ß Sebelumnya di Chapter 2 : Kematian
Kedua
.
“Sialan!!
Ini semua tidak masuk akal!! Bagaimana kau bisa membaca pikiranku? Kenapa kau
hanya memiliki ingatan selama 15 jam saja? Kenapa kau tidak terluka setelah
hanyut oleh sungai yang deras? Kenapa kau takut dengan polisi? AAAAHH!!”
.
“Sepertinya
aku memang harus mengantarmu ke kantor polisi…”
.
“JANGAN!!
AKU MOHON JANGAN BAWA AKU KE KANTOR POLISI!! HIKS…!! HIKS…!!”
.
“Pak
Arie? Kami kembali mendapatkan kabar telah ditemukannya dua mayat akibat
pembunuhan pada lokasi yang berbeda!!”
.
“Apa?!!
Pembunuhan lagi?!! Kasus kemarin pun belum selesai dan tidak ada kemajuan, tetapi
sudah ada lagi pembunuhan. Kita menuju TKP terdekat dahulu!!”
.
“Gue
juga dengernya samar-samar dari anak kampus, gue nggak tau pastinya gimana.
Tapi, kemarin ‘kan emang ada kabar mutilasi di Bandung? Nah, dia itu anak rekam
medis. Dan gue denger lagi kalau ada korban lagi, kejadiannya tadi malem,
korbannya anak hukum sama dosen inggris!! Dan Gani, anak hukum itu meninggal
nggak jauh dari rumah lu!!”
.
“Bagaimana
bisa?!! Apa yang sebenarnya terjadi?!! Siapa sebenarnya pelaku pembunuhan
itu?!!”
.
à
.
Chapter 3 : Tragedi Ketiga
.
.
~~~Author PoV : City~~~
.
Sudah dua hari semenjak terakhir kali kasus pembunuhan
sadis terjadi, polisi hanya mendapatkan sedikit petunjuk. Meskipun ada kamera
cctv, pelaku itu seolah pintar dalam menyamarkan diri dengan orang di
sekitarnya, kemudian memilih korban yang sepertinya sudah ditargetkan
sebelumnya. Itu karena ketiga kasus itu benar-benar terjadi di tempat sepi, dan
Arie serta anak buahnya sangat yakin jika pelaku sudah menandai dan
memperhatikan gerak-geriknya..
.
Sedangkan keadaan kampus Gani mulai tenang kembali
setelah tidak ada lagi korban jatuh yang berasal dari kampusnya entah itu dosen
atau mahasiswa. Aktifitas kembali normal seperti biasa dan kembali bisa
dilakukan hingga malam hari karena ada beberapa polisi yang berjaga..
.
~
.
“Kamu nggak takut?” Tanya Gani pada adiknya..
.
“Ngapain harus takut? ‘Kan ada kakak sama kak Melody
yang lindungi Anin, jadi nggak perlu takut”
.
“Woah!! Iya deh iya, kakak lindungi kamu, deh!!
Dasar!!” Gemas Gani sambil menggelitik pinggang Anin..
.
“Geli, kak!!”
.
“Gani? Tadi kau berpikir untuk berbuat mesum pada
adikmu, bukan?” Celetuk Melody tiba-tiba. Tentu saja dia tau karena bisa membaca
pikiran seseorang..
.
“HAH?!!”
.
“Woah!! Aku bilang jangan membeberkan pikiran
seseorang, terlebih lagi seorang lelaki!!” Teriak Gani kesal..
.
“Kakak!! Dasar!! Masa adik kandung sendiri mau
dimesumi, sih?!! Jahat!! Bejat!!”
.
“Sialan!! MELODYYY!!” Teriak Gani kesal..
.
.
~~~Author PoV : Police~~~
.
Selama dua hari itu, Arie disibukan oleh kasus
mutilasi itu, dia sedikit mengenyampingkan masalah sepele seperti pencurian
atau tawuran dan menyerahkannya pada bawahannya. Dia memang sedang
memprioritaskan masalah itu, tentu saja, dia tidak ingin kejadian itu kembali
lagi terjadi. Walau dia sangat yakin jika korban mutilasi akan kembali
bertambah. Tapi, dia menyesali dirinya yang tidak bisa bertindak cepat. Umumnya
polisi akan langsung menemukan petunjuk atau pelaku, tetapi tidak kali ini.
Tidak ada petunjuk lagi yang berhasil dia atau anak buahnya dapatkan..
.
