Tittle : Pesawat Kertas & Buku Kecil
Genre : Drama, Romance, School
Author : Galus Gani Pratamayudha a.k.a
Silent Rose
Cast : - Galus Gani Pratamayudha as Gani
- Shania Junianatha as Shania
Type : One-shoot
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
Hei, kalian tau? Aku ingin melukis dunia, dimana bermacam keanekaragaman berdampingan dengan harmonis. Efek dari goresan kuas dan perpaduan warna pasti akan sangat indah sekali. Bagaimana? Kamu ingin mencobanya? Jika ingin, ayo kita melukis bersama. Dan mungkin jika kita melukis bersama, kita akan menemukan sesuatu yang lebih indah lagi. Contohnya, seperti dirimu yang hanya bisa dimiliki satu orang saja. Ah, seandainya aku bisa memilikimu, pasti aku akan sangat bahagia..
.
.
.
~Pesawat Kertas & Buku Kecil~
.
.
‘BRUK.. BRUK..’ Seorang lelaki tampan yang memakai
pakaian rapih putih hitam dengan jas hitam dan dasi hitam sedang
mengobrak-abrik barang lamanya pada sebuah kotak. Entah apa yang dia cari,
padahal sebenarnya apa yang dia cari adalah benda baru, bukan benda lama yang
sekarang tersimpan di gudang dan terlapisi oleh debu yang tebal..
.
Menggunakan masker agar debu tidak masuk ke
pernapasan, juga menggunakan sarung tangan agar tangannya tetap bersih. Walau
pakaiannya sekarang sudah cukup kotor karena terkena noda dari benda sekitar..
.
Masih keras kepala mencari apa yang dia inginkan,
sehingga dia tidak sengaja menarik sebuah kertas yang terlipat dan membuatnya
robek..
.
Dia buka lipatan itu dan mendapatkan sebuah tulisan
yang indah, “‘Aku Men…?’ Kertas apa ini? Tulisan apa ini?” Gumamnya setelah
membaca tulisan besar yang terpotong itu. Itu hanyalah kertas biasa, kertas
putih biasa yang sudah sangat usang namun tulisan besar masih terlihat sangat
jelas, tapi karena itulah rasa penasarannya pada kertas itu sangat mendominasi
sehingga dia melupakan barang yang dia cari..
.
Dia kembali memisahkan benda pada kotak itu untuk
mencari potongan dari kertas itu, hingga dia mendapatkannya. Dia ambil potongan
itu dan membukanya, dan terlihatlah lanjutan dari tulisan sebelumnya. “‘cintaimu?’
Hah?” Gumamnya bingung. Lalu dia sadari jika itu bukanlah kertas biasa, itu
adalah kertas yang spesial untuknya. Dia sudah mencarinya beberapa tahun
belakangan ini, namun tidak dia temukan dan akhirna terlupakan karena
profesinya sebagai pelukis membuatnya sibuk..
.
“Ehh? Air mata?” Dia tidak menyadari jika air matanya
mengalir melalui pipinya. Jika digabungkan, kertas itu akan menampilak sebuah tulisan
‘Aku Mencintaimu’, lalu di sampingnya ada sebuah sketsa seorang lelaki dan wanita
yang bergandengan tangan. Dia tersenyum bahagia dalam tangisannya, sekarang dia
ingat kertas apa itu. Apalagi dia juga menemukan sebuah buku kecil yang
mengingatkannya pada kehidupannya ketika duduk di bangku sekolah dasar hingga
dia sukses seperti sekarang. Sungguh kenangan yang sangat indah untuknya..
.
.
### 25 Tahun Yang Lalu ###
.
.
~~~Author PoV~~~
.
“Ibu mau tanya, apa cita-cita kalian?”
.
“Aku bu!! Aku bu!!” Semua murid kelas 4 SD
mengacungkan tangannya ketika sang guru bertanya. Tentu saja, mereka yang polos
sangat ingin menunjukan pada semuanya tentang cita-cita mereka. Setidaknya
mereka ingin dipuji..
.
“Iya, Gani, apa cita-cita kamu?” Sang guru menunjuk
seorang siswa laki-laki yang paling semangat. Namanya adalah Galus Gani
Pratamayudha, umurnya adalah 10 tahun..
.
“Iya, bu!! Cita-cita aku jadi pelukis terkenal yang
bisa ngalahin pelukis terkenal dan penuh misteri di dunia ini, bu!! Yaitu
Leonardo Da Vinci!! Aku mau ngelukis dunia!!”
.
“HAHAHA!!”
.
“Kenapa ketawa?!!”
.
“Yah, kamu ‘kan jelek kalau ngelukis, gimana mau
ngalahin pelukis terkenal?” Ledek seorang temannya. Kemudian guru pun
menanyakan cita-cita pada murid itu, dan murid itu pun menjawab jika dia ingin
menjadi seorang pilot. Dan semua murid berdecak kagum kecuali Gani yang merasa
dikalahkan oleh temannya itu..
.
“Dengarkan ibu, anak-anak ibu tersayang. Cita-cita itu
penting buat kalian, ibu pasti dukung dan berdo’a buat kesuksesan kalian dan
tercapainya cita-cita kalian, entah kalian mau jadi pelukis, pilot, pemain
band, presiden, atau yang lainnya, semua itu baik buat semua orang, ibu pasti
dukung!! Jadi, kejar cita-cita kalian, jangan sampai kalian putus asa.
Mengerti?”
.
“MENGERTI, BUUUU!!”
.
~
.
Ketika para murid lain beristirahat, Gani masih asih
dengan dunianya sendiri. Dia mencoba untuk mengasah skill-nya dalam melukis,
entah itu tulisan atau sebuah gambar. Dia juga tidak memperdulikan kedatangan
temannya yang ribut itu, dia tetap asik di dunianya sendiri. Dia menggambar
seorang lelaki dan wanita yang bergandengan tangan pada kertas putih yang
kosong..
.
“Kurang, butuh tulisannya” Pikirnya begitu. Dia pun
membuat kaligrafi pada kertas itu, ‘Aku Mencintaimu’. Dan sesaat tulisan itu
akan selesai, temannya pun merebutnya, beruntungnya tidak robek..
.
“Woah!! ‘Aku mencintaimu’, kamu mau pacaran? Dasar!!
Masih kecil udah mikir pacaran!!”
.
“Balikin!! Itu belum selesai!! Itu juga bukan urusan
kamu, lagian aku nggak mau pacaran dulu” Hardik Gani. Tentu saja dia kesal
dengan tingkah temannya itu, walau mereka sudah sering bercanda, tetapi kali
ini Gani sedang tidak mau bercanda. Karya pertamanya itu sedang dijadikan
mainan oleh temannya, dia tidak terima..
.
Dan bukannya dikembalikan pada Gani, temannya itu
malah melipat kertas itu menjadi sebuah pesawat. Gani langsung mendekat, namun
ditahan oleh temannya yang lain. Hanya butuh beberapa detik saja, kertasnya itu
sudah terlipat menjadi bentuk pesawat..
.
“WOAH!! JANGAN DIJADIIN PESAWAT!!”
.
“HAHAHA!! Aku ‘kan mau jadi pilot, jadi harus naik
pesawat!! Ayo terbang!!” Teriaknya senang sambil menerbangkan pesawat itu
keluar kelas. Karena mereka berada di lantai dua, otomatis kertas itu terbang
cukup lama karena tiupan angin. Tapi Gani melihat pesawat kertas itu mendarat
di kelas bawah, di lantai satu..
.
Tanpa diam terlalu lama, dia langsung turun ke bawah
untuk mengambil pesawat itu. Sungguh, dia merasa kesal dengan tingkah temannya
itu, tetapi dia tidak bisa membencinya. Mungkin dia akan membalasnya di lain
hari karena yang dia pikirkan sekarang adalah karya pertamanya..
.
Saat Gani sampai di bawah, seorang gadis yang sedang
duduk ternyata memegang pesawat kertasnya itu, dan dia hendak membuka kertas
itu. Gani tentu saja panik karena tulisan yang terdapat pada kertas itu. Meski
dia baru duduk di kelas 4 SD, tetapi dia sudah tau cinta-cinta dan segala
macamnya, itu karena pengaruh kakaknya yang duduk di bangku SMA dan sering
membawa pacarnya ke rumah. Dia panik karena tulisan itu bukan untuk menyatakan
perasaan cinta, tulisan itu belum selesai..
.
“JANGAAAAN!!” Teriak Gani yang memancing perhatian
murid lainnya, tapi tidak untuk gadis itu. Dia tetap membuka kertas itu, dan
akhirnya terbuka. Dan gadis itu terkejut dengan isi surat itu, dia tersipu,
wajahnya memerah, ternyata dia juga tau tentang cinta-cinta dan segala
macamnya. Dia melihat sekeliling, kemudian saat melihat ke arah Gani datang,
Gani langsung merebut kertas itu dengan cepat..
.
“!!!??”
.
“Hah… Hah… Hah… Udah aku bilang jangan dibuka!!” Kesal
Gani kelelahan. Dia menghadap pada gadis itu, dan dia sendiri terkejut karena
melihat gadis itu yang malu-malu dengan wajah memerah. Tapi yang lebih
mengejutkannya lagi, dia tau siapa gadis itu..
.
“…..” Dia memandang gadis itu dengan tatapan polos,
tapi disaat yang sama, gadis itu melirik dan menatap langsung pada Gani. Mereka
berdua saling menatap, jantung seakan berhenti, waktu seakan berhenti, mereka
sadar tidak sadar sedang saling menatap saat ini. Perasaan mereka berubah,
mereka yang baru duduk di bangku 4 SD, tanpa mereka sadari mereka sudah masuk
ke dalam jeratan yang dinamai cinta..
.
“Kamu… Kamu Shania ‘kan? Shania Junianatha, anak kelas
A?” Tanya Gani. Bocah itu sendiri berada di kelas C. Beberapa saat kemudian,
Shania mengangguk menjawab pertanyaan Gani. “Ehh? Dia ngerti? Bukannya tadi
suara aku cukup kecil, yah?” Pikir Gani kebingungan. Dan akhirnya dia sadar
sepenuhnya..
.
