala, dan akhirnya dia juga jatuh pingsan..
.
.
~~~Author PoV : Police~~~
.
Arie dan anak buahnya kembali menonton tayangan cctv itu berulang-ulang, mereka mencoba mencari petunjuk, tetapi tetap saja tidak mereka dapatkan. Tidak ada gerakan yang mencurigakan dari mereka yang berada di sekitar korban, satu-satunya pilihan adalah memanggil langsung mereka yang berada di sekitar korban untuk ditayai satu persatu..
.
“Bagaimana dengan saksi yang kalian kumpulkan?”
.
“Siap!! Beberapa dari mereka masih mengalami shock berat, tapi ada beberapa juga yang mengalami shock ringan namun masih bisa diajak berbicara”
.
“Baiklah, introgasi mereka yang tidak mengalami shock berat, sisanya cepat kalian rawat dan berusahalah mencari informasi setelah mereka tenang tanpa paksaan!!”
.
“SIAP, LAKSANAKAN!!”
.
Beberapa jam kemudian, semua saksi selesai diintrogasi oleh polisi. Apa yang mereka katakan memang sama seperti apa yang mereka lakukan di cctv, tidak ada yang mencurigakan dari penjelasan mereka. Benar-benar sia-sia introgasi itu, mereka tidak mendapatkan petunjuk sedikit pun. Polisi pun meminta para saksi untuk tutup mulut tentang kejadian ini pada orang asing atau tetangga, mereka pun mengerti dan akhirnya diperbolehkan pulang oleh polisi. Sedangkan untuk yang masih mengalami shock berat, mereka terlebih dulu diantar ke rumah sakit yang sama tempat dimana Ferdi dan Nabilah dirawat untuk mendpat perawatan..
.
Arie masih memikirkan bagaimana caranya orang memutilasi tanpa menyentuhnya dan tanpa mengenai orang di sekitarnya, benar-benar diluar akal manusia, hal semacam itu tidak dapat diterima logika. “Ini bukanlah dunia fiksi dimana banyak hal aneh dapat terjadi seperti terbang, membaca pikiran, memotong tanpa menyentuh, dan lain-lain!! Sialan!! Korban semakin banyak, tetapi kami belum mendapatkan informasi pelaku!! Tapi sebelum semua itu, apa memang benar jika pelaku itu ada? Jika ada, siapa dan apa bentuknya? Jika tidak ada, kenapa bisa ada kejadian seperti ini?!!” Pikir Arie kesal..
.
Ya, mereka kekurangan informasi tentang pelaku. Bagaikan hantu yang ada namun tak kasat mata, pelaku melancarkan aksinya yang berada diluar logika manusia. Melihat tayangan cctv di taman, mereka mulai ragu dan mempertanyakan hal yang sama. ‘Apakah memang benar ada pelaku dibalik semua pembunuhan itu? Jika ada, siapa dan apa bentuk si pelaku?’..
.
Arie segera pergi pada anak buahnya, dia memerintahkan untuk merahasiakan kejadian ini dari publik untuk sementara. Dia melarang para reporter untuk mengambil berita tentang ini semua, walau sebenarnya dia tau itu akan sangat sulit untuk disembunyikan. Kemudian dia memerintahkan beberapa anak buahnya untuk berpatroli di seluruh sudut kota Bandung, terlebih lagi Bandung pusat karena semua kasus itu terjadi di Bandung pusat..
.
‘BRAK..’ Tiba-tiba seorang petugas langsung menggebrak pintu ruangan yang membuat semuanya terkejut..
.
“LAPOR!! KEMBALI ADA KORBAN YANG MENINGGAL SECARA TIDAK WAJAR!!”
.
“APA?!!” Serentak mereka yang berada di ruangan berteriak ketika mendengar kabar pembunuhan lagi. Arie yang masih kebingungan untuk mencari petunjuk pun kembali dipaksa menerima kabar pembunuhan terhadap warganya..~~~~~
.
à
.
“Pa-paman bercanda, ‘kan?!! Gani mohon paman tidak berbohong!!”
.
“ANIN!! MELODY!! DIMANA KALIAN?!!”
.
“LEPAS!! LEPAAAASS!! SAYA TAU SIAPA DIA!!”
.
“Tekanan pada organ dalam? Bagaimana bisa?”
.
“Hmm, aku harap perkataanmu memang benar”
.
"APA?!!”
.
“CEPAT BERITAHU AKU APA YANG KAU KETAHUI TENTANG CINCIN BIRU ITU!!”
.
Selanjutnya di Chapter 4 : Korban Keempat à
.
.
Author by : Galus Gani Pratamayudha a.k.a Silent Rose

Saturday, December 24, 2016
-

Saturday, December 24, 2016

No comments:

Post a Comment