Petunjuk seluruh korban berasal dari kampus yang sama
benar-benar kurang, Arie tidak tau motif pembunuhan itu apa, semua korban pun
tidak ada yang memiliki masalah kehidupan yang berhubungan selain dosen dan
mahasiswa dari kampus yang sama, dan Arie masih tidak mengetahui apakah pelaku
pembunuhan ada dua orang atau satu..
.
Untuk mencari petunjuk lebih, Arie memerintahkan anak
buahnya untuk bekerja 24 jam sekarang, termasuk dirinya tentunya. Mereka kali
ini akan bekerja secara bergantian, tapi tidak untuk Arie yang sejak kasus
terakhir tidak tidur, dan terus berkeliling kota setiap malam hari hingga fajar
tiba untuk melakukan patroli. Dan semenjak itu memang pembunuhan tidak terjadi
lagi, ada kemungkinan jika pelaku takut dengan kehadiran polisi. Meski begitu,
mereka tidak mengendurkan pertahanan mereka sedikit pun..
.
“Tapi, aku dan anak buahku tidak bisa melakukan itu
selamanya. Justru jika seperti itu, kemungkinan besar pelaku akan menyerang
polisi. Aku masih belum apakah pelaku memang takut polisi atau sedang
merencanakan hal baru” Gumam Arie yang kembali membuka dan membaca berkas
berharap ada petunjuk yang terselip..
.
‘BRAK..’
.
“!!!??”
.
“LAPORAN, PAK!! JASAD MUTILASI KEMBALI DITEMUKAN DI
TAMAN KOTA!!” Teriak Rian setelah membuka pintu secara keras..
.
“APA?!!” Balas Arie dengan teriakan yang lebih keras.
Tentu saja itu hal yang tidak terduga, korban kembali bertambah setelah dua
hari berhenti. Arie segera menyiapkan diri dan pergi ke lokasi kejadian..
.
Setelah sampai di sana, dia langsung menghampiri jasad
korban itu dan memeriksa. Dan dia terkejut setelah memeriksa korban. “DARAH DAN TUBUH INI… MASIH… HANGAT…?!!”
Pikir Arie tak percaya. Dengan kata lain, korban baru saja dibunuh beberapa
menit yang lalu. Itu berarti pelaku tidak berada jauh dari sekitar taman..
.
“BAWA AKU KE RUANGAN CCTV!!” Perintah Arie..
.
Mereka pun langsung mengantar Arie ke ruang cctv
taman. Arie langsung mengecek sendiri tayangan satu jam yang lalu satu persatu.
Lalu tiba-tiba cctv 2 rusak selama 4 detik, lalu kembali berfungsi dan tayangan
menunjukan orang-orang yang berlarian berhamburan seperti diserang teroris.
Saat Arie mengecek cctv lain, tidak ada orang yang memainkan cctv sehingga
menjadi rusak, semuanya normal. Tapi ketika waktu tayangan cctv lain sama
dengan waktu tayangan cctv 2, sebuah tayangan tak terduga ditampilkan dari cctv
lain. Sebuah tayangan yang tidak dapat diterima logika..
.
“BA-BAGAIMANA…
BISA...?!!” Itulah yang mereka pikirkan ketika
melihat korban yang tiba-tiba termutilasi dengan sendirinya. Meskipun jauh dari
TKP, tapi adegan itu cukup jelas dilihat oleh orang yang berada di ruangan.
Seperti ada benang tajam dan kuat tidak terlihat yang mengiris langsung korban,
tapi anehnya hanya satu saja yang terkena. Orang sekitar pun langsung berlarian
ketakutan, tapi ada dua orang yang jatuh pingsan di dekat korban..
.
“Tunggu, hentikan!!” Perintah Arie yang kemudian
teknisi menghentikan tayangan, “Perbesar bagian ini!!” Ujar Arie sambil
menunjuk dua orang yang tergeletak di dekat korban..
.
“Nabilah…?!!
Ferdi…?!! Kenapa bisa ada di sana?!!” Pikir Arie bingung yang
melihat mereka berdua tergeletak tak sadarkan diri. Ya, tentu Arie mengenal
mereka berdua karena mereka adalah teman anaknya dari kampus yang sama. “Kesampingkan mereka berdua!! Yang lebih
penting, bagaimana bisa korban terpotong
begitu saja?!! SIALAN!! APA-APAAN ITU?!! APA YANG SEBENARNYA TERJADI?!!”
.