Shania Junianatha, dia gadis yang sangat terkenal di
sekolahnya. Dia sangat pintar, dia sangat cantik, dia murid terpintar di
angkatan Gani, tidak heran jika dia sangat terkenal. Dengan rambut panjang
hingga punggung atas, wajah yang dihiasi tahi lalat di dekat bibirnya, itu
menjadikannya ciri khas-nya dan seolah berkata pada murid lain ‘aku Shania
Junianatha’ karena tidak ada murid lain yang memiliki tanda mirip seperti
Shania..
.
Tapi satu hal yang membuatnya menjadi murid yang
paling berbeda dari murid lainnya, mungkin hanya ada beberapa orang murid
seperti Shania yang bisa bersekolah di sekolah normal karena kepintaran
otaknya. Ya, ‘sekolah normal’ sedikit disisipkan untuk murid seperti Shania.
Itu karena gadis cantik nan pintar itu seorang tuna rungu dan tuna wicara. Itu
sebabnya gadis itu juga menggunakan alat bantu dengar..
.
Sehingga ketika Gani bertanya, gadis itu masih diam
menatap mata Gani. Lalu beberapa saat kemudian, gadis itu mengangguk..
.
“Anu, itu kertas punyaku, bisa kamu kasih ke aku?”
Gani meminta pada Shania, dan Shania pun mengangguk. Itu semakin membuat Gani
bingung, padahal yang dia tau jika gadis itu kesulitan mendengar, tapi dia bisa
tau ketika Gani bicara dengan saling bertatap wajah..
.
Shania mengulurkan kertas itu pada Gani, dan Gani pun
mengambilnya. “Anu, maafkan aku. Tadi temanku jahil, itu sebenarnya bukan untuk
pernyataan cinta. Tulisan itu belum selesai” Jelas Gani mencoba untuk
menghilangkan kesalah pahaman ini. Shania kembali mengangguk mengerti sambil
tersenyum. “Ini, aku kayak ngomong sama robot yang cuman bisa ngangguk doang”
Pikir Gani jengkel..
.
“Kamu bisa denger aku?” Tanya Gani memastikan. Shania
menggerakan tangannya dengan isyarat berhenti, atau mungkin menunggu maksudnya.
Lalu dia menulis pada sebuah buku kecil..
.
““Aku bisa mendengar, tetapi cenderung tidak bisa.
Jadi suaramu terpotong dan terdengar sangat kecil di telingaku. Aku bisa
mengerti karena aku membaca gerakan bibir dan lidahmu””. Gani membaca tulisan
itu dan mengangguk-angguk mengerti maksud dari tulisan itu..
.
“Jadi, kamu bisa baca gerakan bibir dan lidahku?” Gani
kembali bertanya..
.
““Bukan hanya gerakan bibir dan lidah saja, tetapi
gerakan atau getaran tubuh seseorang yang berbicara pun aku bisa mengerti. Jadi
aku tau apa yang diucapkan seseorang, walau terkadang aku salah mengartikannya
karena memakai huruf vokal yang sama””
.
“Hmm, aku ngerti sekarang. Ternyata walau kamu punya
komunikasi yang buruk, tapi kamu punya mata sama otak yang bagus. Yah, nggak
kayak aku yang cenderung bodoh terus seenaknya aja” Ujar Gani senang. Dan
Shania tertawa kecil ketika melihat Gani yang mengeluh, sepertinya dia senang
sekali dengan kehadiran Gani..
.
““Jangan seperti itu, kamu harus bersyukur sudah
diberikan indera yang berfungsi J “” Gani membaca
tulisan itu yang diujungnya diberikan gambar senyum..
.
“HAHAHA!! Iya iya iya, aku ngerti, kok!!” Tawa Gani
senang. “Oh ya, aku Galus Gani Pratamayudha, kamu bisa panggil aku Gani” Lanjut
Gani memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya, Shania pun
menjabatnya dengan senang hati sambil tersenyum. Dan smilling eyes pun dia tunjukan pada Gani, bocah itu senang dengan
Shania..
.
““Oh ya, apa kamu suka melukis?””
.
Gani terkejut dengan pertanyaan Shania, dia bisa
mengetahui jika hobinya adalah melukis. Walau itu baru 3 bulan dia pikirkan dan
tekuni dengan sungguh-sungguh, bahkan memaksa pada orang tuanya untuk
membelikan peralatan melukis yang lengkap. “Iya, walau baru sebentar. Dan
cita-citaku menjadi pelukis terkenal. Kamu tau dari mana?”
.
Sejenak Gani menunggu, dia akhirnya bisa merasakan
bagaimana rasanya berkomunikasi dengan orang yang kesulitan dalam mendengar dan
berbicara. Cukup membosankan dan membuang waktu karena dia tidak bisa mengerti
dan bisa melakukan bahasa isyarat tangan seperti beberapa ahli dalam ketika
menghadapi orang seperti Shania. Tapi ada rasa penasaran yang sangat besar
ketika menunggu jawaban tidak langsung dari Shania, itulah kesannya baginya..
.
““Aku hanya menyimpulkan dari gambar lelaki dan wanita
dan kaligrafi pada kertas itu. Pelukis terkenal bagiku sangat hebat, karena
bisa mengartikan sebuah gambar tertentu dan menjadikannya sesuatu yang lebih
indah””
.
“Woah!! Kamu ternyata emang hebat, cuman gitu, tapi
bisa nebak hobi orang lain. Andai aja aku punya keahlian kayak gitu, pasti
nggak perlu nanya-nanya lagi”
.
““Hihihi… Ternyata sikap malas dan mengeluhmu lucu
juga. Aku suka itu ^_^ “”
.
“Yah, makasih banget pujiannya. Oh ya, emangnya hobi
kamu apa? Dan cita-cita kamu”
.
““Hobiku membaca, itu untuk menambah pengetahuanku
dalam membaca gerakan bibir sambil memperagakannya walau tanpa suara. Dan
cita-citaku menjadi guru, aku ingin mengajar bagi orang-orang yang mengalami
kekurangan sepertiku agar mereka tidak putus asa J “”
.
“Itu cita-cita mulia, jadi guru. Tapi aku yakin kamu
pasti bisa”
.
““Terima kasih banyak ^_^ “” Balas Shania yang terus
tersenyum sambil menunjukan catatan kecilnya. Senyuman itu, Gani merasakan hal
yang sangat menyenangkan ketika melihat senyuman Shania. Seolah dia sedang
melihat sebuah pemandangan yang sangat indah dari atas bukit. Senyuman itu, Gani
ingin melukisnya bersama wajah yang menampung senyuman itu, bersama kepala yang
menerima wajah itu, bersama tubuh yang menyangga kepala itu. Dia sangat ingin
melukis Shania yang tersenyum secara total..
.
“Pinjam sebentar!!” Ujar Gani sambil merebut catatan
Shania tanpa seizin Shania. Lalu dia menunjukan sebuah tulisan pada Shania, dan
itu tentu saja membuatnya terkejut. Dia meminta catatan itu untuk membalasnya,
kemudian dia berikan kembali pada Gani untuk dia balas, dan begitu beberapa
kali hingga catatan itu berhenti pada Shania, dan mereka berdua pun saling memberikan
senyum terbaik mereka yang kemudian mereka saling mengaitkan jari kelingking
mereka untuk menepati janji itu, janji yang mereka tulis di buku milik Shania..
.
Pertemuan pertama mereka, ternyata sangat spesial. Ada
sebuah istilah cinta pada pandangan pertama, tapi mereka belum merasakan hal
semacam itu secara penuh. Mereka hanya merasakan dan menanggap ‘dia teman yang
sangat baik’, begitulah yang mereka pikir. Otak dan pikiran mereka masih muda,
harus diisi dengan hal baik seperti persahabatan, bukan cinta-cinta dan segala
macamnya yang bisa membuat hubungan mereka hancur..
.
Pesawat kertas itu bagaikan sebuah pengantar perasaan,
seperti sebuah takdir yang mempertemukan mereka berdua. Ya, memang fungsi
sebuah pesawat adalah untuk mengantar seseorang menuju tempat yang mereka
inginkan. Transportasi terbaik dan tercepat di dunia..~~~~~
.
.
.
~Ayo Bersahabat!!~
.
.
~~~Auhtor Pov~~~
.
“Ayo
bersahabat!!” Ajak Gani senang. Shania pun mengangguk senang menerima ajakan
Gani, dan mereka kembali mengaitkan jari kelingking, sama seperti yang mereka
lakukan tiga hari yang lalu..
.
Gani masih tidak percaya jika dirinya yang terlalu
bangga dengan cita-citanya dan cenderung murid yang kurang pintar di kelasnya,
bisa bersahabat dengan murid terpintar di angkatannya. Bermacam-macam reaksi
teman kelasnya ketika menyadari Gani yang sering turun ke bawah dan
menghabiskan waktu duduk bersama murid yang tidak bisa berkomunikasi dengan
normal, mulai dari cuek, iri, atau bahkan mencibir Gani, dan terkadang memuji
Gani (atau lebih tepatnya menyindir Gani secara tidak langsung dengan cara
memuji Gani agar Gani tidak menyadarinya)..
.
Tapi yang namanya pengintimidasian selalu ada entah di
SD, SMP, SMA, atau bahkan jenjang perguruan tinggi, terlebih lagi pada orang
yang memiliki kekurangan fisik. Sama seperti dalam sebuah cerita, film, atau komik,
ketika ada seseorang yang ‘tidak normal’, maka orang sekitar cenderung akan
meledek orang itu. Hal ini pun terjadi pada Shania yang memang mengalami
pengintimidasian itu, dan sudah menjadi rahasia umum jika hal itu terjadi.
Sebuah ‘budaya’ yang sulit dihilangkan..
.
“Tuli!! HAHAHA!! Bisu!! HAHAHA!! Dasar cewek nggak
normal!!” Setidaknya itu ejekan yang sering di dengar mereka berdua. Gani baru
mengetahui hal ini karena dia memang baru mengenal dekat Shania. Tapi, untuk
teman perempuannya tidak seperti itu, mereka semua baik. Ya, hanya anak
laki-laki saja yang bersikap seperti itu. kenakalan mereka memang sudah
mengakar dalam diri seorang anak lelaki manapun..
.
““Kamu tidak keberatan bermain denganku? L “”
.
“Hah? Ya nggak bakalan. Lagian, ngapain juga harus
keberatan main sama kamu? Kamu ‘kan sahabat aku?”
.
Shania terdiam karena dia memang lebih suka diam.
Ucapan Gani memang membuatnya senang, tetapi baginya seperti pujian. Ya, hanya
Gani yang mau menganggap dirinya sebagai sahabatnya, gadis itu hanya memiliki
satu sahabat saja, yaitu Gani. Dan walau sebenarnya ada pengelompokan antara
sahabat atau teman, banyak yang berpikir ‘sahabat’ berada di atas ‘teman’. Jadi
siapa yang mendapatkan sahabat, dia orang yang beruntung. Shania adalah salah
satunya, dan Gani juga merasa menjadi orang yang beruntung..
.
““Kamu ini, ternyata kamu memang sangat menyukai
melukis. Buktinya, hampir setiap kita bertemu, kamu menunjukan gambaran yang
baru. Menurutku itu bagus karena aku tidak bisa melukis””
.
“Hmm? Hehehe… Makasih pujiannya. Tapi---”
.
‘SRET..’
.
“Woah!! Si bodoh dan si tuli ditambah si bisu main
bareng!!”
.
“Woah!! Kalian semua!! Kenapa kalian robek kertasku?!!
Kalian ngajak berantem?!!” Teriak Gani kesal ketika salah seorang murid menarik
kertas Gani hingga membuatnya robek. Ada dua murid yang menjahili Gani, dan
mereka berasal dari kelas Shania..
.
“Anak dari kelas C nggak pantes ada di depan kelas A.
Mending kamu pulang aja ke rumah, terus tidur sambil nangis!!”
.
“!!!!!” Emosi Gani naik, dia marah terhadap murid itu.
Dia tidak terima dengan perlakuan mereka terhadap dirinya dan Shania. Shania
bisa mengatahui reaksi Gani dari ekspresi wajah dan gerakan tubuhnya. Dia
menarik seragam Gani dan menggelengkan kepala pertanda ‘jangan berkelahi’. Tapi
Gani tidak memperdulikan peringatan Shania dan melepas tarikan Shania, dan dia
langsung berlari menuju murid yang memegang robekan kertas Gani..
.
‘BUG..’
.
***
.
“Kenapa kamu sampai segitunya, sayang?” Tanya Ibu
Gani..
.
“Habisnya mereka yang duluan, bu. Gani lagi duduk sama
Shania, mereka tiba-tiba nyerang kita, ya Gani serang balik aja!!” Gani mencoba
untuk menjelaskan jika itu bukan salahnya atau Shania, tetapi temannya..
.
“Shania? Shania Junianatha? Anak yang susah mendengar
sama berbicara itu?” Tanya ibunya memastikan..
.
“Iya”
.
“Kenapa kamu bisa main sama anak itu?”
.
“Ya nggak kenapa-napa, bu. Kenapa emangnya? Ibu nolak
Gani main sama Shania?”
.
“Nggak nolak, tapi kalau kamu banyak main sama Shania,
kamu juga bakalan kena ejek temen kamu”
.
“Nggak apa-apa, bu. Lagian Gani sama Shania udah jadi
sahabat, terus Gani sama Shania juga udah megang janji buat nanti besar. Lagian
apa salahnya main sama Shania? Mereka aja yang iri kalau Gani bisa deket sama
murid paling pinter”
.
“Hooo? Janji masa depan? Dasar!! Masih kecil udah
punya pikiran orang dewasa!!”
.
“Ya nggak apa-apa, lagian bukan yang aneh”
.
“Emangnya janji apa?”
.
“Ada aja, bu… Hehehe…”
.
***
.
Sekarang mereka sudah duduk di bangku kelas 6 SD, Gani
dan Shania sudah benar-benar berubah sejak mereka saling beruhubungan ketika
kelas 4 SD. Gani menjadi pribadi yang lebih cerdas karena bermain dengan anak
yang cerdas, sedangkan Shania menjadi pribadi yang lebih aktif karena bermain
dengan sosok Gani yang selalu aktif dalam apapun..
.
Gani sering meminta diajarkan mata pelajaran tambahan pada
Shania, walau dia harus menahan sabar karena kekurangan yang dimiliki Shania
membuatnya sulit untuk cepat memahami materi. Dan bukan hanya dalam belajar
saja dia meminta bantuan pada Shania, bocah itu meminta pada Shania untuk
mengajarinya bahasa isyarat. Otaknya yang masih muda mampu menampung banyak
sekali informasi, sehingga pada akhir kelas 5 SD, dia sudah hafal betul seluruh
bahasa isyarat. Dia mempelajarinya hanya dalam waktu satu tahun. Sepertinya dia
memiliki kemampuan mengingat yang sangat baik. Begitu juga Shania yang awalnya
malu-malu jika diajak bermain permainan oleh Gani karena dia orang yang
pendiam. Ya, mereka saling memberikan keuntungan..
.
Kemampuan Gani dalam melukis pun semakin bertambah
hebat, dia pernah ikut dalam sebuah lomba melukis di sekolahnya, dan
menampilkan sebuah lukisan yang menurutnya terbaik. Dan karir pertamanya itu
berhasil merebut posisi pertama, ternyata cita-citanya menjadi pelukis bukan
hanya sebuah ucapan saja. Dan juga Shania yang menjadi motivasinya, serta janji
mereka ketika di masa depan..
.
“Hei, Shania? Kamu mau masuk SMP mana?”
.
““Aku mau masuk SMP Negeri 1 Bandung. Kamu sendiri mau
masuk SMP mana?””
.
“Hmm? Jadi gitu, yah? Aku maus masuk SMP Negeri 5
Bandung. Kita bakalan pisah”
.
“…..” Shania terdiam. Kemudian dia menulis catatan
lagi, ““Kita ‘kan masih satu kota? Jadi nggak perlu pisah, ‘kan? J “”
.
“Hmm, iya juga sih. Tapi aku juga nggak tau dimana
rumah kamu, jadi gimana bisa saling ketemuan?” Tanya Gani bingung. Shania pun
menuliskan alamat rumahnya tanpa ragu, kemudian memberikannya pada Gani. Bocah
lelaki itu pun melakukan hal yang sama dengan menuliskan alamat rumahnya pada
catatan Shania dan memberikannya padanya. Shania merobek kertas itu, dia
mengambil alamat rumah Gani, sedangkan dia memberikan alamat rumahnya pada
Gani. Kemudian dia kembali menulis..
.
““Sekarang kita bisa main ke rumah siapa aja kapan
aja!! ^_^ “”
.
“Hehehe…” Gani tersenyum lebar. Dia senang dengan
kehadiran Shania, gadis itu benar-benar merubah kehidupannya yang masih muda.
Seolah-olah Shania adalah gadis dewasa yang datang ke masa lalu hanya untuk
dirinya, setidaknya itu khayalan tinggi Gani..
.
***
.
Seperti yang mereka harapkan setelah lulus SD, mereka
masuk ke sekolah yang mereka inginkan dengan mudah. Dengan bekal selama di SD,
atau lebih tepatnya ketika mereka bersahabat, mereka ingin menjadi lebih baik
lagi. Setidaknya seperti itu yang mereka inginkan..
.
Awal masuk sekolah, Gani sering sekali datang ke rumah
Shania. Tentu dia yang datang karena dia seorang lelaki dan dia orang normal,
jadi dia harus mengalah dan menerima tugas itu. Tapi seperti kebanyakan orang
bahwa manusia itu adalah makhluk sosial, beberapa hari kemudian, beberapa
minggu kemudian, hingga pertengahan semester dua, Gani pun makin jarang mengunjungi
Shania. Gani tentu mendapatkan teman baru, jadi dia lebih banyak menghabiskan
waktunya bersama teman barunya daripada bersama Shania. Gani yakin Shania juga
seperti itu, tetapi yang dia heran adalah setiap dia datang ke rumah Shania,
entah kebetulan atau tidak, Shania selalu ada di rumah dan sedang belajar. Gani
tidak tau apakah itu kebetulan saja jika Shania sedang belajar, atau Shania yang
kesulitan dalam mencari teman. Gadis itu pun tidak pernah menyinggung tentang
teman barunya, Gani mengerti dan tidak mau menyinggung tentang teman baru
Shania di sekolahnya..
.
Tapi meski menjadi jarang bertemu, sikap mereka pun
berubah. Ya, mereka menjadi lebih aktif dan ‘akrab’ (anggap saja seperti itu)
dari sebelumnya, terlebih lagi Shania. Shania seperti seorang gadis yang
ditinggal pergi jauh kekasihnya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Dan ketika kekasihnya pulang, dia pun melepaskan kerinduannya pada kekasihnya
itu. Gani tidak keberatan tentang perubahan sikap Shania yang bertahap, itu
karena dia juga menikmatinya..
.
Dan karena sikap Shania yang berubah, Gani kembali
seperti awal masuk sekolah yang sering datang mengunjungi Shania. Ya, pertemuan
mereka seperti tidak ada bosannya. Shania pun menjadi sedikit terbuka dengan
menceritakan kehidupannya di sekolah, dan Gani bahagia mengetahui Shania yang
mendapatkan banyak teman meski dia memiliki kekurangan. Alasan dia sering ada
ketika Gani datang memang hanya kebetulan saja karena dia juga sering bermain
bersama temannya, dia juga sebenarnya bingung kenapa bisa seperti itu..~~~~~
.
.
.
~Sesuatu Yang Berharga~
.
.
~~~Author PoV~~~
.
Selama menduduki jenjang pendidikan SMP, Gani sering
mengikuti lomba melukis di sekolahnya, entah antar kelas atau antar sekolah.
Ya, dia benar-benar sudah menjadi murid yang terkenal, terkenal karena
lukisannya yang indah dan memiliki makna tersembunyi. Seperti lukisan seorang
lelaki yang sedang menerjang badai, atau lukisan pemandangan bukit dan mata
hari dimana di puncak bukit itu terdapat seorang wanita yang sedang menunggu
seseorang. Itulah penjelasan dari sang pelukis ketika ditanya ‘lukisan apa
itu?’..
.
***
.
“Anu… Gani? Aku mohon… aku suka kamu, berpacaranlah
denganku!!” Seorang siswi cantik menunduk menyatakan perasaan cintanya pada
Gani sambil mengulurkan sebuah surat dan coklat. Murid biasa, hanya teman
sekelas Gani. Dia cantik, pintar, bisa dikatakan idaman siswa kelas..
.