Sungguh sebuah tayangan yang tidak dapat dipercaya,
tidak ada orang yang bisa memutilasi di tengah keramaian tanpa menyentuh korbannya.
Kecuali seperti pikiran Arie tadi, yaitu menggunakan benang kuat dan tajam yang
sudah dipersiapkan, tapi dampaknya pasti akan mengenai orang di sekitarnya.
Orang-orang di sekitarnya pun tidak ada yang melakukan gerakan mencurigakan,
mereka sibuk dengan urusannya masing-masing..
.
“Aku ingin tayangan cctv itu!! Sekarang, dimana dua
orang yang pingsan di dekat korban?”
.
“Mereka sudah di bawa ke rumah sakit terdekat untuk
dilakukan perawatan”
.
“Baiklah, aku akan pergi ke rumah sakit. Rian? Kau
ikut bersamaku!! Sisanya cepat urus dan amankan TKP, kumpulkan semua barang
bukti dan petunjuk termasuk semua tayangan cctv itu dalam jangka waktu satu jam,
dan aku ingin beberapa saksi!!”
.
“SIAP, PAK!!” Jawab anak buahnya tegas tegas..
.
~
.
Arie dan Rian sampai di rumah sakit, mereka langsung
mencari Ferdi dan Nabilah melalui perawat. Setelah menemukannya, mereka segera
pergi ke ruangan Ferdi dan Nabilah. Lalu mereka melihat ada beberapa anak
buahnya yang menunggu. Melihat kedatangan atasannya, mereka langsung memberi
hormat dan memberikan laporan pada Arie. Setelah mendapatkan laporan anak
buahnya, Arie dan Rian langsung masuk ke ruangan dimana Ferdi dan Nabilah beristirahat..
.
Saat mereka masuk, tatapan kosong langsung terlihat
dari mata mereka berdua. Tentu saja, mereka terkejut dan terguncang karena
melihat seseorang yang terpotong begitu saja di hadapan mereka, bagaimana
mereka tidak terkejut dan terguncang? Arie langsung menyentuh pundak Ferdi,
sedangkan dia langsung melihat siapa yang menyentuh pundaknya. Sorot matanya
sedikit berubah karena dia tau siapa yang datang..
.
“Pa-paman…?” Gumam Ferdi..
.
“Paman melihat semuanya di cctv, sekarang kamu
beristirahatlah dengan tenang bersama Nabilah, kamu aman sekarang. Paman akan
mengirimkan penjaga untuk kalian berdua”
.
“Tapi… paman… dihadapan kami...” Ujar Ferdi
terguncang..
.
“Ya, paman mengerti apa yang kamu rasakan, tapi maafkan
paman karena tidak bisa tau apa yang kamu rasakan. Kalau begitu paman akan
memanggil Cindy, Alfi, dan Gani kemari. Tunggulah sebentar” Ujar Arie..
.
Arie langsung menelepon tiga orang yang dia sebut,
setengah jam kemudian, mereka datang satu persatu. Setelah itu, Arie langsung
menceritakan semuanya pada mereka. Bukan maksud membeberkan, tapi lelaki paruh
baya itu sudah sangat mempercayai mereka berlima seperti anaknya sendiri, tapi
untuk saat tertentu. Tentu saja, itu karena mereka juga bergaul dengan anaknya,
yaitu Cindy. Bahkan mereka hampir mengetahui semua kasus penting yang menimpa
kota Bandung. Itu agar mereka lebih waspada sehingga kemungkinan menjadi korban
sangatlah kecil..
.
“Ayah…”
.
“Ya, ayah tau, Cindy. Ayah sudah berjanji. Untuk saat
ini, temani mereka untuk sementara waktu sampai mereka pulih. Jika kalian perlu
bolos, ayah yang akan berbicara dengan dosen kampus”
.
“Baiklah, kami mengerti”
.
“Gani? Dimana Anin? Kenapa kamu tidak mengajak Anin?”
.
“Dia ada di rumah, paman. Gani pikir di rumah akan
jauh lebih aman ketimbang membawanya keluar, dan sepertinya memang benar. Saat
ini diluar rumah sangatlah berbahaya, entah itu siang atau malam. Apalagi
cerita yang paman ceritakan benar-benar tidak masuk akal, tetapi kami percaya
itu nyata karena bapak sendiri yang menceritakannya”
.