Gani kebingungan dengan hal semacam ini, dia tidak tau
bagaimana orang berpacaran, tetapi dia belum pernah berpacaran dan tidak ada
niatan untuk berpacaran. Dia ingin membalas kebaikan dan keberanian siswi
cantik itu, tetapi dia bingung bagaimana caranya..
.
“Anu… aku belum pernah pacaran, aku nggak ngerti
pacaran, aku juga nggak minat pacaran. Aku bingung harus gimana, aku nggak mau
kamu sakit hati”
.
“…..” Gadis itu tetap diam. “Ini juga pertama kalinya
buat aku” Akhirnya dia berbicara..
.
“Mmmmhh… gimana, yah? Kalau kamu belum pernah pacaran
juga, ayo pacaran. Aku nggak begitu ngerti, tapi kita jalanin bareng aja”
.
“Benarkah?!!” Gadis itu sepertinya senang dengan
penerimaan Gani. “Kalau gitu, tolong terima surat sama coklat aku!!”
.
“Ehh? Ok, kita makan coklat bareng aja, terus kita
baca suratnya bareng aja”
.
“Ehh? Bareng-bareng? Anu… aku malu…” Gadis itu sangat
manis ketika dia tersipu malu. Hmm, sepertinya Gani tertarik dengan gadis
pemalu itu..
.
“Hah? Kenapa harus malu? Itu ‘kan buatan kamu juga?”
.
“Ya tapi aku maunya cuman kamu doang yang baca
sendiri, nggak ada orang yang denger”
.
“Nggak, pokoknya harus makan coklat bareng sambil baca
surat bareng!!”
.
“Iya deh iya”
.
Ya, pada akhirnya mereka memakan coklatnya bersama
sambil membaca surat dari gadis itu, itu juga karena paksaan Gani. Lelaki itu
memang keras kepala. Sambil tertawa, Gani membaca surat itu, sedangkan gadis
itu hanya tersipu malu ketika Gani tertawa dan menggodanya terus menerus..
.
Dan siapa yang tau jika itu juga akan mengubah hidup
Gani? Murid yang duduk di bangku kelas 3 SMP semester awal berpacaran, belum
cukup umur. Gani melupakan Shania hanya dalam beberapa minggu saja, lelaki itu
mudah sekali terbawa suasana di kehidupan sekitarnya..
.
Tiga minggu setelah Gani berpacaran dengan teman kelasnya,
dia tidak pernah lagi datang ke rumah Shania. Dia seolah dihapus ingatannya
tentang Shania, dan dia tidak menyadari hal itu. Yang dia sadari adalah
‘ternyata berpacaran itu seru dan menyenangkan sekali’, dan itulah yang dia
rasakan dan pikirkan. Sedangkan dia sendiri sudah berpacaran selama tiga bulan,
itu masih sangat sebentar, dan itu hanyalah status ‘pacar’ saja..
.
Sungguh ironis sekali, Shania yang sudah saling
mengenal dengan Gani sejak kelas 4 SD, dikalahkan oleh siswi yang baru saja
masuk kelas yang sama dengan Gani (kenaikan kelas akan selalu ada pengacakan
murid) dan dilupakan hanya dalam beberapa bulan saja. Dan bukan itu masalahnya,
dia mendapatkan masalah yang jauh lebih besar dan belum dia sadari. Masalah
yang berhubungan dengan sosok gadis tuna rungu dan tuna wicara bernama Shania
Junianatha..
.
***
.
“Aku kehabisan cat” Gumam Gani yang baru saja
menghabiskan tetes terakhir cat air berwarna hijau, lalu cat berwarna merah,
dan kuning pun habis. Terpaksa dia harus menunda dulu kegiatan melukisnya, dia
harus menunggu orang tuanya pulang untuk membelikannya cat baru karena dia
tidak punya uang banyak. Dia harus menjaga idenya itu sampai cat airnya datang,
itu karena lukisan yang dia buat ini akan menjadi lukisan terakhir yang dia
persembahkan untuk sekolahnya, dia sudah kelas 3 SMP dan mulai sibuk, juga
siswa tingkat akhir dilarang mengikuti ekskul atau lomba apapun agar fokus pada
mata pelajaran..
.
“Haaaahh… nganggur gini enaknya ngapain, yah?”
Gumamnya sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia lihat ponselnya,
teringat pacar barunya. Tanpa menunggu lama, dia pun langsung mengajak chat
dengan gadis itu, dan pada akhirnya mereka berdua pun asik mengobrol di sosial
media. Dan membuat Gani sedikit lupa tentang inspirasinya..
.
***
.
Perlomban terakhir untuk Gani tiba, dia segera
menyerahkan lukisannya pada guru pembimbingnya. Itu sudah menjadi hal yang
wajar, karena guru pembimbingnya bisa membaca ‘gambar’ atau ‘lukisan’ yang
dibuat oleh muridnya, dia orang yang hebat dan cukup terkenal. Jadi ketika sang
guru berkata ‘Ya’, maka rasa percaya diri murid akan meningkat. Dan lukisan
yang terpilih cenderung akan selalu masuk dalam barisan 5 terbaik entah itu
juara atau tidak..
.
“Maaf sekali, nak Gani. Tapi bapak tidak melihat
‘sesuatu’ pada lukisanmu, sepertinya ada sesuatu yang hilang dalam lukisanmu.
Sayang sekali, kamu tidak bisa mengikuti perlombaan terakhirmu di sekolah ini”
Ujar guru seni sekolah Gani menyesal. “Dalam lukisanmu kali ini, aku tidak
melihat ‘dirimu’ yang selalu ada pada lukisanmu sebelumnya. Bapak akan memilih
lukisan yang jauh lebih baik dari milikmu" Lanjutnya lagi..
.
Sungguh sebuah kekalahan besar bagi Gani selama di
SMP. Baginya, lebih baik kalah di perlombaan dari pada sudah kalah sebelum
perlombaan. Karena semenjak dia masuk sekolah itu, dia selalu mengikuti kontes
melukis. Dia tidak peduli dengan menang atau kalah dalam pertandingan
sesungguhnya, tetapi dia hanya ingin di apresiasi oleh orang lain. Tapi kali
ini keburuntungan tidak berada di pihak Gani, mungkin dia sudah lelah karena
lelaki itu sering menjadi perwakilan sekolah..
.
Dia pulang dengan hati yang hancur, dia tidak pernah
seperti ini karena sejak awal mengajukan, lukisannya langsung diterima oleh
pembimbingnya itu. Ini kejadian pertama kali untuk Gani, lelaki itu down dan
kehilangan pijakan..
.
Sampai di rumah, dia langsung menghancurkan lukisannya
dan mengumpat dirinya sendiri. Beruntung di rumahnya kosong, sehingga dia tidak
akan terkena marah oleh orang tuanya karena berkata kasar..
.
Dia bingung dengan dirinya sendiri, ada sesuatu yang
hilang dan dia tidak tau. Dia segera pergi ke kamarnya untuk mencari sesuatu
yang hilang itu, sesuatu yang membuatnya hancur lebur. Dan dia melihat lukisan
pertamanya pada sebuah kertas putih, sebuah kaligrafi bertuliskan ‘Aku
Mencintaimu’ yang didampingi skestsa seorang lelaki dan wanita yang
bergandengan tangan. Air matanya turun, dia baru menyadari apa yang hilang pada
dirinya. Sesuatu yang membuatnya bisa seperti sekarang, termotivasi, maju, dan
cukup sukses untuk anak seusianya dalam kategori antar sekolah..
.
“SHANIA…!!” Teriaknya yang kemudian mengambil kertas
itu, lalu dia pergi menuju rumah Shania menggunakan sepeda..
.
~
.
Sesampainya di rumah Shania, Gani melihat gadis yang
sekarang baginya sudah semakin cantik itu sedang duduk di teras rumah dari
celah gerbang. Sepertinya dia sedang memandang langit karena sedang
mendongkakan kepalanya ke atas. Gani berhenti sejenak, dia bingung saat ini.
Alasan apa yang harus dia berikan pada Shania setelah lama tidak berkunjung?
Dan sekalinya berkunjung lagi, dia menampilkan wajah ‘kekalahan’ yang
menyedihkan. Dia kepalkan tangannya sendiri untuk menyesali dirinya sendiri,
dan teringat jika dia sedang memegang sebuah kertas penting..
.
Teringat dengan kisah kertas itu, dia segera
melipatnya menjadi sebuah pesawat. Sambil berharap, “Aku mohon, sampailah pada
Shania…!!”. Kemudian dia terbangkan pesawat kertas itu, dan sukses mendarat di
hadapan Shania. Gani melihat Shania berjalan dan mengambil kertas itu, lalu dia
membongkar kertas itu, ekspresi terkejut bisa dilihat oleh Gani dari wajah
Shania..
.
Shania tau kertas apa itu, dia langsung berlari menuju
gerbang rumahnya. Dan pandangan mereka bertemu melalui celah gerbang. Shania
segera membuka pintu gerbang sambil tersenyum. Dia pun memberi isyarat tangan ‘selamat
datang’ pada Gani, Gani pun membalasnya dengan terima kasih..
.
““Shania, maafkan aku yang jarang datang berkunjung
belakangan ini”” Jelas Gani menggunakan bahasa isyarat tangan..
.
““Tidak perlu dipikirkan, lagipula itu semua keputusanmu.
Aku tidak punya kewajiban untuk memaksamu datang mengunjungiku””
.
““Tapi, mungkin kamu menjadi kesepian””
.
““Sedikit. Lagipula aku juga memiliki teman sekolah, jadi
tidak jarang juga aku menghabiskan waktu bersama mereka. Oh ya, ayo masuk!!””
.
““Ya, kamu benar. Terima kasih””
.
Mereka berdua pun masuk dan duduk di ruang tamu. Gani
merasa ada yang berbeda pada Shania, alat bantu dengar..
.
““Apakah alat bantu dengarmu baru?””
.
““Ya, yang lama rusak, jadi ibuku membelikannya yang
baru””
.
““Kenapa bisa sampai rusak?””
.
““Ada segerombolan murid sekolah yang jahil padaku dan
merusak alat bantu dengarku satu bulan yang lalu””
.
“APA?!! ADA ANAK YANG JAHIL KE KAMU?!!” Teriak Gani
cepat. Bodohnya Gani yang baru mengetahui hal itu. Tentu saja, dia menjadi
lebih senang dengan statusnya yang sudah memiliki ‘kekasih’. Gani tentu saja
marah pada murid itu, dia ingin menghajarnya tentunya. Tetapi Shania
menjelaskan jika mereka sudah terkena hukum oleh sekolah, mereka diskors selama
dua minggu karena perbuatannya itu..
.
“Hah, aku sedikit lega kalau mereka diskors. Tapi
tetep aja aku pingin hajar mereka!!” Ketus Gani..
.
““Kamu tidak perlu ikut campur, aku tidak ingin kamu
terkena masalah pribadiku dan membuatmu repot””
.
“Yah, kamu emang bener”
.
““Jadi, bagaimana dengan lomba terakhirmu di SMP?””
.
“Ehh? Kamu tau?”
.
““Tentu saja, sekolahku juga ikut lomba. Teman kelasku
ada yang berhasil membuat pembimbing guru seni takjub dan berhasil mendaftarkan
dirinya. Bagaimana denganmu?””
.
“Itu, aku udah kalah duluan. Lukisan aku nggak
diterima sama pembimbing aku”
.
““Kenapa bisa?””
.
“Yah, kayaknya beberapa waktu ke belakang… aku
kehilangan sentuhan aku”
.
““Kamu sibuk?””
.
“Nggak juga, cuman… yah, aku punya pacar, aku asik
sendiri, aku jadi ‘tumpul””
.
““Kamu punya pacar?”” Shania bertanya dengan menunjukan
wajah sedih. Ya, mungkin dia tidak rela Gani berpacaran dengan orang lain,
tetapi dia juga tidak ingin Gani berpacaran dengannya. Mungkin untuk saat ini
karena mereka masih sangat muda dan belum seharusnya mengetahui dunia dalam
berpacaran. Walau mereka sudah tau apa itu cinta secara dasar..
.
“…..” Gani terdiam. Dia tau jika perkataannya itu
salah, tetapi dia juga tidak mau menyembunyikannya dari Shania. Bukan maksud
sombong, tapi Gani juga ingin menjelaskan sesuatu pada gadis cantik itu..
.
Baru dia sadari jika hilangnya ‘dirinya’ dalam
lukisannya sendiri adalah karena hilangnya Shania. Ya, mungkin ini terlalu
berlebihan dan mengada-ada untuk bocah lelaki itu. Tapi, bagi bocah berumur 15
tahun itu, satu-satunya inspirasi adalah karena kehadiran Shania. Tanpa sosok
Shania, tanpa dia sadari kemampuannya dalam melukis akan menurun. Janjinya
bersama Shania di masa depan adalah tujuannya, dia seakan dikutuk tidak akan
berhasil jika tidak mengingat Shania, orang yang memberinya inspirasi baru..
.
“Ternyata pacaran itu bikin muak, tau”
.
“!!!??”
.
“Iya, bikin muak. Aku nggak mau pacaran lagi, nanti
aku putusin aja pacar aku. Kalau mau nikah, langsung lamar aja, nggak perlu ada
pacaran segala”
.
““Jadi, kalau ada wanita yang mengajakmu berpacaran,
kamu akan menolaknya?””
.
“Iya, aku tolak aja langsung. Aku kasih kesempatan
buat saling kenal tanpa pacaran, terus aku lamar aja. Kalau belum cukup umur, ya
tunggu sampe cukup umur. Soalnya kalau nggak gitu, kemampuan melukis aku pasti
turun lagi kayak sekarang” Jelas Gani kesal. Yah, entah itu hanya bualan atau
dia memang ingin melakukannya. Tapi apa yang dia alami memang seperti itu, dia
gagal lolos seleksi dari pembimbingnya, dan pembimbingnya lebih memilih memilih
lukisan murid lain..
.
“…..” Gadis itu terdiam. Dia tenggelam dalam
pikirannya, itu menyangkut ucapan Gani dan perasaannya pada Gani. Mungkin di
waktu yang akan datang dia akan menyatakan cintanya pada Gani, entah itu
ditolak atau tidak, dia akan menerimanya dan tetap menjaga erat-erat
hubungannya dengan Gani..
.
Pada akhirnya mereka pun kembali menghabiskan waktu
berdua, Gani terkejut ketika Shania memiliki satu set alat lukis yang lengkap
di kamarnya. Mulai dari kanvas hingga kuas cat yang beragam ukurannya. Apalagi
Shania memberi kesempatan pada Gani untuk melukis pada kanvas miliknya,
alasannya agar dia bisa mengingat siapa orang yang penting di hidupnya. Gani
tentu saja bahagia, dia akan mempersembahkan lukisan terbaiknya untuk Shania..
.
““Jadi, bagaimana? Lukisan apa yang akan kamu berikan
untukku? Apakah kamu akan melakukannya?”” Tanya Shania menggunakan bahasa
isyarat. Gani pun membalasnya dengan bahasa isyarat..
.
““Tentu saja tidak akan aku lakukan. Kemampuanku masih
belum cukup untuk melukiskannya pada sebuah kanvas bersih ini. Lagipula, apa
kamu tidak ingat syarat untuk melakukannya?””
.
Shania tersenyum senang, ““Tentu saja aku ingat, aku
hanya mengetes ingatanmu saja, Gani”” Balas Shania. Dan Gani pun mulai melukis,
dia akan keluarkan seluruh kemampuan terbaiknya yang sudah dia asah hingga
detik ini, dia akan mempersembahkannya untuk Shania..
.
Dia menyelesaikan lukisan itu dalam waktu 4 hari,
cukup cepat baginya karena biasanya dia bisa menghabiskan waktu satu minggu
lamanya dalam menyelesaikan sebuah lukisan. Tapi hasilnya benar-benar membuat
Gani puas, dia merasa ini adalah lukisan yang terbaik yang pernah dia buat (dia
selalu berpikir lukisan terbaru yang dia buat adalah lukisan terbaik). Shania
pun memasang lukisan itu di ruang keluarganya..
.
““Selesai, bagaimana menurutmu?””
.
““Menurutku? Tentu saja itu bagus sekali karena
lukisanku. Seharusnya aku yang bertanya padamu, Shania””
.
Shania pun tertawa kecil, ““Maaf. Tapi, memang bagus
sekali. Terima kasih banyak””
.
““Ya, terima kasih juga karena sudah mau percaya
padaku. Kalau begitu, aku pulang dulu. Aku ingin melanjutkan lukisanku yang
sempat aku tinggal karena melukis untukmu”” Jelas Gani. Mereka pun berjalan
keluar rumah, tapi Shania langsung menggenggam tangan Gani dan menghentikan
langkah Gani. ““Ada apa?”” Tanyanya dengan bahasa isyarat..
.
“…..” Shania terdiam. Dia ingin mengungkapkan apa yang
ada di hatinya, tetapi dia terlalu takut karena ucapan Gani dulu tentang orang
yang akan dia tolak jika ada wanita yang menyatakan cinta padanya. ““Hati-hati
di jalan”” Balas Shania yang pada akhirnya tidak berani untuk memberitahu
perasaannya pada Gani..
.
““Ya, aku akan hati-hati”” Balas Gani sambil tersenyum
lebar. Dia pun berjalan menuju motornya..
.
“A-Aw-wuu swuu-waa awu-mwuuu!!” Teriak Shania tidak
jelas. (Aku suka kamu). Itu adalah sebuah kejutan untuk Gani. Tentu saja sangat
mengejutkan karena dia tidak pernah mendengar Shania berbicara langsung kecuali
gumaman saat dia berbicara menggunakan bahasa isyarat. Dia melihat Shania
terengah-engah karena mengeluarkan seluruh tenaganya untuk berteriak lalu dia
tersenyum senang pada Gani, lelaki itu pun membalas senyuman Shania dengan
senyuman..
.
“Hehehe… Ya, aku juga suka labu” Dan itulah yang lelaki
itu jawab. Shania pun terkejut dengan balasan Gani, dia menerima perasaannya
dengan senang. Shania pun langsung melambaikan tangannya kuat-kuat ketika Gani
pergi menggunakan motornya..
.
Sungguh kesalah pahaman sudah mereka lakukan. Gani
mendengar Shania berkata ‘aku suka labu’, sedangkan yang sebenarnya ‘aku suka
kamu’. Dan Shania yang tidak terlalu jelas melihat gerakan lidah Gani,
menganggap Gani membalas perasaannya juga dengan mengatakan ‘ya, aku juga suka kamu’.
Dan sepertinya kisah mereka akan kembali dipenuhi warna baru karena kesalah
pahaman itu..~~~~~
.
.
.
~Aku Akan Menjagamu~
.
.
~~~Author PoV~~~
.
Gani dan Shania tersenyum lebar sambil mengaitkan jari
kelingking mereka, mereka sedang bahagia. Tentu saja, mereka melanjutkan
pendidikan ke sekolah yang sama. Kali ini tidak akan ada yang bisa memisahkan
mereka, persahabatan yang sudah lama terjalin tidak akan mudah hancur meski
dengan orang baru yang jauh lebih unik atau lebih baik. Kepercayaan mereka
sudah hampir mencapai maksimal..
.
Kembali seperti ketika berada di SD, di SMA pun Shania
mendapatkan ejekan dari beberapa temannya. Sungguh murid yang tidak mempunyai
rasa malu dan tatakrama sedikit pun, murid seperti itu tidak pantas di
sekolahkan. Tapi Shania enggan memberitahukannya pada Gani atau pada guru, dia
tidak ingin murid yang mengejeknya itu terkena skors karena dirinya. Hmm, dia
gadis yang terlampau baik. Kebaikan yang dia lakukan, justru berbalik menjadi
senjata yang mematikan untuknya. Sikapnya yang terlalu tertutup itu benar-benar
bisa membuat gadis itu berada dalam bahaya, tentu saja temannya yang mengetahui
jika mereka tidak mendapatkan masalah karena menjahili Shania, akan tetap
melanjutkan aktifitas tidak terpuji itu..
.
Sampai akhirnya Gani mengetahuinya, dia melihat Shania
yang sedang dijahili oleh murid laki-laki dan perempuan. Melihat kejadian
seperti saat mereka SD, Gani kembali melakukan hal yang sama pada mereka, yaitu
berkelahi dengan para murid laki-laki..
.
Pada akhirnya dia juga mendapatkan skors walau tidak
separah murid yang menjahili Shania, tentu Shania juga merasa bersalah karena
sudah melibatkan Gani dalam masalah pribadinya..