Setelah itu, Arie dan Rian pun pamit pergi untuk
kembali mengurus masalah di taman itu. Arie meminta pada anak dan temannya
untuk menjaga dan mencoba mencari tau apa yang Ferdi dan Nabilah lihat, dia
akan kembali lagi nanti setelah suasana sedikit tenang..
.
.
~~~Author PoV : Home~~~
.
Anin sedang terdiam, dia sedikit curiga sekaligus
ketakutan melihat reaksi kakaknya yang tiba-tiba pergi begitu saja dengan aura
yang menakutkan..
.
“Hei, kak? Ini sedikit kejam, tapi… kak Melody tau
‘kan apa yang dipikirin kak Gani?”
.
“Kamu yakin, Anin?”
.
“Yakin, kak. Kasih tau Anin, Anin janji nggak bakalan
bocorin ke orang lain”
.
“Hmm… Baiklah, kakakmu tadi memikirkan tentang dua
sahabatnya yang bernama Ferdi dan Cindy yang masuk rumah sakit karena terkejut”
.
“Rumah sakit? Terkejut? Terkejut kenapa?”
.
“Kakak tidak tau, itu yang kakak tau tentang pikiran
kakakmu itu”
.
“Makasih, kak. Anin jaga rahasia sampe kakak yang
jelasin sendiri ke kita. Kak Melody juga jaga rahasia”
.
‘KRING.. KRING..’ Panggilan pada ponsel Anin, dilihat
dan ternyata kakaknya yang menelepon. Anin langsung menjawabnya dengan nada
biasa agar kakaknya tidak curiga. Tapi ternyata kakaknya saat ini sedang jujur,
kakaknya memberitahu pada Anin agar dia dan Melody tidak keluar rumah kecuali
dengan dirinya. Gani pun menjelaskan apa yang terjadi pada Ferdi dan Nabilah
yang memang sedang dirawat di rumah sakit, sesuai dengan ucapan Melody..
.
“Dengerin kakak!! Apapun yang terjadi, kamu sama
Melody jangan keluar rumah kecuali sama kakak!! Mulai sekarang, kakak bakalan
anter kamu sekolah sama jemput kamu. Kasih tau Shania juga, kakak lagi sibuk
sekarang!!”
.
“Iya, kak” Seru Anin pelan. Panggilan pun selesai,
Anin langsung murung mendengar penjelasan dari kakaknya itu. Baru pertama kali
dia melihat kakaknya begitu ketakutan seperti itu, tentu saja, itu karena
pembunuhan berantai sedang terjadi di kota Bandung, dan beberapa lokasinya
tidak jauh dari rumah mereka..
.
“Kenapa tidak memanggil orang tua kalian? Kakak yakin
mereka akan pulang jika kalian menjelaskannya dengan sungguh-sungguh”
.
“Mustahil!! Ayah sama ibu selalu sibuk sama
pekerjaannya, mereka cuman ngirim uang doang dari luar negeri. Malahan waktu
kakak kecelakaan, ayah sama ibu nggak pulang ke sini. Mereka malah ngirim uang
banyak buat biaya pengobatan. Yah, walau kecelakaan kecil yang bikin tulang
kering kanan kakak retak parah, beruntung nggak patah. Tapi tetep aja mereka
kayak yang nggak peduli sama kondisi kita di sini, seolah-olah semuanya bisa
selesai pake uang doang!!”
.
“Ya, kalau tidak di...” Ujar Melody yang tiba-tiba
terhenti..
.
“Hmm? Kenapa, kak?”
.
“Ke-kepala kakak pusing!! Seperti mau… meledak…!!
Aaaahh!!” Ujar Melody lemas sambil memegang kepalanya, tubuhnya pun sempoyongan..
.
‘BUG..’ Dan Melody pun langsung pingsan begitu saja..
.
“KAK MELODY!!” Anin mencoba untuk membangunkan Melody,
tetapi tidak berhasil tentunya. Anin cek suhu badan Melody, normal. Anin
langsung mengeluarkan ponselnya, tetapi dia juga mengalami hal yang sama. Rasa
pusing yang berat tiba-tiba menyerang kepala, dan akhirnya dia juga jatuh
pingsan..
.
.
~~~Author PoV : Police~~~
.
Arie dan anak buahnya kembali menonton tayangan cctv
itu berulang-ulang, mereka mencoba mencari petunjuk, tetapi tetap saja tidak
mereka dapatkan. Tidak ada gerakan yang mencurigakan dari mereka yang berada di
sekitar korban, satu-satunya pilihan adalah memanggil langsung mereka yang
berada di sekitar korban untuk ditayai satu persatu..