.
““Kenapa kamu membantuku?””
.
“Hah? Kamu ngapain nanya pertanyaan bodoh kayak gitu,
Shan? Ya udah jelas, lah. Kamu emang cewek yang harus aku lindingi, Shan.
Dasar!! Kalau mereka kayak gitu lagi ke kamu, aku bakalan hajar mereka
habis-habisan sampai babak belur!! Kalau bisa, aku datengi juga orang tua
mereka biar bisa aku ceramahi!!” Ketus Gani..
.
““Kalau kamu kena masalah gara-gara aku lagi, kamu---””
.
“Nggak peduli, Shan!!” Potong Gani cepat. “Selama kamu
baik-baik aja, biar aku yang tanggung semua masalah kamu. Lagian, mereka itu
nggak pantas sekolah. Mereka pantasnya jadi preman aja, pemulung kalau bisa.
Dasar murid yang nggak punya tatakrama!!”
.
Shania baru melihat Gani semarah itu karena orang yang
menjahili dirinya. Bahkan ketika dulu pun Gani tidak seperti ini, mungkin
karena belum tau banyak tentang sebuah masalah dan tatakrama. Tapi mereka sudah
duduk di bangku kelas 10, mereka sudah bisa menentukan mana baik dan buruk.
Jadi, wajar saja jika Gani semarah itu ketika melihat gadis yang dia lindungi
(Gani mengaggapnya seperti itu) dijahili atau bahkan dicelakakan oleh orang
lain..
.
***
.
““Shania? Mungkin untuk beberapa waktu ke depan, aku
akan sedikit sibuk karena kegiatanku dalam melukis. Jadi, maafkan aku jika aku
lama membalas pesanmu””
.
““Memangnya kamu akan mengikuti lomba? Kenapa aku
tidak mendengar pengumuman?””
.
““Bukan lomba, hanya sebuah permintaan saja””
.
““Baiklah, aku mengerti. Berjuanglah agar lukisanmu
menjadi beli indah lagi””
.
Dan benar saja perkataan Gani, dia yang dari awal
sekolah hingga mereka duduk di bangku kelas 11 semester akhir selalu mengantar
Shania sampai rumah dan bermain terlebih dulu di rumah Shania, sekarang sudah
tidak dia lakukan. Shania penasaran lukisan apa yang akan dibuat Gani, tetapi
dia ingin sebuah kejutan yang mungkin diberikan oleh Gani. Tentu dia akan
menunggunya dengan sangar sabar..
.
“HAH?!!” Teriak Gani terkejut. Apa yang dia alami
sekarang adalah untuk pertama kalinya, dan itu terjadi secara tidak sadar. “Dan
baru kali aku kehabisan semua cat air sama kanvas. Emangnya seberapa fokus aku
sampai aku nggak sadar kalau semua cat air sama kanvas habis? Mana nggak ada
uang, padahal sekarang lagi semangat-semangatnya, terus tinggal 10 persen lagi
lukisannya selesai” Keluh Gani..
.
Tidak mau menunggu kepulangan orang tuanya, dia pun
segera pergi ke rumah Shania untuk meminjam dan memakai cat air milik Shania.
Lagipula dia yakin jika Shania tidak akan menggunakannya, kalaupun
menggunakannya pun tidak akan banyak. Tapi ketika sampai di sana, gadis cantik
itu memberitahu jika cat air dan kanvasnya pun habis. Sungguh hari yang sial
bagi Gani..
.
““Pakailah uangku. Sepertinya lukisan itu sangat
penting dan perlu diprioritaskan””
.
““Benarkah? Terima kasih banyak””
.
Gani pun segera membeli perlengkapan menggunakan uang
Shania dan segera melukis kembali agar semangatnya tidak menghilang. Masalah
selesai, hanya tinggal menunggu beberapa jam lagi agar lukisannya selesai..
.
Empat jam kemudian, lukisan pun selesai 100 persen.
Gani sangat puas dengan karyanya itu. Tentu saja, lukisan yang dia buat
sangatlah besar, terdiri dari empat kanvas yang nantinya akan digabungkan
sehingga menampilkan lukisan yang sesungguhnya..
.
~
.
Dua hari kemudian, Gani pun membawa lukisannya itu ke
sekolah dan menampilkannya ketika upacara. Ternyata lukisannya itu adalah gambar
sekolahnya. Beberapa hari yang lalu, Gani diminta langsung oleh kepala sekolah
untuk melukis sekolahnya pada empat kanvas yang nantinya akan digabung. Tentu
itu sebuah penghormatan besar untuk Gani, apalagi rencananya lukisan Gani akan
dipajang di museum. Museum itu meminta beberapa sekolah untuk memberikan sebuah
lukisan dari sekolahnya yang besar, dan Gani adalah salah satu orang beruntung
yang bisa mempersembahkan karyanya pada masyarakat luas..
.
““Kamu berhasil. Aku sangat kagum sekali denganmu,
Gani””
.
“Ya, aku juga bangga sama diri aku sendiri. Lagian,
aku juga dapet semangat dari kamu, Shan. Aku bukannya muji, tapi itu emang
fakta”
.
““Terima kasih banyak karena sudah mau peduli padaku””
Gadis itu benar-benar bahagia bisa berada di sisi Gani. ““Kamu tau? Pesawat
kertas itu seperti benang merah, membawa takdir dan mengikatnya. Andai saja
saat itu temanmu tidak jahil dengan membuat pesawat kertas dan menerbangkannya
keluar kelas, mungkin kita tidak akan saling mengenal seperti ini dan membuat
janji saat itu”” Lanjut Shania..
.
““Ya, kamu benar, Shania. Setidaknya aku harus
berterima kasih pada temanku itu karena berkatnya aku bisa bertemu denganmu””
Kali ini Gani membalas menggunakan bahasa isyarat agar Shania menjadi lebih
senang. Tentu saja, tidak semua orang bisa menggunakan bahasa isyarat tangan.
Gani menjadi orang yang spesial bagi Shania, begitu juga sebaliknya. Takdir
benang merah yang banyak dibicarakan orang, mereka menggunakan pesawat kertas
untuk mengantarkan takdir yang mempertemukan mereka. Pesawat kertas yang tidak
biasa bagi mereka..
.
““Tapi, aku rasa pesawat kertas yang---””
.
“SHAN?!! HIDUNGMU BERDARAH!!” Teriak Gani tiba-tiba.
Shania yang membaca gerakan bibir Gani pun langsung menyentuh lubang hidungnya,
basah. Dia lihat jarinya yang berwarna merah, itu adalah darah. Tidak lama
kemudian, Shania pun jatuh pingsan..
.
“SHANIA?!! SHANIAAAA!!”
.
~
.
Gani menatap pesawat kertasnya, lalu dia terbangkan ke
arah Shania yang sedang duduk sendirian di taman, dan pesawat itu mendarat
tepat di atas paha Shania. Gadis cantik itu tersenyum senang ketika melihat
pesawat kertas yang sudah tidak asing lagi. Gani berjalan mendekat, di saat
yang bersamaan pun Shania mendongkakkan kepalanya untuk menatap Gani yang
berada di atasnya..
.
““Bagaimana kabarmu?””
.
““Ya, membaik setelah pesawat kertas ini mendarat di
atasku””
.
““Syukurlah kalau begitu. Aku sudah mendengar semuanya
dari orang tuamu”” Jelas Gani sedih. Melihat Gani sedih, tentu saja Shania pun
akan ikut sedih. Dia mengisyaratkan Gani untuk tidak sedih, seketika Gani pun
berhenti bersedih..
.
““Ya, kamu tau sendiri dari orang tua aku. Orang yang
mempunyai kelainan sepertiku, cenderung memiliki tubuh yang lemah. Hal ini biasa
dialami bagi orang yang menderita kelainan sepertiku, jadi kamu tidak perlu
khawatir. Kakiku lumpuh, tidak akan mengurangi semangatku untuk menjadi guru
bagi orang yang menderita kelainan sepertiku””
.
Gani benar-benar senang dengan semangat Shania yang tidak
pernah padam. Gadis cantik itu benar-benar spesial untuknya. Seperti kata
pepatah, ‘kekuranganmu adalah kelebihanmu’. Hal itu berlaku untuk Shania, Gani
tau itu. Dia semakin tidak sabar untuk segera menepati janjinya bersama Shania
di masa depan, sebuah janji yang sangat hebat bagi mereka..
.
“Tenang aja, aku pasti bakalan jaga kamu sampai
kapanpun. Jadi, kamu nggak perlu takut sendirian” Ucap Gani di belakang
Shania..
.
Shania sedikit mendengar Gani berbicara di belakang
kepalanya, ““Apa kamu baru saja berbicara? Apa yang kamu katakan?”” Tanya
Shania melalui gerakan tangannya..
.
Gani pun segera berjalan ke hadapan Shania, ““Tenang
saja, itu adalah janji untuk diriku sendiri”” Balas Gani..
.
Ketika perawat Shania datang, Gani pun meminta agar
dia yang menjaga Shania. Dia pun mendorong kursi roda dan membantunya
berkeliling taman rumah sakit yang luas itu. Banyak pasien yang juga memakai
kursi roda, dia senang karena melihat para pasien itu tidak murung dan larut
dalam kesedihan. Shania juga tidak merasakan kesepian jika ada Gani di
dekatnya..
.
Gani berhenti di depan kolam air mancur, di dalamnya
terdapat ikan koi yang cukup banyak. Itu bisa membuat Shania bertambah tenang
dan rileks..
.
Gani mencolek pipi Shania, gadis itu pun langsung
menghadap Gani..
.
‘TUK..’
.
“Kya!!” Shania berteriak kecil ketika dahinya
dicentang pelan oleh Gani. ““Kenapa?”” Tanya Shania sambil memasang wajah
cemberut..
.
Gani pun hanya tersenyum lebar, ““Tidak apa, aku hanya
ingin mencentang dahimu yang lebar itu”” Jelas Gani. Sepertinya dia ingin
sedikit menjahili Shania. Semenjak Shania jatuh pingsan tiga hari yang lalu,
Gani tidak menjahili Shania. Lelaki itu benar-benar gemas dengan Shania yang
mulai berubah entah itu sifatnya atau pun tubuhnya. Sebagai lelaki normal,
tentu saja dia tergoda melihat tubuh Shania yang tumbuh dengan cukup cepat. Dia
mengikuti pertumbuhan Shania sejak kelas 4 SD, itu membuatnya seperti menjadi
orang yang beruntung..~~~~~
.
.
.
~Waktu, Dewasa, dan Janji~
.
.
~~~Author PoV~~~
.
““Ternyata kita sudah dewasa, aku akan melanjutkan
kuliah””
.
““Delapan tahun bukan waktu yang sebentar, tetapi kita
menjalaninya seperti sebentar. Aku tidak menyangka kita sudah saling mengenal
selama delapan tahun. Karir pendidikanmu masih terus berlanjut, tidak untukku
yang sulit atau bahkan tidak mungkin untuk melanjutkan pendidikan””
.
““Ya, tapi aku yakin jika kamu masih bertekad untuk
menjadi seorang guru untuk penderita kelainan, jalan dan peluang pasti akan
terbuka lebar””
.
““Aku rasa jika aku terus berada di sampingmu, aku akan
bisa””
.
““Sayangnya itu tidak akan terjadi, Shania””
.
“?????”
.
““Aku berniat melanjutkan pendidikan ke Yogyakarta,
aku yakin di sana aku bisa mengasah kemampuanku lebih baik lagi karena budaya
di sana masih sangat kental, terlebih lagi seniman””
.
““Kamu tidak melanjutkan pendidikan di Bandung?””
Tanya Shania terkejut. Tentu saja, itu berarti dia akan jauh dari Gani antara
4-5 tahun mendatang, dan itu pun belum pasti. Karena bisa jauh lebih lama, atau
mungkin lebih cepat..
.
Gani tersenyum dan menggelengkan kepala, ““Maaf, yah?
Tapi tenang saja, aku akan pulang setiap ada libur semester. Jadi, tunggu aku 5
tahun lagi, ok?”” Jelas Gani. Dia mengulurkan jari kelingkingnya agar Shania
mengaitkan jari kelingkingnya juga, dia kembali membuat janji dengan Shania.
Shania tentu sedih karena berada jauh dari Gani, tetapi dia tau jika itu untuk
kebaikan Gani, dan Shania tidak berhak untuk melarangnya..
.
Gadis itu tersenyum menerima keputusan Gani. Jika Gani
seperti itu, berarti dia harus menjadi wanita yang lebih baik lagi dari
sekarang. Dia akan berjuang agar cita-citanya sebagai guru bisa tercapai meski
kondisi tubuh membuat kemungkinannya semakin kecil. ““Akan aku tunggu 5 tahun
lagi”” Jelasnya yang kemudian mengaitkan jari kelingkingnya. Janji kembali mereka
buat..
.
.
### 8 Tahun Kemudian ###
.
.
~~~Author PoV~~~
.
Sudah 4 tahun lamanya sejak Shania bertemu Gani.
Terakhir mereka bertemu ketika Gani mengajak Shania untuk menemaninya wisuda
kelulusan, setelahnya lelaki itu berniat untuk melanjutkan pendidikannya lagi
di luar negeri. Dalam hati Shania tentu saja keberatan, karena itu tidak sesuai
dengan janji mereka. Tetapi dia pun pasrah karena dia tau jika dia tidak bisa
menghentikan keinginan Gani. Lelaki itu melanjutkan studi S2 di Inggris dan
menetap di sana selama 4 tahun..
.
Sedangkan untuk Shania sendiri, dia sudah menjadi guru
4 tahun yang lalu. Dia sudah menjadi seorang yang diandalkan dan cukup
terkenal, dia sering diundang oleh televisi swasta sebagai seorang motivator.
Dan di setiap ceritanya, dia selalu menyebutkan jika dia juga mendapatkan
motivasi dari seseorang, tapi dia tidak pernah menyebutkan nama Gani. Itu
rahasia baginya, walau Gani sempat protes karena dia ingin terkenal di
Indonesia sebagai motivator dari seorang motivator..
.
Mereka berdua sudah berubah menjadi orang yang
penting. Gani yang dari awal termasuk murid yang tidak pintar, tetapi sekarang
sedang melanjutkan studi di luar negeri. Sedangkan Shania yang selalu
dikucilkan dan diejek teman sekolahnya, sekarang menjadi motivator. Yah, usaha
keras memang tidak akan pernah mengkhianati. Ada kala mereka jatuh, ada kala
mereka bangkit kembali. Seperti itulah kehidupan, penuh tantangan dan misteri..
.
***
.
Pandangan Gani dan Shania bertemu, mereka berada di
halaman rumah Shania. Gani datang dengan memakai jas dan sudah terlihat lebih
dewasa, tas yang dia genggam disimpan di bawahnya. Lalu dia mengambil sebuah
kertas, kertas penting yang sudah berumur cukup tua untuk sebuah kertas. Kertas
yang membuat pertemuan mereka terjadi ketika duduk di bangku kelas 4 SD, dia
kembali melipat kertas itu menjadi sebuah pesawat. Setelah itu, dia
menerbangkannya ke arah Shania, dan kembali mendarat di atas paha Shania. Tapi
di bawahnya ternyata ada sebuah buku kecil yang sudah cukup usang, buku itu
juga menjadi saksi tentang perjalanan hidup mereka berdua. Sepertinya sebentar
lagi akan ada sesuatu yang indah dan romantis..
.
““Selamat datang, Gani””
.
““Ya, aku pulang””
.
Gani mendekati Shania dan memeluknya, pelukan hangat
dan nyaman. Pelukan yang melepaskan kerinduan mereka selama 4 tahun lamanya.
Suasana romantis tercipta di sekitar mereka, Shania menyukainya. Saat terakhir,
dahi dan hidung mereka saling bertemu, mereka saling mengaitkan tangan, tetapi
tidak ada ciuman pada momen romantis itu. Padahal kebanyakan orang, entah itu
dalam kehidupan nyata, cerita, atau film, selalu ciuman akan dilakukan jika
posisi mereka sama seperti posisi Gani dan Shania..
.
Shania mengambil inisiatif, dia ingin memberikan
ciuman pertamanya pada Gani. Dia menjadi agresif. Tapi Gani menahan bibir
Shania menggunakan telunjuknya..
.
“Belum saatnya, jagalah untuk yang terbaik” Ucap Gani
tepat di depan mata Shania. Gadis itu bisa membaca gerakan bibir Gani dengan
mudah, dia tau maksudnya..
.
Gani kembali merogoh saku kemejanya, kemudian kembali
mengaitkan tangannya dengan tangan Shania. Jari Shania terasa sedikit dingin,
tepatnya pada jari manis. Dia mengambil jarak antara wajah Gani untuk melihat
perubahan suhu yang tiba-tiba itu, ada cincin perak yang menghiasi jarinya
dengan jari Gani..
.
Shania yang terkejut langsung reflek mengambil jarak
yang cukup jauh, Gani tersenyum melihat reaksi Shania..
.
““Kenapa?”” Tanya Gani sambil tersenyum, sedangkan
Shania masih tetap menatap jari manisnya yang dihiasi cincin. Itu artinya, Gani
melamarnya..
.
Air mata kebahagian mengalir membasahi pipi Shania,
dan menetes mengenai pesawat kertas di atas pahanya. Itu adalah pengalaman
paling indah untuk Shania, dia mendapatkan kejutan terbaik, dan dia sangat
yakin jika tidak lama lagi dia akan segera mendapatkan kejutan yang lebih indah
lagi dari sebuah lamaran, dan lebih indah lagi yaitu pernikahan, dan lebih
indah lagi yaitu malam pertama, dan lebih indah lagi yaitu kehamilan, dan lebih
indah lagi yaitu menjadi seorang ibu, dan lebih indah lagi menjadi seorang
nenek, dan yang terakhir adalah menghabiskan sisa waktunya bersama keluarganya.
Ternyata dia sudah berpikir jauh tentang kelanjutan hidupnya, padahal lamaran
ini bisa dikatakan tahap pertama untuk mencapai akhir dari kebahagian yang dia
targetkan. Ya, semua orang bebas berkhayal atau mengekspresikan dirinya selama
tidak menganggu ketertiban umum..
.
““Kamu kenapa? Jangan bahagia dulu, ini baru 50
persen. Kamu tidak ingat sisanya?”” Tanya Gani gemas. Shania menyadarinya
ketika melihat buku kecil itu, lalu dia menyeka air matanya itu..
.
““Iya, aku tau. Dasar. Jangan merusak suasana hati
seorang wanita”” Jelas Shania sambil tersenyum lebar..
.
““Bagaimana? Sudah kamu siapkan?””
.
““Tentu saja, semuanya selalu siap dalam 4 tahun ini.
Kamu tidak perlu khawatir, Gani””
.
Gani mendorong kursi roda Shania masuk ke dalam rumah,
lalu mereka menuju kamar Shania. Setelah masuk, terlihat berbagai macam
peralatan melukis yang sangat lengkap. Gani akan membuat lukisan baru, lukisan
yang akan menjadi yang terbaik meski dibandingkan dengan lukisan yang sudah dia
buat sebelum atau sesudah lukisan ini..
.
Gani memangku Shania menuju kursi, tidak lupa juga
sebuah buku kecil dan juga pesawat kertas dibawa oleh Shania. Gani mendudukan
Shania pada kursi, kemudian mengaturnya agar posisinya pas, lalu dia berikan
buku kecil itu pada Shania dan meletakan pesawat itu di atas Shania. Selesai,
model dari karya yang dia idamkan sudah siap, sekarang tinggal proses
pengerjaannya saja..
.
Cat air, kuas, kanvas, dan wadah cat saja yang dia
butuhkan. Dia berniat untuk melukis tanpa membuat kesalahan dan menjunjung
tinggi detil dari tubuh Shania. Dia ingin hasil yang terbaik untuk lukisan
itu..
.
““Meski ini cukup sulit, tapi tetap membutuhkan waktu
yang sangat lama. Tapi tenang saja, aku sudah profesional. Mungkin 5 jam akan
selesai. Bisa kamu tahan, ‘kan?””
.
““Kamu pikir aku siapa? Sudah bertahun-tahun aku duduk
di kursi roda, duduk 5 jam bagiku sangatlah cepat””
.
““Baiklah, akan aku kerahkan seluruh kemampuanku. Ini
akan menjadi karya terbaikku meski disandingkan dengan karyaku yang lain””
.
~
.