.
“Bagaimana dengan saksi yang kalian kumpulkan?”
.
“Siap!! Beberapa dari mereka masih mengalami shock berat, tapi ada beberapa juga yang
mengalami shock ringan namun masih
bisa diajak berbicara”
.
“Baiklah, introgasi mereka yang tidak mengalami shock berat, sisanya cepat kalian rawat
dan berusahalah mencari informasi setelah mereka tenang tanpa paksaan!!”
.
“SIAP, LAKSANAKAN!!”
.
Beberapa jam kemudian, semua saksi selesai diintrogasi
oleh polisi. Apa yang mereka katakan memang sama seperti apa yang mereka
lakukan di cctv, tidak ada yang mencurigakan dari penjelasan mereka.
Benar-benar sia-sia introgasi itu, mereka tidak mendapatkan petunjuk sedikit
pun. Polisi pun meminta para saksi untuk tutup mulut tentang kejadian ini pada
orang asing atau tetangga, mereka pun mengerti dan akhirnya diperbolehkan
pulang oleh polisi. Sedangkan untuk yang masih mengalami shock berat, mereka terlebih dulu diantar ke rumah sakit yang sama
tempat dimana Ferdi dan Nabilah dirawat untuk mendpat perawatan..
.
Arie masih memikirkan bagaimana caranya orang
memutilasi tanpa menyentuhnya dan tanpa mengenai orang di sekitarnya,
benar-benar diluar akal manusia, hal semacam itu tidak dapat diterima logika. “Ini bukanlah dunia fiksi dimana banyak hal
aneh dapat terjadi seperti terbang, membaca pikiran, memotong tanpa menyentuh,
dan lain-lain!! Sialan!! Korban semakin banyak, tetapi kami belum mendapatkan
informasi pelaku!! Tapi sebelum semua itu, apa memang benar jika pelaku itu
ada? Jika ada, siapa dan apa bentuknya? Jika tidak ada, kenapa bisa ada
kejadian seperti ini?!!” Pikir Arie kesal..
.
Ya, mereka kekurangan informasi tentang pelaku.
Bagaikan hantu yang ada namun tak kasat mata, pelaku melancarkan aksinya yang
berada diluar logika manusia. Melihat tayangan cctv di taman, mereka mulai ragu
dan mempertanyakan hal yang sama. ‘Apakah memang benar ada pelaku dibalik semua
pembunuhan itu? Jika ada, siapa dan apa bentuk si pelaku?’..
.
Arie segera pergi pada anak buahnya, dia memerintahkan
untuk merahasiakan kejadian ini dari publik untuk sementara. Dia melarang para
reporter untuk mengambil berita tentang ini semua, walau sebenarnya dia tau itu
akan sangat sulit untuk disembunyikan. Kemudian dia memerintahkan beberapa anak
buahnya untuk berpatroli di seluruh sudut kota Bandung, terlebih lagi Bandung
pusat karena semua kasus itu terjadi di Bandung pusat..
.
‘BRAK..’ Tiba-tiba seorang petugas langsung menggebrak
pintu ruangan yang membuat semuanya terkejut..
.
“LAPOR!! KEMBALI ADA KORBAN YANG MENINGGAL SECARA
TIDAK WAJAR!!”
.
“APA?!!” Serentak mereka yang berada di ruangan berteriak
ketika mendengar kabar pembunuhan lagi. Arie yang masih kebingungan untuk
mencari petunjuk pun kembali dipaksa menerima kabar pembunuhan terhadap
warganya..~~~~~
.
à
.
“Pa-paman
bercanda, ‘kan?!! Gani mohon paman tidak berbohong!!”
.
“ANIN!!
MELODY!! DIMANA KALIAN?!!”
.
“LEPAS!!
LEPAAAASS!! SAYA TAU SIAPA DIA!!”
.
“Tekanan
pada organ dalam? Bagaimana bisa?”
.
“Hmm,
aku harap perkataanmu memang benar”
.
"APA?!!”
.
“CEPAT
BERITAHU AKU APA YANG KAU KETAHUI TENTANG CINCIN BIRU ITU!!”
.
Selanjutnya di Chapter 4 : Korban Keempat à
.
.
Author by : Galus Gani Pratamayudha a.k.a Silent Rose
Saturday, December 24, 2016
-
Saturday, December 24, 2016

No comments:
Post a Comment