““Hobiku
membaca, itu untuk menambah pengetahuanku dalam membaca gerakan bibir sambil
memperagakannya walau tanpa suara. Dan cita-citaku menjadi guru, aku ingin
mengajar bagi orang-orang yang mengalami kekurangan sepertiku agar mereka tidak
putus asa J “”
.
“Itu
cita-cita mulia, jadi guru. Tapi aku yakin kamu pasti bisa”
.
““Terima
kasih banyak ^_^ “” Balas Shania yang terus tersenyum sambil menunjukan catatan
kecilnya. Senyuman itu, Gani merasakan hal yang sangat menyenangkan ketika
melihat senyuman Shania. Seolah dia sedang melihat sebuah pemandangan yang
sangat indah dari atas bukit. Senyuman itu, Gani ingin melukisnya bersama wajah
yang menampung senyuman itu, bersama kepala yang menerima wajah itu, bersama
tubuh yang menyangga kepala itu. Dia sangat ingin melukis Shania yang tersenyum
secara total..
.
“Pinjam
sebentar!!” Ujar Gani sambil merebut catatan Shania tanpa seizin Shania. Lalu
dia menunjukan sebuah tulisan pada Shania, dan itu tentu saja membuatnya
terkejut..
.
“Aku
ingin melukismu, dengan senyumanmu dalam lukisanku” Tulis Gani pada buku
Shania. Gadis itu pun mengambil bukunya dan membalas tulisan Gani..
.
“Boleh
saja, dengan senang hati aku akan menerimanya” Balas Shania..
.
“Kalau
begitu, ketika dewasa nanti dan aku sudah menjadi pelukis profesional sedangkan
kamu menjadi seorang guru, aku akan melamarmu. Selanjutnya aku akan melukismu,
bersama senyumanmu dan juga cincin yang menghiasi jarimu. Setelah aku
melukismu, aku akan menikahimu dan kita hidup bahagia. Bagaimana? Kamu mau?”
.
“Ya,
tentu saja aku mau. Berarti kita harus berjanji untuk mencapai semua itu” Balas
Shania. Dan mereka berdua pun saling memberikan senyum terbaik mereka yang
kemudian mereka saling mengaitkan jari kelingking mereka untuk menepati janji
itu, janji yang mereka tulis di buku milik Shania..
.
~
.
Memang itu hanyalah janji bodoh dari dua anak kecil
yang tidak tau kehidupan yang sebenarnya, janji mereka bagaikan angin lewat
saja untuk beberapa orang yang melihat atau mendengar cerita mereka. Tapi apa
yang mereka janjikan sejak saat itu benar-benar mereka berusaha untuk
mencapainya, banyak sekali rintangan yang mereka hadapi dan lalui bersama.
Tapi, siapa yang menyangka jika janji itu akan benar-benar mereka dapatkan?
Mungkin hanya tinggal 10 persen lagi sampai mereka menikah, hanya tinggal
menunggu waktu saja..
.
Lukisan yang ingin Gani buat, yaitu gambar Shania,
itulah yang menjadi targetnya agar bisa menjadi seorang pelukis hebat. Mungkin
ada beberapa orang yang sudah menganggapnya pelukis yang hebat, tapi dia
sendiri belum merasakan hal itu sebelum berhasil melukis Shania dengah sepenuh
hati. Dia akan mengerahkan seluruh jiwa dan perasaanya untuk sebuah lukisan
wanita cantik, pengalamannya selama 4 tahun di luar negeri, dia tuangkan pada
lukisan itu. Seluruh kenangan dan perasaannya bersama Shania terus muncul
selama dia membuat lukisan itu..
.
~
.
.
“‘Bagaimana?’”
.
“‘Tentu saja sangat indah, ternyata kemampuanmu
berkembang sangat jauh dari sebelumnya. Aku mengerti beberapa maksud dari
lukisan ini. Warna langit yang biru dan putih sebagai tanda suci, itu menemani
pesawat kertas yang mempertemukan kita dan sebagai pengantar perasaan kita.
Sedangkan bangunan kecil di belakangku sebagai tempat dimana semua perasaan itu
berkumpul. Sederhana dan umum, tapi bagiku itu sangatlah berarti’”
.
“‘Kalau begitu, sesuai dengan janji, lukisan ini akan
menjadi benda selain cincin untuk melamarmu’” Jelas Gani. Wajah Shania memerah,
dia sangat malu ketika lelaki yang sekarang berlumuran cat itu berkata seperti
itu..
.
Sebelum bertemu Gani, Shania memang pesimis bisa
menikah meski dengan lelaki yang tidak tampan dan mapan. Jangankan menikah, ada
perasaan negatif yang cukup dominan di hati dan pikirannya dimana dia merasa
tidak akan berumur panjang karena kelainannya itu. Tapi dengan kedatangan Gani,
lelaki itu seakan mengangkat ‘kelainan’ dan perasaan negatif yang Shania
miliki. Beberapa waktu setelah Shania mengenal Gani, dia menjadi sangat yakin
untuk melanjutkan hidupnya meski dia berpikir jika umurnya tidak akan panjang
(walau sebenarnya tidak ada yang tau seberapa panjang umur seseorang, baik itu
dirinya sendiri). Dia juga bertekad untuk mencari pasangan hidupnya ketika
janji mereka tidak dapat mereka tepati karena suatu masalah..
.
“Hmm, sepertinya ada yang sedang dimabuk cinta”
.
“Ehh?”
.
“Sayang, sebaiknya kita jangan menganggu mereka.
Hihihi…” Ternyata orang tua Shania muncul dan menggoda Gani dan Shania yang
sedang bersanding di depan lukisan Shania..
.
“‘Ayah? Ibu?’”
.
***
.
Acara lamaran selesai, seluruh keluarga Gani pulang
kecuali Gani itu sendiri. Dia ingin menemani Shania lebih lama lagi, lelaki itu
mengajak gadis yang baru saja dilamarnya berkeliling komplek rumah. Sambil
berkeliling, tentu saja mereka melihat aktifitas para tetangga mulai dari bayi
hingga kakek dan nenek. Shania terkenal di komplek itu, buktinya para anak
kecil langsung mengerumuni Shania. Dan apa yang membuat Gani tambah terkejut
adalah mereka yang bisa menggunakan bahasa isyarat. Hmm, sepertinya Shania
sangat disayang oleh penghuni komplek rumah itu..
.
~
.
“Baiklah kalau gitu, aku mau pulang dulu”
.
“‘Ehh? Mual? Kamu tau kamar mandi, ‘kan?’”
.
“Buset dah, kok jadi ngelantur, sih? Perasaan dulu
nggak kayak gini” Pikir Gani gemas. ““Bukan ‘mual’, tapi pulang””
.
“‘Ehh?’” Shania tersipu malu. “‘Maaf, sepertinya aku
sedang tidak fokus’”
.
“‘Kalau begitu, sampai bertemu lagi’” Ujar Gani yang
langsung berbalik pergi. Tapi Shania langsung menahan baju Gani agar tidak
pergi..
.
“‘Ada apa?’”
.
“Mmmm… A-a-a-whah a-a-wu i-yak eu-wu-wu-wa-an haw ang
e-eng-ing?” Ujar Shania malu-malu sambil menunduk. (Apakah kamu tidak melupakan
hal yang penting?)..
.
“???!!” Gani langsung mengangkat wajah Shania. “‘Ehh?
Apakah harus?’” Tanya Gani. Dia mengerti apa yang dimaksud Shania, tapi dia
belum cukup siap untuk melakukannya. Dia sangat gugup, padahal pernikahan pun
belum mereka lakukan..
.
Shania tidak menjawab dan kembali menunduk, dia hanya
mengeratkan cengkraman pada baju Gani dan mengangguk kecil sambil bergumam.
Gani terdiam, sungguh dia tidak tau apakah harus melakukannya atau tidak.
“I-i-i-ak… a-a-a-wu?” Tanya Shania pelan. (Tidak mau?)..
.
“Huuuuhh… kayaknya nggak ada pilihan lain” Ujar Gani
sambil menghela nafas. “SHANIA!!?” Teriak Gani keras dan tiba-tiba. Shania
mendengar panggilannya dan langsung menghadapkan wajahnya pada Gani. Wajahnya
benar-benar merah dan terasa panas, Gani belum pernah melihat reaksi Shania
seperti itu..
.
Shania menutup mata, bibirnya bergetar, mereka saling
merasakan hembusan nafas karena wajah mereka berdekatan, keringat bercucuran
dari leher Shania, hawa panas terasa oleh mereka. Shania sedikit membuka
bibirnya yang basah dan berwarna merah muda, sungguh menggoda sekali dimata
Gani. Bibir yang belum tersentuh dengan bibir lain (kecuali dengan orang tuanya
tentunya ketika kecil), bibir yang masih suci dan tersegel. Begitu juga Gani
yang belum pernah melakukannya..
.
‘CUP..’
.
.
### 9 Tahun Kemudian ###
.
.
~~~~Author PoV~~~
.
Gani berjalan keluar gudang setelah menemukan barang
berharga yang sudah lama dia cari namun tidak dia temukan, dia menuju teras
rumah depan untuk membersihkannya. Terlihat seorang wanita berumur 33 tahun
duduk di atas kursi roda sambil menggendong bayi perempuan yang berumur 2 tahun,
sedangkan bocah laki-laki berumur 6 tahun sedang asik bermain mobil mainan di
samping kursi roda ibunya. Wanita cantik yang menjaga 2 anaknya itu adalah
Shania Junianatha, dan beruntung karena 2 anaknya itu terlahir normal..
.
“‘Ada apa?’” Tanya Shania penasaran ketika melihat
suaminya lusuh karena berjibaku dengan debu..
.
“‘Aku menemukan harta karun’” Jelas Gani tersenyum yang
kemudian menunjukan buku kecil dan pesawat kertas yang dia temukan. Seketika
senyum Shania langsung mengembang saat Gani menunjukan benda yang memang harta
baginya. Pesawat kertas yang mempertemukan mereka dan perasaan mereka ketika
pertama kali, dan juga buku kecil yang menjadi monumen dimana janji yang mereka
tulis akhirnya tercapai setelah melewati berbagai macam rintangan..~~~~~
.
.
.
Thank you for reading the
story, see you in the other story
Wednesday, November 16, 2016
-
Friday, November 25, 2016

No comments:
Post a Comment